Selasa, 20 Agustus 2013

Introvert

Kali ini saya adalah curhat, tentang diri saya. Menurut hasil tes di personalitytest.com pada tes Extroversion, saya mendapatkan hasil 18 dari rata-rata 10.73 (20/8/13), di mana 18 disebut bahwa saya sangat introvert. Menurut analisisnya, introvert adalah sebagai berikut:
Introverts
They are generally quiet and reserved. They like to keep to themselves and are quite happy with their own thoughts and feelings. They do not actively need the company of others, will tend to feel uncomfortable in social situations and are unlikely to actively pursue social gatherings. They will not often feel driven to exchange views with others and often are happiest engaged in solitary activities that do not involve constantly having to interact with people.
In the workplace, introverts are often seen as shy, rather restrained and somewhat distant or aloof. Consequently, they are often overlooked. They are usually good at working on their own or in small groups without needing to rely on outside support and guidance. This is an important asset in many jobs. Where they have good knowledge and expertise, introverts can be just as assertive as extraverts.
Sebenarnya saya sendiri bingung, disebut "quiet and reserved" tergantung situasi dan kondisi, di tempat-tempat baru saya sangatlah diam, tidak bisa berkata-kata, karena memang tidak tahu apa yang harus disampaikan, saya tidak bisa langsung bercanda dengan orang baru. Namun jika sudah lama, seperti di kampus dan tempat latihan Aikido, saya tidaklah pendiam, tapi tetap akan diam saat seharusnya diam misal sedang latihan atau dosen sedang menerangkan.

Kalimat "They like to keep to themselves and are quite happy with their own thoughts and feelings." dan "They will not often feel driven to exchange views with others" hampir benar, seperti sulitnya saya mengungkapkan sesuatu. Kalaupun ingin, itu harus disusun di dalam otak, menyusun topik dan kalimat, lalu dirangkai, lalu baru disampaikan. Itupun kadang-kadang tidak banyak. Terkadang susunan ide saya akan siap dilontarkan saat semua orang selesai dan menganggap saya tidak akan menyampaikan ide apapun, alias terlambat.

Mengambil keputusan spontan agak sulit buat saya, karena saya harus mengerti bagaimana situasinya, dengan detail. Apa yang terjadi, siapa yang terlibat, apa yang harus dituju, apa masalahnya, apa variabel-variabelnya, barulah men-generate solusi-solusi. Dari banyak solusi itupun saya kembali menganalisis, mana yang terbaik. Dan seringkali hal-hal tersebut saya lakukan sendirian di dalam otak. Tapi saya percaya suatu saat pasti bisa dan terbiasa, untuk menyampaikan ide-ide saya kepada orang lain dengan lebih cepat.

Kalimat "feel uncomfortable in social situations" setengah benar, saya tidak suka perkumpulan yang sangat ramai, tapi lebih menyukai berkumpul dengan jumlah grup sedikit hingga agak menengah. Saya lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Terkadang saya sendiri malu untuk meminta tolong, padahal saya cukup membutuhkan. Kadang-kadang menyulitkan, mengungkapkan keinginan pada orang tua sendiri pun sering saya batalkan karena enggan.

Apa benar saya ini introvert? Kalau dilihat dari ciri-cirinya sih memang. Semoga saja menjadi introvert tidak menghambat saya dalam bersosialisasi, menjadi pemimpin, dan kehidupan asmara menjadi suami nanti.

Selasa, 13 Agustus 2013

Curhat

Kali ini saya datang tentang cinta! Kayanya sebelumnya saya belum pernah ngepost tentang cinta deh. :D

Yak baik, kali ini saya sedang jatuh cinta. Dengan beberapa hal, seorang wanita, sebuah benda abstrak bernama sekolah, dan satu spesies binatang bernama kucing.

Oh ya, ada yang bilang cinta itu datangnya dari hati, tapi menurut ilmuwan yang saya baca dari artikel National Geographic Indonesia, http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/cinta-tidak-datang-dari-hati, disebutkan bahwa ada prosesnya:

Dopamin disebar > Serotonin turun > NGF meningkat > Oksitosin & Vasopressin.

(Anehnya di tahap 1 yaitu "Hipotalamus beraksi" (melepaskan dopamin ke seluruh tubuh) disebutkan "saat kita mulai tertarik", nah, gimana kita mulai tertarik, kayanya tetap aja dari hati...!)

Oh ya, intinya cinta itu memang bisa membuat bersemangat (optimis), tapi bisa juga membuat lemas kalo dipikirin yang nggak-nggak (pesimis), misal "gimana kalo begini, gimana kalo begitu".
Padahal pikiran negatif kaya gitu tuh yang bikin orang ga maju-maju. Yaa itu lah yg saya rasakan sekarang.

Sayangnya, yang selalu saya pikirin adalah yang nomer pertama dan kedua, wanita dan sekolah. Gimana kalo dia ga suka sama saya? Gimana kalo saya ga keterima nerusin sekolah?

Sayangnya lagiii, terkadang sulit menemukan pemicu supaya berpikir "kalo cinta kejar dong! usahain! doa! naon we lah!" dan "kalo mau nerusin sekolah cepet lulus, belajar yang giat!". Yah memang otak kita tau kalo mau mengejar cita-cinta memang harus begitu, tapi hati ini nih yang ga maju-maju. :D

Rasanya otak dan hati itu harus dikasih sambungan fiber optik, jadi ketika otak ada keinginan, hati pun kemudian tergerak, kemudian hati mengirimkan blueprint dan flowchart rencana untuk mencapai keinginan, lalu hati pun membuat semangat optimisme. Tapi angger we, hararese eta dina hate.

Pengen maju, tapi ga mau melangkah. Gimana sih!

Selasa, 06 Agustus 2013

Chicken Soup for The Sahaja Soul #2: Para Penjual Minyak Wangi

“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Hadits di atas cukup populer, menggambarkan dan mengingatkan bagaiman pertemanan dapat mempengaruhi diri kita, dan diri kita akan mempengaruhi hidup kita, sehingga pertemanan mempengaruhi hidup kita. Hadits di atas sepertinya bisa dilihat di berbagai segi kehidupan, IPOLEKSOSBUDHANKAM.

Kemarin adalah hari yang menarik, suatu hari sepulangnya saya dari buka bersama keluarga yang jarang berjumpa (kakak) sekaligus merayakan ulang tahun ayah kami, saya lihat ada missed call, dari dua teman relawan, saya sms ada apa, oh ternyata ada relawan lain yang sedang sakit, tidak bisa keluar, belum makan dan minum obat, dan meminta tolong saya untuk membawakannya.

Beruntung ada paracetamol di meja saya, saya langsung ambil dan berangkat ke tempatnya tinggal, dijalan mencari bubur ternyata sulit, yang banyak adalah makanan Padang, ayam bakar dan sejenis, nasi uduk, seafood, dan nasi goreng dan teman-teman. Ah, pusing, saya memutuskan ke minimarket, membeli roti, buah pir, dan susu coklat. Kemudian saya bawa ke kosannya dan menyerahkannya. Beruntungnya lagi, malam itu motor saya bisa diajak mengebut walau rantai sudah longgar dan rawan lepas.

Lalu apa hubungannya dengan hadits pembuka? Oh ya, saya itu sebenarnya orangnya sedikit cuek. Ada teman mendapat masalah? Saya sering berpikir selama dia tidak meminta tolong, berarti dia masih mampu mengatasinya sendiri. Walaupun teman saya yang sakit itu tidak meminta tolong, tapi teman-temannya yang lain yang meminta tolong kepada saya.

Lalu apa yang bisa menggerakkan saya? Yah pertemanan dengan "penjual parfum" tadi, mereka itu adalah sekelompok orang, dan mereka mempunyai tingkat perhatian dan cinta yang tinggi, saya yang tingkat perhatiannya rendah ini, sepertinya terkena "wangi" para penjual parfum itu.

Ada satu nasihat sahabat Nabi SAW, Qatadah bin Nu'man :
“Demi Allah, aku belum pernah melihat seseorang berteman dengan seseorang melainkan ia akan menyerupainya. Maka bertemanlah dengan hamba-hamba Allah yang shalih, agar kamu di golongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka“.
Mungkin satu kesimpulan yang bisa ditarik, Sahaja ini isinya adalah para penjual parfum.