Selasa, 10 Januari 2012

Buku Cetak vs Buku Digital

Sudah banyak sekali postingan-postingan para blogger-blogger di dunia tentang buku cetak vs buku elektronik. Dan mereka mengungkapkan pandangan masing-masing. Termasuk saya.


Ebook memang praktis, bisa "masuk" flashdisk yang kecil, tidak perlu kertas. Yang katanya menghemat kertas yang harus menebang pohon.

Tapi, buat saya membaca ebook itu sangat tidak nyaman, mungkin karena harus di depan laptop. Berhubung saya tidak punya sejenis ebook reader. Menatap layar laptop itu bukan hal yang menyenangkan, walaupun saya sendiri bisa memakan waktu lama untuk online facebook.

Itulah salah satu alasan saya, kenikmatan membaca buku tercetak itu tidak ada duanya. Memang ebook memberi kemudahan. Kira-kira sama seperti kamera analog vs kamera digital.

Soal go green, buku memang terbuat dari kayu pohon, belum lagi plastik untuk bungkus, juga listrik untuk menghidupkan mesin cetaknya. Solusinya, mungkin seharusnya para penerbit itu menggunakan kertas daur ulang, lalu covernya sudah termasuk laminasi. Lalu untuk menebang pohon, pilih yang sudah tua. Dan solusi lain yang tidak saya ketahui.

Tapi perlu diingat baca ebook bukan berarti nol atau tanpa efek buruk sama sekali. Ebook reader atau laptop atau ipad, pun membutuhkan emisi untuk membuatnya. Belum lagi harus di charge kalau baterainya habis. Solusinya, kata orang yang sudah menggunakan laptop, ipad, dan ebook reader, menggunakan ebook reader jauh lebih nyaman bagi mata ketimbang ipad dan laptop. Solusi untuk emisi manufaktur device tersebut, terapkan ilmu green computing.

membaca buku kertas itu, saat wangi kertasnya tercium, saat suara membalik halamannya terdengar, saat menyelipkan pembatas buku, dan saat mengatur buku di rak buku. Semuanya ada kenikmatannya tersendiri, yang mungkin tidak akan tergantikan oleh ebook.

Buat saya, buku tercetak tidak akan hilang. Dan tidak akan kehilangan pasar, juga akan selalu ada di hati para pecintanya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar