Minggu, 06 April 2014

Tragedi Nol Buku

Tragedi Nol Buku adalah sejenis istilah yang digunakan, karena pemerintah Indonesia tidak mewajibkan putra-putrinya di tingkat sekolah untuk membaca buku-buku, biasanya buku sastra. Detailnya bisa googling dengan keyword yang sama.

Kalau saya baca dari sini: http://satriadharma.com/2014/01/28/tragedi-nol-buku-tragedi-di-dunia-pendidikan-indonesia/

Dipikir-pikir sedih juga, apa pemerintah menganggap membaca itu tidak penting atau bagaimana? Yang diusahakan hanya UN, ujian, dll, sampai-sampai ada iklan di televisi layaknya jualan produk, bahkan kurikulum 2013 juga ada iklannya.

Padahal membaca buku kan penting, membuka wawasan, menambah ilmu, dan segudang manfaat lain yang sering kita dengar. Menurut post di atas mewajibkan membaca buku sastra bukan menciptakan sastrawan, tapi sebagai media untuk cinta membaca. Lalu disebutkan seseorang yang gemar membaca sastra, lalu dari situ berpindah jalur ke bidang ekonomi, namanya Hatta (Mohammad Hatta, BUKAN Hatta Rajasa). Lalu juga seorang yang lain, gemar membaca, lalu berpindah ke sosial politik, namanya Soekarno.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar