Jumat, 19 Juli 2013

Chicken Soup for The Sahaja Soul #1: Peujit

Sabtu, 13 Juli 2013 kemarin adalah kali pertama saya berbuka bersama di Ciroyom. Oh yah, sebagai pembukaan, terkadang kita mendengar orang berkata "harusnya bersyukur masih bisa makan walau cuma pake itu aja, di luar sana banyak yang susah makan" saat seseorang ada makanan yang tidak disukai, termasuk saya pernah mengatakannya. Tapi, tidak mesti orang yang mengucapkan itu bisa meresapi kalimat itu, sampai meresapi sendiri rasanya susah makan.

Akhirnya, giliran saya yang benar-benar mengalaminya, Sabtu 13 Juli 2013, para relawan sahaja itu buka bersama sambil rapat yang ternyata merupakan konspirasi untuk menggulingkan Rima Halimatusa'diah yang menduduki kursi kepala sekolah waktu itu. Makanan berbuka adalah dengan sop buah yang dibawa kak Hengki dan sang istri kak Ridha, ditambah gorengan yang termasuk gehu pedas yang tidak pedas. Semua menyantap segera setelah adzan berkumandang dan membaca doa yang dipimpin Nur besar.

Setelah semuanya shalat maghrib, ternyata para relawan memesan nasi bungkus ke Emak, karena hujan, kami tidak bisa menyantap nasi bungkus ini di bawah langit, tidak bisa pula makan di bawah langit-langit masjid, akhirnya kami menyantapnya di pinggir tembok luar masjid (apa ya namanya?).

Alangkah kagetnya saat saya buka, nasi, tahu, dan peujit alias usus ayam. Sebenarnya yang membuat saya kaget adalah usus ayam itu, saya tidak suka jeroan, makanan dengan sumber hewani yang bisa saya sukai hanyalah dagingnya, tidak jeroan, tidak sumsum, tidak buntut, tidak pula bagian lain seperti otak.

Hampir hilang nafsu makan saya, tapi segeralah saya ingat anak-anak sahaja yang susah makan, dan kalimat yang sering saya dengar di atas. Seketika itu juga pikiran datang melintas di kepala, "oh jadi ini maksud kalimat itu", mensyukuri yang kita dapat, Alhamdulillah.

Kusantaplah menu itu, walau memang prosesi makan saya tidak sebernafsu saat makan menu nasi timbel komplit dengan sambal dan ikan asin, menu nasi dan peujit tambah tahu ini kukunyah perlahan-lahan. Beruntungnya saya ditemani aktivitas obrol-obrol "sob" yang hanya mereka yang paham yaitu kak Indah, kak Kika, kak Ria, dan kak Imeh, (kak Hengki dan kak Ridha sedang makan berdua), dan ikut bergabung juga kak Tarjo, kak Gilang, dan Ari, saya sendiri tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka, tapi tidak terasa, akhirnya habis juga. Alhamdulillah.

Oh, pelajaran yang saya dapat dari atap Ciroyom ini.
1. Bersyukur itu wajib hukumnya, membuat terasa nikmat. 2. Pengalaman adalah guru paling baik, baik pengalaman menyenangkan maupun tidak.

Salam,

Aria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar