Kamis, 29 Mei 2014

Pertanyaan Tentang Politik

Hiruk pikuk pemilihan umum di Indonesia kembali merajai berita-berita di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Sekitar belasan partai yang kini lolos, berusaha mencari perhatian rakyat untuk memilih mereka, yang kemungkinan besar akan dilupakan setelah terpilih.

Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa peluang pihak independen itu sedikti sekali?
Kenapa semua yang ingin melanggeng ke kursi dpr dan presiden harus melewati kelompok yang disebut partai. Kelompok yang lebih terlihat orang-orang ambisius, mungkin orang baiknya tenggelam di paling dalam, perjuangannya perlu sangat besar untuk mencapai atas.

Jadi begini, misal ada orang yang benar-benar hebat, anggaplah dia terlahir dengan jiwa kepemimpinan yang hebat, tidak akan korupsi, dilindungi oleh teman-teman dan keluarga hebat, yang mengajarkan dari kecil bahwa kejujuran adalah yang utama. Bagaimana jika, dia ingin menjadi presiden, dengan niat yang benar-benar mulia, anggaplah jika dia memimpin, Indonesia menjadi negara super power dengan kesejahteraan yang sangat merata di seluruh pelosok Indonesia.

Lalu, karena dia ingin menjadi presiden, dia harus masuk partai. Pikirannya yang berwarna-warni, mengutamakan semua golongan, karena masuk partai yang hanya satu warna, menjadi terstandarisasi, mirip UN, terstandarisasi, seperti batu bata, yang dibanting langsung hancur. Partai, yang isinya satu warna, namun berjuta kepala dan tangan, menjadi hiruk pikuk, mereka semua saling sikut-sikutan, berdusta, bersiasat, dengan cara yang buruk, untuk menjadi presiden. Akhirnya, orang yang kita bicarakan ini menang, tapi dia mengerti bahwa curang itu perlu, akhirnya, kejujuran yang ada di hatinya, luntur.

Partai, yang bilang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, kenapa harus satu warna?
Kenapa, ada pihak pemerintah, dan ada pihak oposisi? Kenapa hanya oposisi yang berfungsi sebagai counter bagi kebijakan-kebijakan pemerintah? Itu kan artinya, yang sepihak pemerintah, mau pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bijak dan tidak bijak bahkan kejam tak adil sekalipun, harus didukung.
Bukankah seharusnya, meskipun satu pihak atau lain pihak, jika kebijakan tidak bijak, maka harus diperbaiki?

Jika ada mesin yang menstandarisasi seperti UN, maka politik pun mungkin akan sama. Terstandarisasi, seperti membangun apa-apa hanyaaaa di Jakarta. Orang-orang DPR yang merasa pintar tentang orang-orang di area terluar Indonesia, merasa paling tahu, nyatanya tidak tahu apa-apa. Pengetahuan mereka sedikit. Mereka tidak suka membaca, mereka hanya suka kursi! Ambil kursi dari rumahmu sana!

Saya hanya benci partai. Kita memilih presiden! Presiden! Yang memimpin Indonesia lima tahun ke depan, memimpin rakyat. Tapi kenapa pilihannya hanya terbatas HANYA pada PARTAI YANG MENANG, PARTAI YANG LOLOS ELECTORAL THRESHOLD!

Website Review: Duolingo

Duolingo adalah website yang menyediakan pembelajaran bahasa asing, hebatnya website ini gratis, benar-benar gratis. Tidak ada istilah gratis untuk trial, gratis untuk fasilitas terbatas. Nope. Nothing. It's completely free!


Saya sudah mencobanya, untuk belajar bahasa Jerman bagi penutur bahasa Inggris. Dan ini cocok untuk saya yang belajar pelan-pelan dan benar-benar dari tata bahasa. Menurut reviewer lain web ini cocok untuk pembelajaran jangka panjang, tapi tidak cocok untuk calon pelancong ke negeri Jerman yang membutuhkan kalimat-kalimat yang umum diucapkan.

Konten kursus di web ini beberapa ditambahkan oleh kontributor yang terpilih, untuk menjadi kontributor pasangan bahasa yang kita kuasai, kita bisa mengajukan lamaran, jika diterima kita bisa membantu mengolah konten pasangan bahasa tersebut. Untuk penutur bahasa Indonesia, baru ada kursus bahasa Inggris, itupun masih dalam versi beta dan masih belum stabil.

Cara belajar di web ini adalah dengan menerjemahkan antara bahasa, memilih di antara beberapa pilihan, mendengar suara, dan belajar berbicara menggunakan mikrofon. Jika merasa sudah mahir, kita bisa masuk ke bagian Immersion di mana kita bisa menerjemahkan dokumen yang pengguna lain unggah ke Duolingo. Setiap terjemahan per kalimat kita yang dinilai benar oleh sesama pengguna, akan mendapatkan nilai positif. Dari nilai-nilai positif itu bisa dilihat sejauh mana kemampuan kita berbahasa asing, setidaknya dalam hal tertulis.

Jadi, bila gratis, bagaimana mereka mendapatkan uang untuk menjalankan webnya? Mereka memberikan jasa penerjemahan dokumen berbayar, berbeda dengan yang gratis di atas. Sehingga

Sejauh ini bagi saya web ini sangat aditif, memanfaatkan hal yang bernama gamification (memasukkan unsur game ke non-game), seperti nyawa yang berkurang saat salah menjawab pertanyaan, mata uang khusus untuk membeli pengisi nyawa, kelas kursus tambahan, kelas latihan tambahan, dan beberapa hal lain.

Terdapat juga leaderboard di antara kita dan teman-teman kita untuk melihat siapakah yang memiliki nilai tertinggi selama satu minggu terakhir, satu bulan terakhir, atau sejak bergabung Duolingo.

Cobalah sekarang, langsung belajar bahasa asing yang Anda inginkan. Ada bahasa Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, tentu saja Inggris, dan beberapa bahasa asing lain yang masih dalam proses perkembangan seperti Gaelic, Rumania, Turki, dan akan terus bertambah seiring minat yang masuk ke Duolingo.

Jika tertarik, bisa mencoba Duolingo di tautan berikut: duolingo.com

Rabu, 28 Mei 2014

Catatan Komp@k HPI

Tanggal 24 Mei kemarin saya menghadiri pertemuan Komp@k HPI, yaitu pertemuan para penerjemah yang diselenggarakan oleh HPI Komda Jabar, bentuk acaranya sendiri adalah temu wicara (talk show). Berlokasi di STBA YAPARI ABA.

Narasumbernya adalah Anton Kurnia, penerjemah dan redaksi Serambi; Fahmy Yamani penerjemah buku, saudara kembar Femmy Syahrani dan dari Sofia Mansoor yang juga seorang penerjemah; dan pembicara terakhir adalah Eva Y. Nukman, penerjemah Jerman dan juga penyunting.

Di sini saya akan menulis semua yang ada di catatan saya, yang semuanya berupa inti-inti atau kalimat yang para narasumber ucapkan yang menurut saya penting.

Menerjemahkan harus menyenangkan.
Sebelum melamar ke penerbit, kuasai dulu bahasa Indonesia, tata bahasanya, EYD, pelajari juga buku-buku tentang penerjemahan.
Jangan patah semangat kalau lamaran tidak direspon.
-Fahmy-

Menyunting tidak hanya mengubah, tapi juga meningkatkan keakuratan dan keterbacaan.
Bagi saya menerjemahkan itu menjadi dipaksa membaca. Dibayar pula.
Penerjemahan itu tidak bisa hanya "sekadar (menerjemahkan -Aria)". Bukan hanya alih bahasa, karena ada usaha menjembatani dua budaya yang berbeda (alih budaya).
Bagaimana menyampaikan tulisan penulis.
-Eva-

Untuk menerjemahkan di penerbit ada berbagai cara:
1. Rekomendasi, 2. lamaran, 3. perlu ada spesialisasi.
Untuk rekomendasi bentuknya bisa mengajukan proposal buku yang sebaiknya diterjemahkan. Penerbit memiliki dua cara memilih penerjemah, yaitu penunjukan langsung atau tender.
Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta akan menghasilkan hasil yang lebih baik.
Biasanya yang mejadi masalah adalah sisi bahasa Indonesianya, padahal kemampuan bahasa asingnya baik.
Seperti kata mas Fahmy, jangan takut untuk melamar, juga lampirkan contoh terjemahan, karena hal itu yang dinilai.
Kriteria penerjemahan: usahakan jangan melanggar tenggat. Menjalin komunikasi, jika ada kesulitan (sakit, kecelakaan, dll sehingga tenggat tertunda oleh faktor luar) jangan ragu untuk berdiskusi.
-Anton-

Penerjemah bisa melakukan negosiasi. Jika terlambat maka harus memberi kabar sebelumnya.
-Fahmy-

Tips saat menjadi penerjemah:
- Pelajari naskah sebelum "ya". Pelajari naskah bicara tentang apa.
- Jaga komunikasi dengan penyunting dan penerbit.
- Kualitas terjemahan yang utama. Kalau hanya jumlah pengalaman yang diukur, tentu tidak ada kesempatan bagi penerjemah yang baru.
- Penuhi target.
- Tingkatkan kualitas dan pertahankan.

Konsistensi di dalam kata di buku bagi saya tidak terlalu diperlukan. Contoh: meskipun, walaupun.
CAT Tools bisa? Bisa. Harus? Tidak.
Untuk yang sering melewat kalimat perlu.
-Eva-

Buku jarang sekali kalimat yang berulang. Sehingga CAT Tools tidak diperlukan.
-Fahmy-

Sesi Tanya Jawab:
Penanya 1:

Catatan oleh Anton Kurnia
Beberapa kiat bagi penerjemah agar "disayangi" penerbit:
  • Menguasai dengan baik perangkat menerjemahkan (bahasa asing, bahasa sasaran, program komputer, referensi - termasuk pengetahuan tentang ejaan yang berlaku).
  • Hasil terjemahan dikerjakan sebaik-baiknya, "sudah bersih", tidak perlu terlalu banyak disunting.
  • Menyerahkan hasil terjemahan tidak melebihi tenggat.
  • Bersedia memberi umpan balik, masukan, atau kritik membangun terkait terjemahan.
  • Mau mengikuti gaya selingkung penerbit untuk memudahkan proses penyuntingan.
  • Memiliki pengetahuan tambahan dan referensi yang baik terkait teks yang diterjemahkan.
  • Menjaga komunikasi dengan penerbit (dalam hal ini editor), baik terkait teknis penerjemahan maupun hal-hal nonteknis.
  • Mudah dihubungi.
  • Bersikap terbuka kepada penerbit.
  • Sebaiknya tidak mengerjakan banyak order terjemahan pada saat bersamaan agar bisa fokus dan optimal dalam mengerjakan satu proyek terjemahan.
  • Bersedia ikut mempromosikan buku hasil terjemahan.
  • Jangan terlalu sering menolak tawaran.

Kamis, 08 Mei 2014

Buku dari Akun Twitter

Beberapa hari kemarin, saya meng-unfollow beberapa akun Twitter yang menurut saya tidak menarik, dan, dia hanya berjualan. Berjualan apa? Berjualan buku.

Sudah banyak buku-buku yang terbit setelah satu akun Twitter memiliki follower yang banyak.
Biasanya dia buat akun Twitter, topiknya ada yang ga jelas, cinta-cintaan, dan lain-lain.
Twitnya hanya ngebanyol, jadi orang banyak yang suka, ada juga yang kata-kata motivasi, atau kata-kata baik seperti tema rohani atau moral, kata-kata menyentuh. Lalu setelah orang-orang suka, lalu follower bertambah, setelah followernya banyak, barulah bikin buku.

Tidak salah memang, hanya saja, sekarang membuat buku ternyata semudah itu. Hanya dengan paket internet, browser, lalu aplikasi untuk menulis bukunya, maka jadilah satu buku yang siap dikirim ke penerbit, dengan follower yang banyak, dia bisa meyakinkan penerbit buku ini akan laku.

Terkadang saya jadi berpikiran negatif (Astaghfirullah), sebenarnya dia membuat akun twitter itu untuk apa? Apakah memang dari awal niat membuat buku untuk berjualan? Sayangnya kontennya terkadang tidak terlalu tinggi. Jangan-jangan karena hanya meraup uang, konten yang seharusnya mencerdaskan pembaca, jadi terpinggirkan.

Saya pernah mengikuti pertemuan di Kineruku. Salah seorang di situ berkata "membuat buku sekarang mudah, asal punya follower banyak, bisa bikin buku". Lalu salah seorang lain menjawab (dia membuat buku untuk followernya, walaupun self publishing), "saya membuat buku dengan kata-kata sederhana untuk konten-konten yang serius, seperti A,B,C" (saya lupa temanya), "karena memang dengan kalimat-kalimat sederhana mereka bisa menyerap informasi yang kontennya serius."

Salah seorang temannya menjawab "merendahkan untuk untuk mengangkat (kemampuan menyerap informasi follower)"
Lalu orang yang mengucapkan membuat buku itu mudah berkata "tidak jelas juga mereka naik atau tidak."

Saya setuju dengan pendapatnya.

Well, what do you think?

Jumat, 02 Mei 2014

Fiery on Fairy Tale

Currently my mind is fiery with fairy tales from Europe, e.g. Cinderella, Rapunzel, Red Riding Hood, Beauty and The Beast, Little Match Girl, Sleeping Beauty, Snow Queen.

It is wonderful to read those stories, which is from well-known authors and/or fairy-tale-collectors such as the Brother Grimm with his hundreds fairy tales, Hans Christian Andersen with his two volume fairy tales books, and Charles Perrault. The other lesser known is Giambattista Basile with his Il Pentamore, and Andrew Lang with his a series of Pokemon-game-title-like fairy tales book.

It was a month ago when I watched Disney Frozen, it was very interesting, very good, and very musical. Since it was loosely based from H.C. Andersen's Snow Queen, so I google it and read it. And it was, interesting too. Then I watched Disney Tangled, and it was interesting too. And since that time, I interseted to fairy tales.

Then I read some well-known fairy tales, and found gruesome version of it. Like Cinderella, with a variant where her two stepsister is cutting their heel so that their feet can fit to the little glass slipper.

Or how tragic death of little match girl, which is dies after running out of matches.

And from that stories, I'm interested making a fan fiction version. So that not-so-happy ending fairy tale can be a-little-more-happy ending, at least at my own head and heart.

I'll post more stories, I'll be very happy if you guys read it, and appreciate it with comments. Thanks in advance! :)