Rabu, 28 Mei 2014

Catatan Komp@k HPI

Tanggal 24 Mei kemarin saya menghadiri pertemuan Komp@k HPI, yaitu pertemuan para penerjemah yang diselenggarakan oleh HPI Komda Jabar, bentuk acaranya sendiri adalah temu wicara (talk show). Berlokasi di STBA YAPARI ABA.

Narasumbernya adalah Anton Kurnia, penerjemah dan redaksi Serambi; Fahmy Yamani penerjemah buku, saudara kembar Femmy Syahrani dan dari Sofia Mansoor yang juga seorang penerjemah; dan pembicara terakhir adalah Eva Y. Nukman, penerjemah Jerman dan juga penyunting.

Di sini saya akan menulis semua yang ada di catatan saya, yang semuanya berupa inti-inti atau kalimat yang para narasumber ucapkan yang menurut saya penting.

Menerjemahkan harus menyenangkan.
Sebelum melamar ke penerbit, kuasai dulu bahasa Indonesia, tata bahasanya, EYD, pelajari juga buku-buku tentang penerjemahan.
Jangan patah semangat kalau lamaran tidak direspon.
-Fahmy-

Menyunting tidak hanya mengubah, tapi juga meningkatkan keakuratan dan keterbacaan.
Bagi saya menerjemahkan itu menjadi dipaksa membaca. Dibayar pula.
Penerjemahan itu tidak bisa hanya "sekadar (menerjemahkan -Aria)". Bukan hanya alih bahasa, karena ada usaha menjembatani dua budaya yang berbeda (alih budaya).
Bagaimana menyampaikan tulisan penulis.
-Eva-

Untuk menerjemahkan di penerbit ada berbagai cara:
1. Rekomendasi, 2. lamaran, 3. perlu ada spesialisasi.
Untuk rekomendasi bentuknya bisa mengajukan proposal buku yang sebaiknya diterjemahkan. Penerbit memiliki dua cara memilih penerjemah, yaitu penunjukan langsung atau tender.
Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta akan menghasilkan hasil yang lebih baik.
Biasanya yang mejadi masalah adalah sisi bahasa Indonesianya, padahal kemampuan bahasa asingnya baik.
Seperti kata mas Fahmy, jangan takut untuk melamar, juga lampirkan contoh terjemahan, karena hal itu yang dinilai.
Kriteria penerjemahan: usahakan jangan melanggar tenggat. Menjalin komunikasi, jika ada kesulitan (sakit, kecelakaan, dll sehingga tenggat tertunda oleh faktor luar) jangan ragu untuk berdiskusi.
-Anton-

Penerjemah bisa melakukan negosiasi. Jika terlambat maka harus memberi kabar sebelumnya.
-Fahmy-

Tips saat menjadi penerjemah:
- Pelajari naskah sebelum "ya". Pelajari naskah bicara tentang apa.
- Jaga komunikasi dengan penyunting dan penerbit.
- Kualitas terjemahan yang utama. Kalau hanya jumlah pengalaman yang diukur, tentu tidak ada kesempatan bagi penerjemah yang baru.
- Penuhi target.
- Tingkatkan kualitas dan pertahankan.

Konsistensi di dalam kata di buku bagi saya tidak terlalu diperlukan. Contoh: meskipun, walaupun.
CAT Tools bisa? Bisa. Harus? Tidak.
Untuk yang sering melewat kalimat perlu.
-Eva-

Buku jarang sekali kalimat yang berulang. Sehingga CAT Tools tidak diperlukan.
-Fahmy-

Sesi Tanya Jawab:
Penanya 1:

Catatan oleh Anton Kurnia
Beberapa kiat bagi penerjemah agar "disayangi" penerbit:
  • Menguasai dengan baik perangkat menerjemahkan (bahasa asing, bahasa sasaran, program komputer, referensi - termasuk pengetahuan tentang ejaan yang berlaku).
  • Hasil terjemahan dikerjakan sebaik-baiknya, "sudah bersih", tidak perlu terlalu banyak disunting.
  • Menyerahkan hasil terjemahan tidak melebihi tenggat.
  • Bersedia memberi umpan balik, masukan, atau kritik membangun terkait terjemahan.
  • Mau mengikuti gaya selingkung penerbit untuk memudahkan proses penyuntingan.
  • Memiliki pengetahuan tambahan dan referensi yang baik terkait teks yang diterjemahkan.
  • Menjaga komunikasi dengan penerbit (dalam hal ini editor), baik terkait teknis penerjemahan maupun hal-hal nonteknis.
  • Mudah dihubungi.
  • Bersikap terbuka kepada penerbit.
  • Sebaiknya tidak mengerjakan banyak order terjemahan pada saat bersamaan agar bisa fokus dan optimal dalam mengerjakan satu proyek terjemahan.
  • Bersedia ikut mempromosikan buku hasil terjemahan.
  • Jangan terlalu sering menolak tawaran.

2 komentar:

  1. Pak Aria, saya minta izin untuk menyalin tulisan Bapak yah.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh pak, tapi ini belum saya cantumkan sesi tanya jawabnya. Nanti akan saya update ya pak.

      Hapus