Selasa, 10 Desember 2013

Kuasa Tuhan

Sejauh ini, saya masih percaya segala sesuatu yang terjadi selalu ada hikmahnya. Tuhan punya cara kerja yang luar biasa. Apa yang disangka-sangka manusia ternyata tidak, begitu juga sebaliknya, apa yang tidak disangka-sangka ternyata terjadi. Salah satu yang sering terjadi adalah hikmah yang didapat saat atau setelah terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan manusia. Contohnya kecelakaan, musibah, dan kelalaian.

Pagi tadi saya jadwal ke dokter gigi, dan saya bangun terlambat (setelah subuh tidur lagi). Saya bangun pukul 07.15. Biasanya saya bangun lagi (kalau tidur lagi setelah shubuh) pukul 06.45. Akhirnya, ya sudahlah toh hari Selasa pikirku, sebelumnya hari Jumat ke dokter giginya. Ini kelalaian. Kalau begini, saya jadi berangkat jam delapan lebih, biasanya jam 07.45. Saat sarapan, ibu saya yang di pasar menelepon, minta jemput karena bawaannya berat. Biasanya tidak belanja banyak-banyak. Saya selesaikan sarapan, dan melesat ke pasar. Sepulang dari pasar, saya mandi lalu ke dokter gigi. Dan ternyata, nomor antriannya sama dengan saat ke dokter hari Jumat dan lebih pagi.

Begitulah kuasa Tuhan. Ada rencanaNya, ada eksekusiNya, ada pula hikmah dari setiap kejadian.
Selamat malam.
Bandung.

Selasa, 29 Oktober 2013

Perjalanan Aikido

Tidak terasa tiga tahun sudah sejak saya bergabung dengan Aikido. Tiga tahun memang belum apa-apa, bagaikan setetes air di lautan. Karena aikido itu bisa jadi bagian dari kehidupan yang lebih besar dari sekadar hobi, olahraga, dan beladiri.

Aikido mengantarkan saya kepada keluarga ketiga saya. Total saya punya empat keluarga sekarang. Keluarga asli, keluarga PMR 2008 SMA10 Bandung, keluarga Aikido Al-Islam, dan keluarga Rubel Sahaja.

Selama mengikuti Aikido ini banyak yang saya lalui, senang, sedih, kecewa, lelah, dan lain sebagainya. Senang saat berlatih, sedih dan kecewa saat tampil kurang baik ketika ujian, lelah saat sempat mencapai titik jenuh yang alhamdulillah sudah selamat dan keluar.

Mungkin saya tidak akan mendalami aikido terlalu dalam seperti layaknya O Sensei yang sudah sampai level pencerahan atas perjalanan hidupnya melalui beladiri-beladirinya. Saya sih, nikmati saja, apapun yang terjadi akibat Aikido ini, ya itu memang sudah seharusnya takdir Allah.

Salam Aikido. (kaya gimana tuh?)

Senin, 14 Oktober 2013

Perjalanan Kuliah

S1 itu sebenarnya perjalanan pendek, tapi sangat panjang prosesnya.

Pusing rasanya memikirkan dan menggenjot otak, memeras keringat, membanting tulang, menyelesaikan program skripsi yang tidak kunjung menemui titik cerah. Keinginan meneruskan S2 ke ITB pun saya lupakan dulu, yang biasanya saya cari informasi tentang tes TPA, browsing sana sini, bookmark ini itu, save page, latihan soal di buku tes TPA, semuanya saya lupakan.

Hampir menyerah, tapi saya tau saya tidak mungkin bisa mundur. Di belakang tembok, tapi di depan jurang yang harus dilompati. Ada banyak masalah yang menghalangi. Ada banyak teman-teman yang sudah berhasil melompati jurang, adik kelas pun sudah ada yang lulus.

Bab 5 itu sebenarnya pendek, tapi panjang prosesnya. Laporannya sedikit, tapi programnya yang panjang perjalanannya. Bagi anak Informatika, pasti akan tau bagaimana rasanya. Itupun kalau sesuai keadaan saya. :D

Perjalanan pendek, tapi panjang. Lulus tertunda, impian lulus per 12 Oktober 2013 pun kandas. Berikutnya, pasang target baru.

Minggu, 06 Oktober 2013

Restart

Yooooo tidak ada kata terlambat untuk melakukan restart niat supaya ada gerakan yang nyata.
Sejauh ini tidak ada gerakan sama sekali untuk mencapai impian, sebenarnya ada hanya saja tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya dibantu teman-teman saya bisa berpikir lebih jelas.

Yang saya dapat salah satunya bahwa tidak semua-semua hanya dari yang paling atas.
Insya Allah semoga bisa lancar ke depannya mulai saat ini. Sehingga setidaknya ada salah satu impian yang tercapai.

Senin, 23 September 2013

Kelulusan yang Tertunda

Curhat!

Saat mengukur lagi apa yang sudah dilalui selama bangku kuliah, lima tahun sudah saya mengenyam pendidikan di Universitas Widyatama. Kuliah saya memang terlambat. Semua itu dimulai saat mengambil kerja praktek, awalnya berjalan lancar, bimbingan berjalan lancar, tiga kali sebelum saya "berlibur".
Tiba-tiba saja saya sibuk di "dunia lain". Kerja praktek pun tertunda hingga satu tahun.

Akhirnya KP bisa saya mulai lagi bulan september 2012. Anggap saja mengulang dari awal, kartu bimbingan pun diperpanjang. Tepat enam bulan selesai, dengan sebelas kali bimbingan, hingga presentasi, revisi, dan jilid laporan, yaitu bulan Maret 2013. Akhirnya satu tahap "kecil" selesai.

Berikutnya adalah skripsi. Mei 2013 mengajukan laporan. Beruntung hanya satu kali revisi oleh kepala lab. Bulan Juni 2013, kartu bimbingan sudah ada. Lalu bimbingan pun dimulai. Semangat membara, bimbingan berjalan lancar, dari bab I, bab III, bab IV, sudah fix, bab II sengaja di skip, sudah optimis, bisa wisuda Oktober, dengan progres program 80%.

Awal September, masalah program pun muncul. Program masih belum sesuai harapan. Mencari referensi ke sana sini, melihat buku, internet, paper orang lain, mengirim email ke dosen kampus lain. Masalah belum terpecahkan. Deadline daftar sidang yang kabarnya 16 September, ternyata masih boleh hingga 21 September. Sayangnya, usaha yang dilakukan belum membuahkan hasil. Tercapai sudah deadlinenya, harapan untuk wisuda Oktober pun sirna. Cukup mengesalkan memang. Sedih bercampur kecewa. Hingga tulisan ini dibuat, masalah belum selesai.

Keinginan wisuda Oktober yang sudah menjadi bisul yang diharapkan akan pecah di bulan September, ternyata tidak bisa. Jadilah perasaan gemas pada diri sendiri. Lulus tertunda.

Usaha terus dilakukan, doa terus dipanjatkan, amalan pendamping terus dilaksanakan.
Ya sudah, setidaknya Oktober atau November bisa sidang. Biarlah wisuda Februari.

Karena visi bekerja untuk menabung dan melanjutkan sekolah tetap ada. Aamiin..

Selasa, 20 Agustus 2013

Introvert

Kali ini saya adalah curhat, tentang diri saya. Menurut hasil tes di personalitytest.com pada tes Extroversion, saya mendapatkan hasil 18 dari rata-rata 10.73 (20/8/13), di mana 18 disebut bahwa saya sangat introvert. Menurut analisisnya, introvert adalah sebagai berikut:
Introverts
They are generally quiet and reserved. They like to keep to themselves and are quite happy with their own thoughts and feelings. They do not actively need the company of others, will tend to feel uncomfortable in social situations and are unlikely to actively pursue social gatherings. They will not often feel driven to exchange views with others and often are happiest engaged in solitary activities that do not involve constantly having to interact with people.
In the workplace, introverts are often seen as shy, rather restrained and somewhat distant or aloof. Consequently, they are often overlooked. They are usually good at working on their own or in small groups without needing to rely on outside support and guidance. This is an important asset in many jobs. Where they have good knowledge and expertise, introverts can be just as assertive as extraverts.
Sebenarnya saya sendiri bingung, disebut "quiet and reserved" tergantung situasi dan kondisi, di tempat-tempat baru saya sangatlah diam, tidak bisa berkata-kata, karena memang tidak tahu apa yang harus disampaikan, saya tidak bisa langsung bercanda dengan orang baru. Namun jika sudah lama, seperti di kampus dan tempat latihan Aikido, saya tidaklah pendiam, tapi tetap akan diam saat seharusnya diam misal sedang latihan atau dosen sedang menerangkan.

Kalimat "They like to keep to themselves and are quite happy with their own thoughts and feelings." dan "They will not often feel driven to exchange views with others" hampir benar, seperti sulitnya saya mengungkapkan sesuatu. Kalaupun ingin, itu harus disusun di dalam otak, menyusun topik dan kalimat, lalu dirangkai, lalu baru disampaikan. Itupun kadang-kadang tidak banyak. Terkadang susunan ide saya akan siap dilontarkan saat semua orang selesai dan menganggap saya tidak akan menyampaikan ide apapun, alias terlambat.

Mengambil keputusan spontan agak sulit buat saya, karena saya harus mengerti bagaimana situasinya, dengan detail. Apa yang terjadi, siapa yang terlibat, apa yang harus dituju, apa masalahnya, apa variabel-variabelnya, barulah men-generate solusi-solusi. Dari banyak solusi itupun saya kembali menganalisis, mana yang terbaik. Dan seringkali hal-hal tersebut saya lakukan sendirian di dalam otak. Tapi saya percaya suatu saat pasti bisa dan terbiasa, untuk menyampaikan ide-ide saya kepada orang lain dengan lebih cepat.

Kalimat "feel uncomfortable in social situations" setengah benar, saya tidak suka perkumpulan yang sangat ramai, tapi lebih menyukai berkumpul dengan jumlah grup sedikit hingga agak menengah. Saya lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Terkadang saya sendiri malu untuk meminta tolong, padahal saya cukup membutuhkan. Kadang-kadang menyulitkan, mengungkapkan keinginan pada orang tua sendiri pun sering saya batalkan karena enggan.

Apa benar saya ini introvert? Kalau dilihat dari ciri-cirinya sih memang. Semoga saja menjadi introvert tidak menghambat saya dalam bersosialisasi, menjadi pemimpin, dan kehidupan asmara menjadi suami nanti.

Selasa, 13 Agustus 2013

Curhat

Kali ini saya datang tentang cinta! Kayanya sebelumnya saya belum pernah ngepost tentang cinta deh. :D

Yak baik, kali ini saya sedang jatuh cinta. Dengan beberapa hal, seorang wanita, sebuah benda abstrak bernama sekolah, dan satu spesies binatang bernama kucing.

Oh ya, ada yang bilang cinta itu datangnya dari hati, tapi menurut ilmuwan yang saya baca dari artikel National Geographic Indonesia, http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/cinta-tidak-datang-dari-hati, disebutkan bahwa ada prosesnya:

Dopamin disebar > Serotonin turun > NGF meningkat > Oksitosin & Vasopressin.

(Anehnya di tahap 1 yaitu "Hipotalamus beraksi" (melepaskan dopamin ke seluruh tubuh) disebutkan "saat kita mulai tertarik", nah, gimana kita mulai tertarik, kayanya tetap aja dari hati...!)

Oh ya, intinya cinta itu memang bisa membuat bersemangat (optimis), tapi bisa juga membuat lemas kalo dipikirin yang nggak-nggak (pesimis), misal "gimana kalo begini, gimana kalo begitu".
Padahal pikiran negatif kaya gitu tuh yang bikin orang ga maju-maju. Yaa itu lah yg saya rasakan sekarang.

Sayangnya, yang selalu saya pikirin adalah yang nomer pertama dan kedua, wanita dan sekolah. Gimana kalo dia ga suka sama saya? Gimana kalo saya ga keterima nerusin sekolah?

Sayangnya lagiii, terkadang sulit menemukan pemicu supaya berpikir "kalo cinta kejar dong! usahain! doa! naon we lah!" dan "kalo mau nerusin sekolah cepet lulus, belajar yang giat!". Yah memang otak kita tau kalo mau mengejar cita-cinta memang harus begitu, tapi hati ini nih yang ga maju-maju. :D

Rasanya otak dan hati itu harus dikasih sambungan fiber optik, jadi ketika otak ada keinginan, hati pun kemudian tergerak, kemudian hati mengirimkan blueprint dan flowchart rencana untuk mencapai keinginan, lalu hati pun membuat semangat optimisme. Tapi angger we, hararese eta dina hate.

Pengen maju, tapi ga mau melangkah. Gimana sih!

Selasa, 06 Agustus 2013

Chicken Soup for The Sahaja Soul #2: Para Penjual Minyak Wangi

“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Hadits di atas cukup populer, menggambarkan dan mengingatkan bagaiman pertemanan dapat mempengaruhi diri kita, dan diri kita akan mempengaruhi hidup kita, sehingga pertemanan mempengaruhi hidup kita. Hadits di atas sepertinya bisa dilihat di berbagai segi kehidupan, IPOLEKSOSBUDHANKAM.

Kemarin adalah hari yang menarik, suatu hari sepulangnya saya dari buka bersama keluarga yang jarang berjumpa (kakak) sekaligus merayakan ulang tahun ayah kami, saya lihat ada missed call, dari dua teman relawan, saya sms ada apa, oh ternyata ada relawan lain yang sedang sakit, tidak bisa keluar, belum makan dan minum obat, dan meminta tolong saya untuk membawakannya.

Beruntung ada paracetamol di meja saya, saya langsung ambil dan berangkat ke tempatnya tinggal, dijalan mencari bubur ternyata sulit, yang banyak adalah makanan Padang, ayam bakar dan sejenis, nasi uduk, seafood, dan nasi goreng dan teman-teman. Ah, pusing, saya memutuskan ke minimarket, membeli roti, buah pir, dan susu coklat. Kemudian saya bawa ke kosannya dan menyerahkannya. Beruntungnya lagi, malam itu motor saya bisa diajak mengebut walau rantai sudah longgar dan rawan lepas.

Lalu apa hubungannya dengan hadits pembuka? Oh ya, saya itu sebenarnya orangnya sedikit cuek. Ada teman mendapat masalah? Saya sering berpikir selama dia tidak meminta tolong, berarti dia masih mampu mengatasinya sendiri. Walaupun teman saya yang sakit itu tidak meminta tolong, tapi teman-temannya yang lain yang meminta tolong kepada saya.

Lalu apa yang bisa menggerakkan saya? Yah pertemanan dengan "penjual parfum" tadi, mereka itu adalah sekelompok orang, dan mereka mempunyai tingkat perhatian dan cinta yang tinggi, saya yang tingkat perhatiannya rendah ini, sepertinya terkena "wangi" para penjual parfum itu.

Ada satu nasihat sahabat Nabi SAW, Qatadah bin Nu'man :
“Demi Allah, aku belum pernah melihat seseorang berteman dengan seseorang melainkan ia akan menyerupainya. Maka bertemanlah dengan hamba-hamba Allah yang shalih, agar kamu di golongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka“.
Mungkin satu kesimpulan yang bisa ditarik, Sahaja ini isinya adalah para penjual parfum.

Kamis, 25 Juli 2013

Budaya Baca Tulis di Indonesia

Sepertinya, minat membaca dan menulis di Indonesia kian meningkat beberapa tahun ini.

Di ranah membaca, klub-klub buku mulai bertebaran, komunitas goodreads, klubbuku, estafet buku, dan lain sebagainya, semakin meningkatkan minat membaca, dan para pecinta buku tidak akan merasa kesepian. Selain membaca mereka bisa saling berbagi, berbagi buku, berbagi informasi, dan lain-lain. Cukup sering saya ke toko buku, contoh Gramedia dan Togamas, rasanya setiap saya ke sana selalu saja ada buku baru, dan bertambah lagi buku lama dengan cetakan baru kali ini bertuliskan "best seller".

Di ranah menulis, ,enurut berita di Jakarta Globe, tahun 2009 jumlah blogger di Indonesia sekitar satu juta. Sedangkan pada tahun 2010 meningkat pesat menjadi sekitar 3,2 juta blogger.
Sungguh peningkatan yang luar biasa.

Sedangkan menurut dokumen "Blogging and Socmed Trend in Indonesia" tahun 2011 menyebutkan, jumlah blog di Indonesia sekitar 4,8 juta blog, dan masih terus meningkat.

Begitu juga dengan menulis di ranah cetak, sudah ada beberapa penerbit yang menyediakan layanan self-publishing, layanan dimana para penulis bisa mengunggah naskah mereka tanpa takut ditolak, dicetak menjadi buku, dan dijual. Hal ini semakin meningkatkan budaya menulis dan membaca di warga Indonesia.

Diharapkan, budaya ini terus berkembang, membaca dan menulis adalah hal yang luar biasa. Manfaatnya pasti luar biasa.

Keep reading, do writing!

Minggu, 21 Juli 2013

Diary of Anne Frank

Baru beberapa puluh halaman saya membaca Diary of Anne Frank, tapi tidak ada hal yang tidak menarik di dalamnya!

Maksudnya, bagaimana kejujuran seorang gadis kecil dalam menuliskan perasaannya di dalam diary itu. Bagaimana kehidupannya, bagaimana kehidupannya di persembunyian, dan hubungan keluarganya dengan keluarga lain di dalam persembunyian.

Terkadang saat saya membaca buku, grafik semangatnya akan terus turun dipertengahan, karena tidak menemukan hal yang menarik. Tapi tidak dengan buku ini, dari awal kisah pun sudah menarik.

Atau, mungkin karena ketertarikan saya kepada kisah-kisah yang berdasarkan fakta sejarah terutama perang dunia ke-2?

Who knows, buku ini wajib dibaca oleh semua orang.

Jumat, 19 Juli 2013

Chicken Soup for The Sahaja Soul #1: Peujit

Sabtu, 13 Juli 2013 kemarin adalah kali pertama saya berbuka bersama di Ciroyom. Oh yah, sebagai pembukaan, terkadang kita mendengar orang berkata "harusnya bersyukur masih bisa makan walau cuma pake itu aja, di luar sana banyak yang susah makan" saat seseorang ada makanan yang tidak disukai, termasuk saya pernah mengatakannya. Tapi, tidak mesti orang yang mengucapkan itu bisa meresapi kalimat itu, sampai meresapi sendiri rasanya susah makan.

Akhirnya, giliran saya yang benar-benar mengalaminya, Sabtu 13 Juli 2013, para relawan sahaja itu buka bersama sambil rapat yang ternyata merupakan konspirasi untuk menggulingkan Rima Halimatusa'diah yang menduduki kursi kepala sekolah waktu itu. Makanan berbuka adalah dengan sop buah yang dibawa kak Hengki dan sang istri kak Ridha, ditambah gorengan yang termasuk gehu pedas yang tidak pedas. Semua menyantap segera setelah adzan berkumandang dan membaca doa yang dipimpin Nur besar.

Setelah semuanya shalat maghrib, ternyata para relawan memesan nasi bungkus ke Emak, karena hujan, kami tidak bisa menyantap nasi bungkus ini di bawah langit, tidak bisa pula makan di bawah langit-langit masjid, akhirnya kami menyantapnya di pinggir tembok luar masjid (apa ya namanya?).

Alangkah kagetnya saat saya buka, nasi, tahu, dan peujit alias usus ayam. Sebenarnya yang membuat saya kaget adalah usus ayam itu, saya tidak suka jeroan, makanan dengan sumber hewani yang bisa saya sukai hanyalah dagingnya, tidak jeroan, tidak sumsum, tidak buntut, tidak pula bagian lain seperti otak.

Hampir hilang nafsu makan saya, tapi segeralah saya ingat anak-anak sahaja yang susah makan, dan kalimat yang sering saya dengar di atas. Seketika itu juga pikiran datang melintas di kepala, "oh jadi ini maksud kalimat itu", mensyukuri yang kita dapat, Alhamdulillah.

Kusantaplah menu itu, walau memang prosesi makan saya tidak sebernafsu saat makan menu nasi timbel komplit dengan sambal dan ikan asin, menu nasi dan peujit tambah tahu ini kukunyah perlahan-lahan. Beruntungnya saya ditemani aktivitas obrol-obrol "sob" yang hanya mereka yang paham yaitu kak Indah, kak Kika, kak Ria, dan kak Imeh, (kak Hengki dan kak Ridha sedang makan berdua), dan ikut bergabung juga kak Tarjo, kak Gilang, dan Ari, saya sendiri tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka, tapi tidak terasa, akhirnya habis juga. Alhamdulillah.

Oh, pelajaran yang saya dapat dari atap Ciroyom ini.
1. Bersyukur itu wajib hukumnya, membuat terasa nikmat. 2. Pengalaman adalah guru paling baik, baik pengalaman menyenangkan maupun tidak.

Salam,

Aria.

Jumat, 12 Juli 2013

Roman Anak Informatika #4: Pemrograman III (Visual)

Suatu ketika saya masuk semester tiga, bertemulah saya dengan mata kuliah "Pemrograman III (Visual)". Maksud visual adalah, pemrograman kali ini menggunakan tool Visual Studio, programmingnya lebih ke GUI, biasanya kan pemrogramannya hanya console. Wah menarik, saat pertama bertemu tool yang satu ini. Waktu itu masih menggunakan Visual Basic 6.

Sebenarnya hampir tidak ada yang menarik yang bisa saya ceritakan di dalam perkuliahan.
Tapi ada satu hal, dosennya, sepertinya punya penglihatan yang kurang baik, beliau membaca buku dengan jarak yang sangat dekat dengan matanya, anehnya, dia tidak memakai kaca mata.

Perkuliahannya sendiri ternyata cukup mudah, apalagi bila memahami dasar-dasar algoritma (bukan dasar pemrograman). Karena pemrogramannya sendiri sederhana, hanya saja lebih fokus penggunaan tool visual. Latihan soal paling lucu yang pernah saya dapatkan adalah "anak ayam turun 1000, mati satu tinggal 999", kita harus melakukan looping itu hingga "anak ayam turun 1, mati satu habis", agak lucu sih. hehehe..

"anak ayam turun 1000, mati satu tinggal 999
anak ayam turun 999, mati satu tinggal 998
anak ayam turun 998 mati satu tinggal 997
anak ayam turun 997, mati satu tinggal 996
.
.
.
anak ayam turun 1, mati satu habis"

Semua tugas kubabat habis, UTS UAS tanpa hambatan berarti. Yakinlah dapat A, pikirku. Jreng-jreng, ternyataaaa... C! @_@
Sakit rasanya hatiku, hancur hatiku. (Padahal di semester itu ada nilai E)
Tahun berikutnya, saya mengulang, kali ini, dosennya sama, tapi asistennya adalah teman seangkatanku.
Ah, sedikit menghibur. Akhirnya, saya babat lagi itu tugas, UTS, dan UAS. :D
Yakinlah kali ini nilainya A.

Lalu kubukalah ecampus untuk melihat nilai, dan tabel transkrip bertuliskan.
"Pemrograman III (Visual)                                 C"

Kamis, 11 Juli 2013

Ujian Aikido: Kyu 2

Setelah lebih dari setahun saya menyandang Kyu 3, akhirnya tibalah saya disuruh ujian ke Kyu 2 oleh pelatih. Ya ampun, keder-keder. Walaupun ujiannya masih 3 bulanan lagi.
Trauma.

Masih teringat ujian kyu 4 bersama shodan yang badannya besar, dan ujian kyu 3 dengan yondan yang salah dikit aja langsung ga kena tekniknya.

Apalagi ntar kyu 2, jiyuwaza banyak. x_x

Nekat aja deh!

Developer

Developer, buat sebagian orang developer adalah programmer. Tapi, developer itu hal yang lebih luas, intinya developer adalah orang-orang yang membangun aplikasi. Walaupun secara bahasa developing artinya membangun, developer artinya pembangun, bukan berarti kami kuli bangunan, entah mengapa perusahaan yang membuat gedung, jembatan, dan lainnya disebut kontraktor (seingat saya).

Developer, isinya bisa bermacam-macam: Project manager, system analyst, programmer, designer (database, network), dan lain-lain yang menjadi satu tim.
Sama seperti game developer, mulai dari project leader, game designer (dialogue, level, story, dll), programmer, game composer (music, sound), game artist (artwork, character design, background, spell effect, dll), dan sekumpulan orang lain dengan job descnya masing-masing.

Pemahaman developer = programmer masih banyak dianut oleh sebagian orang, biasanya anak IT yang baru kuliah pun masih menganut. Sama seperti saya dulu.

Selasa, 25 Juni 2013

Roman Anak Informatika #3: Titik Koma

Suatu hari di lab, kami semua asyik mengetik latihan soal masing-masing. Seperti biasa, kami bermain dengan bahasa pemrograman C++. Suatu bahasa pemrograman yang populer, selain Java.

Kali ini programnya cukup panjang untuk kami yang baru mengenal pemrograman. Sekitar 25 baris kode, baris kosong dan baris yang hanya kurung kurawal tidak dihitung.

Seingatku, program itu mengecek apakah kata yang dimasukkan palindrom atau tidak.

Beberapa puluh menit berlalu, suatu saat teman saya bertanya, apa masalah di programnya sehingga setiap di-compile terus muncul pesan kesalahan. Saya pun melihatnya.

Saya lihat algoritma utamanya, tidak ada yang salah, sudah sesuai dengan buku. Saya lihat headernya, pasangan kurung kurawalnya, syntaknya, semuanya benar tidak ada yang lancar.

Dia klik ganda pesan kesalahan yang muncul, cursor menunjuk ke baris 15. Kami berdua tidak mengerti, apa yang salah. Saya pun menyerah, akhirnya saya kembali melanjutkan latihan saya sendiri.

Dia terus kebingungan, hingga pada akhirnya memanggil asisten lab. Asisten itu memeriksa programnya. Baris demi baris dicek. Tiba-tiba dia menekan satu tombol di papan ketik.

"Coba compile.", katanya.
Temanku langsung menekan F5. Jreng! Tidak ada pesan kesalahan, program berjalan dengan lancar. Tawa pun muncul dari mulutnya.
"Tadi apa kang?", temanku bertanya.
"Titik koma."

Sabtu, 08 Juni 2013

Roman Anak Informatika #2: Asap

Suatu hari di kelas Pemrograman II, kami sedang mengerjakan latihan yang diberikan pak dosen. Dibantu dua orang asisten, terkadang mereka hilir mudik di dalam kelas membantu mahasiswa, terkadang mereka asyik mengobrol. Kelas riuh terdengar obrolan orang-orang yang ada di dalamnya. Termasuk pula suara tombol tetikus dan papan tombol.

Laboratorium komputer dengan empat baris dan masing-masing delapan meja, di setiap meja terdapat dua set komputer berwarna hitam, dengan beberapa mouse yang bolanya sudah hilang, layar monitor sudah tak normal, dan beberapa kerusakan lainnya.

"Jepret!"

Semua komputer, infocus, penyejuk ruangan, dan lampu mati bersamaan. "Hah!?", "Alah!", "Eeuuuhh". Beberapa anak kaget dan mengeluarkan suara-suara keluhan, beberapa lagi terdiam dari obrolannya, banyak yang mengeluh karena pekerjaan program mereka belum di save. Seorang asisten melihat kotak sekring di belakang ruangan, posisi dalam keadaan hidup. Ternyata semua kampus mati, sepertinya dari PLN.

Beberapa menit kemudian, semua alat elektronik menyala, pihak kampus menyalakan generator listrik. Semua akhirnya lega, lalu mulai mengerjakan kembali latihan program. Kelas kembali riuh dengan suara tombol tetikus dan papan tombol, juga suara percakapan pelan dari para mahasiswa termasuk asisten dan dosen.

Sayangnya, listrik kembali padam, semua orang kembali mengeluh, tak lama listrik kembali menyala. Sepertinya listrik dari PLN sudah normal sehingga pihak kampus mematikan generator listrik.

"Bau (alat elektronik) terbakar" ucap seorang mahasiswa di barisan belakang. Semua orang mengendus-endus, menarik nafas mencari sumber bau. Seorang asisten mencium bau tersebut, dan mengikuti sumber bau itu. Sampailah dia di ruang server, ruang kecil di sana. Kemudian dia memastikan dengan mencium bau dari sela-sela kusen. "Oh dari sini!". 

Segera dia ke ruang laboran untuk mengambil kunci ruang server, ketika dibuka, 'busssshhh', asap putih keluar dari ruangan itu.

Kelas sudah tidak kondusif, segera setelah asap hilang, kelas dibubarkan.

Roman Anak Informatika #2
By: Aria Enggar Pamungkas

Jumat, 07 Juni 2013

Roman Anak Informatika #1: Lantai Enam

Pandu memacu motornya, perjalanan ke kampus terasa sangat lambat, waktu menunjukkan pukul 6:47 dan dia masih di perjalanan, sedangkan perkuliahan Kalkulus I masuk pukul tujuh tepat, "tidak ada toleransi terlambat", dia mengingat kata-kata si dosen di pertemuan pertama.

Jalan Brigjen Katamso yang macet, imbas dari macetnya jalan Pahlawan dimana ada pasar swalayan, dua sekolah, satu SPBU, dan jalan yang rusak memperparah keadaan, membuatnya kesal, ditambah bisingnya bunyi klakson kendaraan, dia tambah kesal.

Sampai di kampus, kembali dia dihadang dengan antrian motor di pintu lahan parkir, hanya satu jalan masuk, hal itu semakin membuatnya kesal, waktu menunjukkan 6:55. Dia berlari kencang, menuju gedung B. Sampailah dia di lantai dasar gedung itu, belasan orang sudah menunggu di depan lift, dua lift, salah satunya ditempeli tulisan "RUSAK".

 Dia lihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 6:57 tidak ada waktu lagi, dia memutuskan menaiki tangga di sebelah kiri lift, enam lantai dia naiki. Tidak sabar, dia melompati satu anak tangga setiap langkahnya, dua anak tangga setiap langkah. Tanda bunyi dan getar pesan masuk ke telepon seluler di saku celana pun tidak dihiraukannya. Keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya, dengan nafas terengah-engah, otot kaki mulai terasa lemas, akhirnya dia sampai di lantai enam.

Pandu langsung menuju sayap kiri gedung, dari jendela terlihat teman-temannya masih ada di luar kelas, sedangkan waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Mereka melihat ke arah Pandu, salah satu dari mereka berkata "barusan bapak sms, kuliah ditiadakan".

Roman Anak Informatika #1
By: Aria Enggar Pamungkas.

Cersebung (Cerita semi bersambung)

Demi keteraturan dan membuat saya reguler mengetik dan memposting di blog.
Akhirnya saya memutuskan untuk menulis sebuah cerita dengan judul "Roman Anak Informatika".

Sebagian dari kisah ini akan menjadi pengalaman saya. Ataupun pengalaman teman-teman saya, selama kuliah di Teknik Informatika Universitas Widyatama.

Ceritanya akan semi bersambung, intinya tidak bersambung, tapi ya kehidupannya bersambung, namanya juga dari pengalaman hidup alias kisah nyata. Kisahnya bisa dari pengalaman orang tunggal, jamak, orang ke satu, ke dua, maupun ke tiga.
Satu lagi, kisahnya berdasarkan kisah nyata, tapi akan dibumbui fiksi. :D

Bukan narsis. Hanya menceritakan suka duka dalam bentuk cerita. :)

Selanjutnya, cerita-cerita tersebut akan saya satukan dengan tag "roman anak informatika"

Semoga terhibur. terima kasih.

Rabu, 05 Juni 2013

Suku, Agama, Ras, dan Gadget

Di forum-forum online, milis, grup digital, selalu kita jumpai “postingan tidak boleh mengandung unsur SARA”. Frasa “unsur SARA” yang dimaksud adalah kata-kata yang menyinggung ataupun menghina asal suku, agama, atau ras orang lain, yang disinyalir dapat memunculkan perdebatan dan perselisihan panas, berlanjut hingga saling tuding, saling benci, hingga rasa kebencian yang terbawa ke dunia nyata.

Tampaknya ada satu unsur lagi yang harus kita tambahkan ke “SARA” ini, yaitu gadget. Semenjak boomingnya BlackBerry, Android, dan iPhone, para fanboy sangat sensitif akan device pujaan mereka. Sekali saja menyebut “X itu Y” dimana X adalah nama device dan Y adalah kata sifat yang konotasinya negatif, maka perdebatan pun akan muncul, pertengkaran memanjang, tak habis-habisnya.
Mereka saling bertengkar, membela, seakan device pujaan mereka adalah hidup dan mati mereka.

Mungkin jadi “SARAG”?

FYI: Jangan salah kaprah, BlackBerry itu device, OS nya BlackBerry OS. Android itu OS, devicenya HTC, Samsung, LG, dan lain-lain. iPhone itu device, OS nya iOS.

Salam,
Aria.


Baca Tulis

Calistung, baca tulis hitung. Aspek dasar yang diajarkan di TK.

Kali ini saya akan ngobrol baca dan tulis. Membaca dan menulis itu pasangan, bagai sandal jepit kiri dan kanan, suami dan istri, makan dan minum, bangun dan tidur, hidup dan mati.

Bagi sebagian orang, hanya suka membaca dan tidak suka menulis. Tapi, kalau mereka punya akun situs jejaring sosial, setidaknya mereka pernah menulis secara tidak disadari. Seperti menulis status opini di Facebook dan Twitter, apalagi dengan postingan yang sudah puluhan ribu. Tinggal kumpulkan saja di satu dokumen, jadilah seperti menulis sebuah buku, seperti buku At-Twitter nya Pidi Baiq yang belum saya baca.

Menulis, kata orang, itu merupakan terapi, seperti makan banyak saat sedang kesal, atau pergi ke wc saat sedang kebelet.

Menulis memang tidak mudah bagi yang jarang menulis, seringkali diawali dari sering membaca.
Bagaikan menjadi game designer, bisa diawali dari sering bermain game.

Jadi, bagi yang suka membaca, tidak ada salahnya mulai menulis. Tengoklah buku-buku di toko-toko buku, apa saja ditulis, dari yang sangat serius sampai sangat tidak serius. Apalagi novel, jumlah rak di toko buku kemungkinan besar paling banyak diantara buku lain.

Tidak harus diterbitkan, mau menulis di blog, kompasiana, livejournal, wattpad, atau memfungsikan kembali Twitter untuk (micro) blogging.

Kamis, 07 Maret 2013

Rubel Sahaja Ciroyom: Baru main lagi.

Terakhir saya main ke Rubel Sahaja Ciroyom itu, sewaktu sebelum nyate Idul Adha 2012. Hingga akhirnya saya baru datang lagi 2 Maret 2013 kemarin.

Atapnya tak berubah, lembayung senja yang indah memanjakan mata, angin yang bertiup mengelus kulit, dan sekitar pasar yang riuh menemani telinga. Selalu banyak pelajaran dari mereka, kita kan manusia yang harus berpikir, pasti bisa mengambil pelajaran, terutama dari anak-anak ini, dan kakak-kakak itu.

Anak-anak ini yang selalu semangat belajar, walaupun sebagian tak bisa sekolah, mendorong saya cepat-cepat menyelesaikan Kerja Praktek saya yang sudah terbengkalai selama 10 bulan (September 2012). Hingga sekarang saya menyelesaikannya.

Anak-anak ini yang selalu punya cita-cita, walaupun kehidupan mereka tak tentu, meyadarkan saya, kalau cita-cita tidak kita usahakan karena perjalanan yang berat, kapan kita sampai?

Kakak-kakak itu yang selalu memberi dan menyayangi, mengingatkan saya sesama manusia harus saling menolong dan memberi. Ternyata, saya belum sampai pada kata "saling", saya hanya baru menerima.

Anak-anak ini tidak berbeda dari anak-anak yang nasibnya lebih beruntung, mereka juga punya cita-cita, keinginan, dan segudang misteri kehidupan lainnya yang kelak mereka jalani.

Begitu juga dengan kakak-kakak itu, mereka punya kehidupan sendiri seperti kakak-kakak yang tidak mengatap, tapi mereka mau meluangkan waktu, datang, untuk menyayangi, mengasihi, untuk anak-anak yang selalu bersemangat.

Begitu banyak pelajaran yang diambil, apalagi saat berkumpul langsung bersama mereka.

Rumah Belajar Sahaja Ciroyom ini keluarga, anak-anak ini, kakak-kakak itu, atap pasar, masjid, dan langit.