Selasa, 25 Juni 2013

Roman Anak Informatika #3: Titik Koma

Suatu hari di lab, kami semua asyik mengetik latihan soal masing-masing. Seperti biasa, kami bermain dengan bahasa pemrograman C++. Suatu bahasa pemrograman yang populer, selain Java.

Kali ini programnya cukup panjang untuk kami yang baru mengenal pemrograman. Sekitar 25 baris kode, baris kosong dan baris yang hanya kurung kurawal tidak dihitung.

Seingatku, program itu mengecek apakah kata yang dimasukkan palindrom atau tidak.

Beberapa puluh menit berlalu, suatu saat teman saya bertanya, apa masalah di programnya sehingga setiap di-compile terus muncul pesan kesalahan. Saya pun melihatnya.

Saya lihat algoritma utamanya, tidak ada yang salah, sudah sesuai dengan buku. Saya lihat headernya, pasangan kurung kurawalnya, syntaknya, semuanya benar tidak ada yang lancar.

Dia klik ganda pesan kesalahan yang muncul, cursor menunjuk ke baris 15. Kami berdua tidak mengerti, apa yang salah. Saya pun menyerah, akhirnya saya kembali melanjutkan latihan saya sendiri.

Dia terus kebingungan, hingga pada akhirnya memanggil asisten lab. Asisten itu memeriksa programnya. Baris demi baris dicek. Tiba-tiba dia menekan satu tombol di papan ketik.

"Coba compile.", katanya.
Temanku langsung menekan F5. Jreng! Tidak ada pesan kesalahan, program berjalan dengan lancar. Tawa pun muncul dari mulutnya.
"Tadi apa kang?", temanku bertanya.
"Titik koma."

Sabtu, 08 Juni 2013

Roman Anak Informatika #2: Asap

Suatu hari di kelas Pemrograman II, kami sedang mengerjakan latihan yang diberikan pak dosen. Dibantu dua orang asisten, terkadang mereka hilir mudik di dalam kelas membantu mahasiswa, terkadang mereka asyik mengobrol. Kelas riuh terdengar obrolan orang-orang yang ada di dalamnya. Termasuk pula suara tombol tetikus dan papan tombol.

Laboratorium komputer dengan empat baris dan masing-masing delapan meja, di setiap meja terdapat dua set komputer berwarna hitam, dengan beberapa mouse yang bolanya sudah hilang, layar monitor sudah tak normal, dan beberapa kerusakan lainnya.

"Jepret!"

Semua komputer, infocus, penyejuk ruangan, dan lampu mati bersamaan. "Hah!?", "Alah!", "Eeuuuhh". Beberapa anak kaget dan mengeluarkan suara-suara keluhan, beberapa lagi terdiam dari obrolannya, banyak yang mengeluh karena pekerjaan program mereka belum di save. Seorang asisten melihat kotak sekring di belakang ruangan, posisi dalam keadaan hidup. Ternyata semua kampus mati, sepertinya dari PLN.

Beberapa menit kemudian, semua alat elektronik menyala, pihak kampus menyalakan generator listrik. Semua akhirnya lega, lalu mulai mengerjakan kembali latihan program. Kelas kembali riuh dengan suara tombol tetikus dan papan tombol, juga suara percakapan pelan dari para mahasiswa termasuk asisten dan dosen.

Sayangnya, listrik kembali padam, semua orang kembali mengeluh, tak lama listrik kembali menyala. Sepertinya listrik dari PLN sudah normal sehingga pihak kampus mematikan generator listrik.

"Bau (alat elektronik) terbakar" ucap seorang mahasiswa di barisan belakang. Semua orang mengendus-endus, menarik nafas mencari sumber bau. Seorang asisten mencium bau tersebut, dan mengikuti sumber bau itu. Sampailah dia di ruang server, ruang kecil di sana. Kemudian dia memastikan dengan mencium bau dari sela-sela kusen. "Oh dari sini!". 

Segera dia ke ruang laboran untuk mengambil kunci ruang server, ketika dibuka, 'busssshhh', asap putih keluar dari ruangan itu.

Kelas sudah tidak kondusif, segera setelah asap hilang, kelas dibubarkan.

Roman Anak Informatika #2
By: Aria Enggar Pamungkas

Jumat, 07 Juni 2013

Roman Anak Informatika #1: Lantai Enam

Pandu memacu motornya, perjalanan ke kampus terasa sangat lambat, waktu menunjukkan pukul 6:47 dan dia masih di perjalanan, sedangkan perkuliahan Kalkulus I masuk pukul tujuh tepat, "tidak ada toleransi terlambat", dia mengingat kata-kata si dosen di pertemuan pertama.

Jalan Brigjen Katamso yang macet, imbas dari macetnya jalan Pahlawan dimana ada pasar swalayan, dua sekolah, satu SPBU, dan jalan yang rusak memperparah keadaan, membuatnya kesal, ditambah bisingnya bunyi klakson kendaraan, dia tambah kesal.

Sampai di kampus, kembali dia dihadang dengan antrian motor di pintu lahan parkir, hanya satu jalan masuk, hal itu semakin membuatnya kesal, waktu menunjukkan 6:55. Dia berlari kencang, menuju gedung B. Sampailah dia di lantai dasar gedung itu, belasan orang sudah menunggu di depan lift, dua lift, salah satunya ditempeli tulisan "RUSAK".

 Dia lihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 6:57 tidak ada waktu lagi, dia memutuskan menaiki tangga di sebelah kiri lift, enam lantai dia naiki. Tidak sabar, dia melompati satu anak tangga setiap langkahnya, dua anak tangga setiap langkah. Tanda bunyi dan getar pesan masuk ke telepon seluler di saku celana pun tidak dihiraukannya. Keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya, dengan nafas terengah-engah, otot kaki mulai terasa lemas, akhirnya dia sampai di lantai enam.

Pandu langsung menuju sayap kiri gedung, dari jendela terlihat teman-temannya masih ada di luar kelas, sedangkan waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Mereka melihat ke arah Pandu, salah satu dari mereka berkata "barusan bapak sms, kuliah ditiadakan".

Roman Anak Informatika #1
By: Aria Enggar Pamungkas.

Cersebung (Cerita semi bersambung)

Demi keteraturan dan membuat saya reguler mengetik dan memposting di blog.
Akhirnya saya memutuskan untuk menulis sebuah cerita dengan judul "Roman Anak Informatika".

Sebagian dari kisah ini akan menjadi pengalaman saya. Ataupun pengalaman teman-teman saya, selama kuliah di Teknik Informatika Universitas Widyatama.

Ceritanya akan semi bersambung, intinya tidak bersambung, tapi ya kehidupannya bersambung, namanya juga dari pengalaman hidup alias kisah nyata. Kisahnya bisa dari pengalaman orang tunggal, jamak, orang ke satu, ke dua, maupun ke tiga.
Satu lagi, kisahnya berdasarkan kisah nyata, tapi akan dibumbui fiksi. :D

Bukan narsis. Hanya menceritakan suka duka dalam bentuk cerita. :)

Selanjutnya, cerita-cerita tersebut akan saya satukan dengan tag "roman anak informatika"

Semoga terhibur. terima kasih.

Rabu, 05 Juni 2013

Suku, Agama, Ras, dan Gadget

Di forum-forum online, milis, grup digital, selalu kita jumpai “postingan tidak boleh mengandung unsur SARA”. Frasa “unsur SARA” yang dimaksud adalah kata-kata yang menyinggung ataupun menghina asal suku, agama, atau ras orang lain, yang disinyalir dapat memunculkan perdebatan dan perselisihan panas, berlanjut hingga saling tuding, saling benci, hingga rasa kebencian yang terbawa ke dunia nyata.

Tampaknya ada satu unsur lagi yang harus kita tambahkan ke “SARA” ini, yaitu gadget. Semenjak boomingnya BlackBerry, Android, dan iPhone, para fanboy sangat sensitif akan device pujaan mereka. Sekali saja menyebut “X itu Y” dimana X adalah nama device dan Y adalah kata sifat yang konotasinya negatif, maka perdebatan pun akan muncul, pertengkaran memanjang, tak habis-habisnya.
Mereka saling bertengkar, membela, seakan device pujaan mereka adalah hidup dan mati mereka.

Mungkin jadi “SARAG”?

FYI: Jangan salah kaprah, BlackBerry itu device, OS nya BlackBerry OS. Android itu OS, devicenya HTC, Samsung, LG, dan lain-lain. iPhone itu device, OS nya iOS.

Salam,
Aria.


Baca Tulis

Calistung, baca tulis hitung. Aspek dasar yang diajarkan di TK.

Kali ini saya akan ngobrol baca dan tulis. Membaca dan menulis itu pasangan, bagai sandal jepit kiri dan kanan, suami dan istri, makan dan minum, bangun dan tidur, hidup dan mati.

Bagi sebagian orang, hanya suka membaca dan tidak suka menulis. Tapi, kalau mereka punya akun situs jejaring sosial, setidaknya mereka pernah menulis secara tidak disadari. Seperti menulis status opini di Facebook dan Twitter, apalagi dengan postingan yang sudah puluhan ribu. Tinggal kumpulkan saja di satu dokumen, jadilah seperti menulis sebuah buku, seperti buku At-Twitter nya Pidi Baiq yang belum saya baca.

Menulis, kata orang, itu merupakan terapi, seperti makan banyak saat sedang kesal, atau pergi ke wc saat sedang kebelet.

Menulis memang tidak mudah bagi yang jarang menulis, seringkali diawali dari sering membaca.
Bagaikan menjadi game designer, bisa diawali dari sering bermain game.

Jadi, bagi yang suka membaca, tidak ada salahnya mulai menulis. Tengoklah buku-buku di toko-toko buku, apa saja ditulis, dari yang sangat serius sampai sangat tidak serius. Apalagi novel, jumlah rak di toko buku kemungkinan besar paling banyak diantara buku lain.

Tidak harus diterbitkan, mau menulis di blog, kompasiana, livejournal, wattpad, atau memfungsikan kembali Twitter untuk (micro) blogging.