Rabu, 30 April 2014

Gadis Penjual Rokok dan Gadis Penjual Korek Api

Jaman dahulu kala, di malam tahun baru yang bersalju di London, seorang gadis kecil berjalan sendirian, mantel tipis dan sandal lusuh, dengan keranjang kecil yang ditutupi kain berwarna biru. Dia berjalan perlahan, mencari tempat ramai di sudut kota, untuk menjual rokok-rokoknya.

Dia mengambil tempat di depan toko yang sudah tutup, berdiri diam menghadap ke jalan memunggungi jendela toko. Dia keluarkan satu bungkus rokok dari keranjangnya, dan dia arahkan pada setiap orang yang lewat. "Rokoknya bu, pak, murah, beli dua dapat dua." Seorang lelaki paruh baya yang berjalan di depannya sambil memasukkan tangan ke dalam saku jaket seketika berhenti, tertarik mendengar tawarannya. "Berapa harga rokoknya nak?" tanyanya.
"Seratus sen satu bungkus pak."
"Satu poundsterling maksudmu?"
"Bukan pak, seratus sen."
"Satu poundsterling itu seratus sen."
"Beda pak, satu poundsterling itu uangnya poundsterling. Seratus sen itu uangnya sen."
"Terserahmulah, saya beli dua."
"Nih pak." Sambil mengambil satu lagi bungkus rokok lalu memberikannya.
"Dua lagi mana?"
"Loh katanya beli dua pak?"
"Katanya tadi beli dua dapat dua?"
"Iya beli dua kan dapetnya dua bungkus."
"Loh harusnya saya dapat empat, kan karena beli dua, dapat dua bungkus lagi. Jadi empat."
"Oh gak pak, kalo gitu saya pasti bilang 'beli dua bonus dua'. Lah saya kan bilang 'beli dua dapat dua'."
"Zzzzzzz. Ya sudah, terserahmu lagi lah" Ucap lelaki itu kesal.
"Oke pak. Uang pas ya pak. Saya ga bawa uang."
"Heuh, niat jualan ga sih."
"Ga niat pak."
Lelaki itu menatap dengan pandangan lebih kesal dari sebelumnya lalu melanjutkan perjalanannya.

Gadis itu kembali mengeluarkan satu bungkus rokok lalu dia jajakan lagi pada orang-orang yang lewat.
"Rokok pak bu, murah, sekarang bayar besok gratis."
Seorang pria muda tetiba saja berhenti melangkah dan berbalik arah ke gadis itu.
"Apa kau mengatakan rokok gratis?"
"Iya pak, tapi besok, sekarang bayar?"
"Maksudmu?"
"Iya gitu, sekarang bayar besok gratis."
"Hmm aku pikir gratis sekarang. Ya sudah saya beli satu. Besok gratis ya. Berapa harganya?"
"Satu poundsterling ."
Gadis itu memberikan rokoknya dan menerima uang satu poundsterling dari pria itu, pria itu kemudian pergi ke arah yang dia tuju sebelum berbalik membeli rokok.

Gadis itu kembali menjajakan rokoknya.
"Rokok pak bu, murah, beli dua dapat satu."
Seorang pria paruh baya yang mendengar itu langsung berhenti di depannya.
"Berapa harga rokokmu?"
"Seratus sen pak."
"Satu poundsterling maksudmu."
"Iya pak terserahmulah."
"Saya beli dua." sambil mengeluarkan dua lembar uang satu poundsterling.
"Ini pak." gadis itu memberikan bungkus rokok yang ada dalam genggamannya.
"Dua lagi mana?" lelaki itu menarik sedikit tangannya sendiri saat akan memberikan uangnya.
"Hah? Bapak beli dua kan?"
"Iya. Katamu kan beli dua dapat satu. Jadi tiga kan."
"Lah, nggak pak. Belinya dua, dapatnya satu bungkus."
"Yeeee, gimana sih. Tidak jadi beli!"
"Yeee bapak, niat beli ga sih!"
"Kamu yang niat jualan ga!?"
"Ga niat pak. Puas!?"
Lelaki itu super kesal lalu pergi menjauh dengan cepat. Mendengus keras seperti sapi dengan wajah kesal.

Gadis itu melanjutkan menjajakan rokoknya.
"Rokok pak bu, murah, satu poundsterling saja."
Dan dia terus melanjutkan menjual rokoknya, hingga sekitar satu jam, rokoknya sudah habis. Malam itu memang dingin, semua orang menggunakan jaket tebal, sarung tangan, sepatu boot yang hangat, dan berbagai macam penutup kepala agar badan mereka hangat. Mereka juga berjalan cepat agar aliran darah mengalir lebih cepat sehingga menghangatkan tubuh mereka dari dalam.

***

Gadis penjual rokok itu akhirnya berjalan pulang, tapi mengambil jalan memutar, agar dia bisa di luar lebih lama. Dia mencari jalan-jalan baru yang belum pernah dilewatinya. Dia memang memiliki jiwa petualang. Kali ini dia berjalan tanpa arah pasti, tiba-tiba di melewati tempat yang terdapat sudut yang tercipta karena dua rumah. Gadis penjual rokok melihat cahaya di sudut itu, cahaya yang kecil. Lalu dia melihat tangan dan wajah, dia mendekat dan melihat seorang gadis yang menggunakan celemek, bertelanjang kaki, menggunakan sehelai kain tipis dengan motif kotak-kotak untuk menghangatkan tubuhnya, tanpa jaket, atau sarung tangan, atau penutup kepala. Dan dia duduk di atas salju, juga tanpa alas.

Gadis penjual rokok mendekatinya, dan dia melihat, gadis penjual korek api. Gadis penjual korek api menyadari seseorang yang mendekat saat dia tampaknya sedang berhalusinasi dengan menatap ke arah dinding rumah yang menciptakan sudut tempat dia duduk. Dia menoleh ke arah gadis penjual rokok.

"Hai," kata gadis penjual rokok.
"Hai," balas gadis penjual korek api.
"Sedang apa kau di sini? Di sini dingin, kau bertelanjang kaki dan duduk di atas salju tanpa alas apapun. Kau bisa mati kedinginan." ucap gadis penjual rokok.
"Aku sedang menjual korek api, tapi tidak ada yang membelinya, dan aku tidak berani pulang, karena jika pulang tanpa membawa uang, aku tidak bisa membeli obat untuk ayahku."
"Kejamnya ayahmu. Ayo ikutlah denganku."
"Ke mana?"
"Aku akan membuatmu nyaman."
Gadis penjual rokok membantunya berdiri, melepaskan sandalnya dan memberikannya pada gadis penjual korek api.
"Pakailah."
"Tapi kakimu akan membeku."
"Ya, tapi baru akan, sedangkan kakimu sudah mulai membeku. Pakailah."
"Terima kasih."
Mereka berjalan berdampingan.
"Kita mau ke mana?" tanya gadis penjual korek api.
"Kita ke rumahku, ibuku akan memberimu sup hangat, dan selimut."
"Terima kasih, kalian baik sekali pada orang asing sepertiku."
"Tidak apa-apa. Kita kan sudah berkenalan, jadi bukan lagi orang asing."
Gadis penjual korek api hanya tersenyum.
"Ayo kita berjalan lebih cepat. Agar tubuh kita bisa lebih hangat."
"Betul sekali."
Mereka berdua mempercepat langkah mereka. Mereka melangkah cukup jauh hingga tiba-tiba gadis penjual rokok berhenti mendadak.
"Tunggu, ayo kita membeli sendal jepit." sambil mendekati toko kecil yang terang dan hangat.
"Ah ya, untukmu. Kau kan bertelanjang kaki."
"Pak, berapa harga sendal jepit?" tanya gadis penjual rokok pada penjaga toko.
"Merk apa?"
"Swallow."
"7 sen."
"Bisa kurang?"
Penjaga toko itu menatap mereka beberapa detik tanpa suara.
"Baiklah karena malam ini dingin, dan kalian terlihat kedinginan, dan kau bertelanjang kaki. Aku akan berikan dengan 5 sen saja.
"Terima kasih pak!", gadis penjual rokok memberikan uang 5 sen dan mengambil sandal jepit swallow yang diberikan penjaga toko.
"Pasti menyenangkan menggunakan sandal baru yang masih empuk." ucap gadis penjual korek api.
"Lepaskan sebelah sendalmu." kata gadis penjual rokok.
"Kenapa?"
"Sudah lepas saja."
Gadis penjual korek api melepaskan sendal di sebelah kirinya lalu gadis penjual rokok memakainya. Dia kemudian menggunakan sandal baru itu sebelah, sebelahnya lagi diberikan pada gadis penjual korek api.
"Pakailah."
"Kenapa sebelah-sebelah?"
"Ini menyenangkan. Kita seperti saudara. Hahaha."
"Kau benar hahaha" balas gadis penjual korek api, sambil menggunakan sebelah sandal baru itu.
"Memang kalian bersaudara?" tanya penjaga toko yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Tidak, kami baru saja kenal sepuluh menit lalu." jawab gadis penjual rokok. "Terima kasih pak, kami pergi" lanjutnya sambil keluar dari toko.

***

Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, sambil berbincang-bincang.
"Kenapa kau menjual rokok?" tanya gadis penjual korek api.
"Rokok itu cepat laku terjual. Di kota ini banyak perokok."
"Apa kau merokok?"
"Tentu saja tidak. Aku anak kecil. Lagipula, merokok itu berbahaya, bisa membunuhmu, dan menghamburkan uang. Aku tidak mengerti kenapa orang dewasa banyak yang merokok padahal mereka tahu itu, entah bodoh atau apa."
"Ayahku seorang perokok berat."
"Lebih baik kau jauhi dia saat merokok, asap yang masuk ke tubuhmu itu tidak baik. Sama seperti merokok"
"Dari mana kau tahu semua ini?"
"Aku membacanya di buku."
"Kau suka membaca buku?"
"Aku suka sekali. Aku sering ke perpustakaan untuk membaca buku. Terkadang meminjam. Kau suka ke perpustakaan?"
"Aku, tidak ada waktu. Aku setiap hari berjualan korek api. Saat pulang, uang hasil penjualan kami gunakan untuk makan dan obat untuk ayahku."
"Kau harus berusaha menabung untuk membaca buku, wawasanmu akan sangat luas, dan tentu saja menjadi pintar. Oh ya ayahmu sakit apa?"
"Aku tidak tahu, kami tidak pernah ke dokter, dia sering batuk-batuk, mungkin karena kebiasaan merokoknya."
"Oh ya mungkin sakit karena merokok itu. Aku sempat membacanya. Suruh ayahmu menghentikan kebiasaan merokoknya. Rokok itu bisa melubangi paru-parumu. Mungkin paru-paru ayahmu bisa menjadi saringan air karena banyaknya lubang."
Gadis penjual rokok kemudian berbelok ke toko roti, sesuai pesanan ibunya. Dan gadis penjual korek api mengikutinya ke dalam.
"Nyonya, saya beli roti tawar lima." Dia merupakan langganan di toko itu.
Ibu penjaga toko menoleh ke arah suara dan melihat mereka.
"Hai, oh beli lima? Banyak sekali. Dan siapa temanmu ini?"
"Ah ya kami baru bertemu dua puluh menit lalu."
"Hai nyonya." sapa gadis penjual korek api, setelah menyapa lalu melihat-lihat berbagai macam roti di etalase toko.
"Hai nak." balas penjaga toko sambil tersenyum, lalu sesaat kemudian mengambil lima buah roti tawar yang biasa dibeli oleh gadis penjual rokok.
"Ha. Roti itu lucu. Bentuknya seperti buaya." celetuk gadis penjual korek api.
"Ah, itu namanya roti buaya." balas penjaga toko.
"Kenapa roti itu berbentuk buaya?"
"Itu diperuntukkan untuk para lelaki."
"Kenapa hanya untuk lelaki."
"Karena lelaki itu buaya."
"Apa maksudnya? Apakah mereka siluman buaya?"
"Hahaha.. tidak, tidak. Hanya bercanda. Yang kudenger roti itu berasal dari Indonesia, dari suku Betawi, mereka membuat roti itu saat acara pernikahan, roti itu sebagai simbol agar pengantin akan setia satu sama lain layaknya buaya yang hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya."
Gadis penjual korek api hanya tersenyum sambil melihat roti-roti lain yang terlihat lezat.
"Berapa semuanya?" tanya gadis penjual rokok.
"Dua poundsterling." sambil memberikan bungkusan berisi lima buah roti.
"Terima kasih. Kami pergi ya!" ucapnya setelah mengambil roti dan memberikan uang. Lalu mereka pergi ke luar toko.
"Ayo, sedikit lagi kita sampai di rumahku."
"Iya." jawab gadis penjual korek api.

***

Tidak lama kemudian, sekitar lima menit kemudian, mereka sampai di rumah gadis penjual rokok.
"Ibu, aku pulang!"
"Ah selamat datang. Oh kau membawa teman."
"Ya, aku membeli satu roti untuknya."
"Ya tidak apa-apa. Hai." sapa ibunya pada gadis penjual korek api sambil menerima roti dari gadis penjual rokok.
"Halo." balasnya.
"Duduklah, supnya sedang dihangatkan." lalu dia kembali ke dapur.
Mereka pun duduk di meja makan. Dan sedikit berbincang sambil menunggu ibunya menyiapkan sup hangat dan roti.
"Apa yang tadi kau lakukan sambil menyalakan korek api saat aku menghampirimu?"
"Aku berusaha menghangatkan diri. Lalu karena lapar dan kedinginan. Aku berhalusinasi. Dinding rumah tempatku berada tadi terlihat tembus pandang saat aku menyalakan korek api. Lalu terlihat makanan yang banyak dan terlihat lezat di meja makan. Juga buah-buahan yang masih segar."
"Kapan terakhir kau makan?"
"Hari ini aku belum makan dari pagi."
"Ah! Kasihan kau, makanlah roti kering ini." Lalu dia bangkit dari kursi dan mendekati lemari di sudut ruangan. "Makanlah." ucapnya sambil memberikan dua buah roti kering.
"Terima kasih. Bolehkah kusimpan untuk di rumah?"
"Hmm.. Baiklah. Tahanlah sebentar laparmu. Sebentar lagi sup hangatnya siap."
"Terima kasih. Kalian sangat baik."
"Ini supnya!" ucap ibu gadis penjual rokok dengan semangat dan senyum lebar.
"Horeee..!!" gadis penjual rokok kegirangan.
Ibu gadis penjual rokok lalu menuangkan sup jagung ke mangkuk mereka satu persatu. Lalu menempatkan satu buah roti di pinggir masing-masing mangkuk.
"Baik, sebelum makan, jangan lupa berdoa. Itupun kalau kalian percaya Tuhan. Tapi jika tidak percaya. Tetaplah bersyukur. Karena kau tidak tahu sesulit apa orang-orang yang tidur di jalan mendapatkan makanan." Ibu gadis penjual rokok menasehati.
"Baik." ucap kedua gadis itu bersamaan. Lalu mereka menunduk dan berdoa.
"Mari makan." ucap mereka bersamaan.
"Jadi, apa pendapatmu tentang rumah kami?" tanya gadis penjual rokok pada teman barunya.
"Hmm.. Yah, kondisinya tidak jauh berbeda dengan rumahku. Tapi dengan kondisi seperti ini, bagaimana kalian terlihat bahagia?" jawab gadis penjual korek api. Rumah itu memang kecil, kayu-kayu banyak yang sudah usang dan berjamur, begitu juga dengan dinding-dinding yang retak, lantainya pun tidak menggunakan keramik. Perabotan dari logam banyak yang sudah penyok, furnitur dari kayu pun tak kalah rapuh dan berjamur. Tapi rumah itu sangat terang, dan selalu diusahakan bersih oleh penghuninya.
"Kami selalu mencari cara untuk bahagia di atas kondisi kami." jawab gadis penjual rokok.
Sedangkan ibunya menambahkan, "Nak, kalau kau hanya bahagia saat kaya raya, rumah bagus, makanan enak setiap hari, pakaian bagus setiap pagi, maka hidupmu hanya akan diisi ambisi untuk menjadi kaya. Siapa yang tidak mau kaya raya? Sedangkan untuk menjadi kaya itu butuh kesabaran. Bersabarlah, maka kau akan bahagia. Nikmati prosesmu dalam hidup untuk mencapai cita-citamu. Apa kau mengerti maksud kata-kataku? Karena aku sendiri tidak. Hahaha..."
"Hahahahahaha..." mereka bertiga tertawa bersama sekarang, dengan bahagia.
Selanjutnya mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai. Termasuk tentang nenek gadis penjual korek api yang sudah meninggal.
"Salah satu halusinasi yang tadi kulihat saat menghangatkan diri adalah nenekku. Dia sudah meninggal, dia sangat baik padaku dan sering menceritakan dongeng-dongeng yang luar biasa."
"Kau pasti sayang sekali pada nenekmu." ucap gadis penjual rokok.
"Ya, aku sangat menyayanginya."
"Baiklah, makan malam sudah selesai. Dan apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya ibu gadis penjual rokok.
"Sepertinya aku akan pulang."
"Kenapa tidak menginap di sini saja?" tanya gadis penjual rokok.
"Tidak, ayahku kan sakit, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian."
"Oh ya baiklah. Rawatlah ayahmu. Kapan-kapan kami akan berkunjung ke sana."
"Terima kasih rotinya ya." ucap gadis penjual korek api, "dan terima kasih makan malam, kehangatan, dan bincang-bincangnya."
"Sama-sama. Oh ya, dan sini, aku beli semua korek apimu.", kata ibu gadis penjual rokok.
"Sungguh? Terima kasih lagi..!!" Gadis penjual korek api girang, sambil mengeluarkan semua koreknya.
"Ya, kami bisa menggunakan ini untuk banyak hal."
"Mulai besok, berjualanlah rokok juga. Jangan hanya korek apinya. Tapi jauh-jauh dari tempatku berjualan, nanti jualanku tidak laku." kata gadis penjual rokok.
"Hahaha, kau benar. Terima kasih sarannya. Besok aku akan menjual rokok dan korek apinya juga."
"Dan pergilah ke perpustakaan."
"Ah ya kau benar. Baiklah, terima kasih atas semuanya. Aku pulang ya!" dia tersenyum lebar dan melangkah ke pintu depan.
"Oh ya, pakailah sandal baru itu."
"Baik! Terima kasih lagi..! Aku berhutang banyak pada kalian."
"Hahaha.. Pergilah. Hati-hati di jalan! Dadah!"
"Hati-hati nak." ucap ibu gadis penjual rokok.
"Dadah!", sambil berlari pergi di malam hari yang dingin, dia sekarang bersemangat, tak lagi kedinginan dan kelaparan hingga mati beku. Dan menatap besok pagi dengan keceriaan dan harapan akan kesembuhan ayahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar