Sabtu, 10 Desember 2011

Movie Review: Temple Grandin

Ini adalah salah satu film yang paling keren selama 21 tahun umur saya. Film ini berjudul Temple Grandin, menceritakan hidup Temple Grandin, seorang wanita dengan autisme yang menjadi salah satu orang sukses di dunia. Film ini cocok untuk mahasiswa fakultas peternakan, psikologi, dan para orang tua yang memiliki anak dengan autisme.



Temple Grandin dilahirkan dengan autisme, dan tidak bisa berbicara hingga umur 4 tahun. Dia tidak menyukai aljabar maupun bahasa, namun dia sangat menyukai sains. Percaya atau tidak, Temple Grandin sekarang adalah seorang  Doktor. Dia berbicara melalui gambar, kemampuan visualnya sangat luar biasa, dia bisa mengingat banyak hal dalam bentuk gambar, dia juga memperhatikan hal-hal kecil, dan juga sangat cerdas.

Suatu hari dia mengunjungi bibinya dan bekerja di peternakannya. Dia melihat sapi yang ketakutan merasa tenang ketika dimasukkan ke cattle crush. Dia pun tertarik hingga saat dia mengalami panik, dia masuk ke dalam alat tersebut dan merasakan ketenangan, karena dia tidak suka bersentuhan dengan orang lain maka dia memilih mesin itu ketimbang dipeluk.

Saat masuk kuliah, dia masuk membuat mesin itu dalam versi ukuran manusia untuk dirinya. Namun pihak sekolah melarang hal tersebut, dan sempat membuangnya. Pihak sekolah mengatakan tidak ada bukti ilmiah mesin itu bisa menenangkan seperti yang Temple rasakan, namun dia berkata dia bisa melakukan penelitian.

Akhirnya dia pun melakukan penelitian dengan metode survey statistik. Dia meminta teman-temannya masuk ke dalam mesin tersebut lalu menanyakan apa yang dirasakan, ada yang merasakan klaustrophobia (ketakutan atas ruang sempit), biasa saja, tenang, hingga sangat. Banyak siswa yang merasakan tenang, hingga dia boleh menyimpan mesin tersebut.

Setelah dia lulus, dia pun bekerja di sebuah peternakan, dia pun akhirnya meneliti tentang sapi, apa yang terjadi dari lenguhan-lenguhan mereka, dan bagaimana mendesain jalur penenang ternak sebelum masuk ke rumah penjagalan. Dia pun menjadikan itu sebagai thesisnya.

Hingga suatu saat tulisannya tentang penelitian di majalah disambut baik, dia mulai menulis banyak artikel tentang peternakan di majalah-majalah. Dia pun mulai tenar, dan berkesempatan mengimplementasikan desain sistemnya. Dan menuai kesuksesan.

Di bagian akhir dia datang ke konferensi autisme, hebatnya Temple Grandin adalah dia bisa mengutarakan perasaan dan pemikirannya sebagai anak autisme kepada audiens yang para orang tua yang memiliki anak dengan autisme. Semua orang pun ingin mendengar hal itu darinya dan meminta dia berbicara di depan.

Ada kalimat bagus yang saya ingat tentang orang dengan autisme: "Different, but not less", yang artinya "berbeda, tapi tidak kurang".

Film ini sangat-sangat bagus, dan mengajarkan kita bahwa yang berbeda pun bisa sukses, kita seharusnya bisa lebih sukses. Itulah anugerah Tuhan. Memberikan yang kita butuhkan.
Tulisan ini pun saya tulis dengan sangat mengalir karena film ini terekam jelas karena sangat fantastis. Outstanding! Sangat disarankan untuk disaksikan. Oh iya, film ini bukan film bioskop, diputarnya di HBO. Mungkin harus nonton online atau download. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar