Kamis, 25 Juli 2013

Budaya Baca Tulis di Indonesia

Sepertinya, minat membaca dan menulis di Indonesia kian meningkat beberapa tahun ini.

Di ranah membaca, klub-klub buku mulai bertebaran, komunitas goodreads, klubbuku, estafet buku, dan lain sebagainya, semakin meningkatkan minat membaca, dan para pecinta buku tidak akan merasa kesepian. Selain membaca mereka bisa saling berbagi, berbagi buku, berbagi informasi, dan lain-lain. Cukup sering saya ke toko buku, contoh Gramedia dan Togamas, rasanya setiap saya ke sana selalu saja ada buku baru, dan bertambah lagi buku lama dengan cetakan baru kali ini bertuliskan "best seller".

Di ranah menulis, ,enurut berita di Jakarta Globe, tahun 2009 jumlah blogger di Indonesia sekitar satu juta. Sedangkan pada tahun 2010 meningkat pesat menjadi sekitar 3,2 juta blogger.
Sungguh peningkatan yang luar biasa.

Sedangkan menurut dokumen "Blogging and Socmed Trend in Indonesia" tahun 2011 menyebutkan, jumlah blog di Indonesia sekitar 4,8 juta blog, dan masih terus meningkat.

Begitu juga dengan menulis di ranah cetak, sudah ada beberapa penerbit yang menyediakan layanan self-publishing, layanan dimana para penulis bisa mengunggah naskah mereka tanpa takut ditolak, dicetak menjadi buku, dan dijual. Hal ini semakin meningkatkan budaya menulis dan membaca di warga Indonesia.

Diharapkan, budaya ini terus berkembang, membaca dan menulis adalah hal yang luar biasa. Manfaatnya pasti luar biasa.

Keep reading, do writing!

Minggu, 21 Juli 2013

Diary of Anne Frank

Baru beberapa puluh halaman saya membaca Diary of Anne Frank, tapi tidak ada hal yang tidak menarik di dalamnya!

Maksudnya, bagaimana kejujuran seorang gadis kecil dalam menuliskan perasaannya di dalam diary itu. Bagaimana kehidupannya, bagaimana kehidupannya di persembunyian, dan hubungan keluarganya dengan keluarga lain di dalam persembunyian.

Terkadang saat saya membaca buku, grafik semangatnya akan terus turun dipertengahan, karena tidak menemukan hal yang menarik. Tapi tidak dengan buku ini, dari awal kisah pun sudah menarik.

Atau, mungkin karena ketertarikan saya kepada kisah-kisah yang berdasarkan fakta sejarah terutama perang dunia ke-2?

Who knows, buku ini wajib dibaca oleh semua orang.

Jumat, 19 Juli 2013

Chicken Soup for The Sahaja Soul #1: Peujit

Sabtu, 13 Juli 2013 kemarin adalah kali pertama saya berbuka bersama di Ciroyom. Oh yah, sebagai pembukaan, terkadang kita mendengar orang berkata "harusnya bersyukur masih bisa makan walau cuma pake itu aja, di luar sana banyak yang susah makan" saat seseorang ada makanan yang tidak disukai, termasuk saya pernah mengatakannya. Tapi, tidak mesti orang yang mengucapkan itu bisa meresapi kalimat itu, sampai meresapi sendiri rasanya susah makan.

Akhirnya, giliran saya yang benar-benar mengalaminya, Sabtu 13 Juli 2013, para relawan sahaja itu buka bersama sambil rapat yang ternyata merupakan konspirasi untuk menggulingkan Rima Halimatusa'diah yang menduduki kursi kepala sekolah waktu itu. Makanan berbuka adalah dengan sop buah yang dibawa kak Hengki dan sang istri kak Ridha, ditambah gorengan yang termasuk gehu pedas yang tidak pedas. Semua menyantap segera setelah adzan berkumandang dan membaca doa yang dipimpin Nur besar.

Setelah semuanya shalat maghrib, ternyata para relawan memesan nasi bungkus ke Emak, karena hujan, kami tidak bisa menyantap nasi bungkus ini di bawah langit, tidak bisa pula makan di bawah langit-langit masjid, akhirnya kami menyantapnya di pinggir tembok luar masjid (apa ya namanya?).

Alangkah kagetnya saat saya buka, nasi, tahu, dan peujit alias usus ayam. Sebenarnya yang membuat saya kaget adalah usus ayam itu, saya tidak suka jeroan, makanan dengan sumber hewani yang bisa saya sukai hanyalah dagingnya, tidak jeroan, tidak sumsum, tidak buntut, tidak pula bagian lain seperti otak.

Hampir hilang nafsu makan saya, tapi segeralah saya ingat anak-anak sahaja yang susah makan, dan kalimat yang sering saya dengar di atas. Seketika itu juga pikiran datang melintas di kepala, "oh jadi ini maksud kalimat itu", mensyukuri yang kita dapat, Alhamdulillah.

Kusantaplah menu itu, walau memang prosesi makan saya tidak sebernafsu saat makan menu nasi timbel komplit dengan sambal dan ikan asin, menu nasi dan peujit tambah tahu ini kukunyah perlahan-lahan. Beruntungnya saya ditemani aktivitas obrol-obrol "sob" yang hanya mereka yang paham yaitu kak Indah, kak Kika, kak Ria, dan kak Imeh, (kak Hengki dan kak Ridha sedang makan berdua), dan ikut bergabung juga kak Tarjo, kak Gilang, dan Ari, saya sendiri tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka, tapi tidak terasa, akhirnya habis juga. Alhamdulillah.

Oh, pelajaran yang saya dapat dari atap Ciroyom ini.
1. Bersyukur itu wajib hukumnya, membuat terasa nikmat. 2. Pengalaman adalah guru paling baik, baik pengalaman menyenangkan maupun tidak.

Salam,

Aria.

Jumat, 12 Juli 2013

Roman Anak Informatika #4: Pemrograman III (Visual)

Suatu ketika saya masuk semester tiga, bertemulah saya dengan mata kuliah "Pemrograman III (Visual)". Maksud visual adalah, pemrograman kali ini menggunakan tool Visual Studio, programmingnya lebih ke GUI, biasanya kan pemrogramannya hanya console. Wah menarik, saat pertama bertemu tool yang satu ini. Waktu itu masih menggunakan Visual Basic 6.

Sebenarnya hampir tidak ada yang menarik yang bisa saya ceritakan di dalam perkuliahan.
Tapi ada satu hal, dosennya, sepertinya punya penglihatan yang kurang baik, beliau membaca buku dengan jarak yang sangat dekat dengan matanya, anehnya, dia tidak memakai kaca mata.

Perkuliahannya sendiri ternyata cukup mudah, apalagi bila memahami dasar-dasar algoritma (bukan dasar pemrograman). Karena pemrogramannya sendiri sederhana, hanya saja lebih fokus penggunaan tool visual. Latihan soal paling lucu yang pernah saya dapatkan adalah "anak ayam turun 1000, mati satu tinggal 999", kita harus melakukan looping itu hingga "anak ayam turun 1, mati satu habis", agak lucu sih. hehehe..

"anak ayam turun 1000, mati satu tinggal 999
anak ayam turun 999, mati satu tinggal 998
anak ayam turun 998 mati satu tinggal 997
anak ayam turun 997, mati satu tinggal 996
.
.
.
anak ayam turun 1, mati satu habis"

Semua tugas kubabat habis, UTS UAS tanpa hambatan berarti. Yakinlah dapat A, pikirku. Jreng-jreng, ternyataaaa... C! @_@
Sakit rasanya hatiku, hancur hatiku. (Padahal di semester itu ada nilai E)
Tahun berikutnya, saya mengulang, kali ini, dosennya sama, tapi asistennya adalah teman seangkatanku.
Ah, sedikit menghibur. Akhirnya, saya babat lagi itu tugas, UTS, dan UAS. :D
Yakinlah kali ini nilainya A.

Lalu kubukalah ecampus untuk melihat nilai, dan tabel transkrip bertuliskan.
"Pemrograman III (Visual)                                 C"

Kamis, 11 Juli 2013

Ujian Aikido: Kyu 2

Setelah lebih dari setahun saya menyandang Kyu 3, akhirnya tibalah saya disuruh ujian ke Kyu 2 oleh pelatih. Ya ampun, keder-keder. Walaupun ujiannya masih 3 bulanan lagi.
Trauma.

Masih teringat ujian kyu 4 bersama shodan yang badannya besar, dan ujian kyu 3 dengan yondan yang salah dikit aja langsung ga kena tekniknya.

Apalagi ntar kyu 2, jiyuwaza banyak. x_x

Nekat aja deh!

Developer

Developer, buat sebagian orang developer adalah programmer. Tapi, developer itu hal yang lebih luas, intinya developer adalah orang-orang yang membangun aplikasi. Walaupun secara bahasa developing artinya membangun, developer artinya pembangun, bukan berarti kami kuli bangunan, entah mengapa perusahaan yang membuat gedung, jembatan, dan lainnya disebut kontraktor (seingat saya).

Developer, isinya bisa bermacam-macam: Project manager, system analyst, programmer, designer (database, network), dan lain-lain yang menjadi satu tim.
Sama seperti game developer, mulai dari project leader, game designer (dialogue, level, story, dll), programmer, game composer (music, sound), game artist (artwork, character design, background, spell effect, dll), dan sekumpulan orang lain dengan job descnya masing-masing.

Pemahaman developer = programmer masih banyak dianut oleh sebagian orang, biasanya anak IT yang baru kuliah pun masih menganut. Sama seperti saya dulu.