Minggu, 22 Juni 2014

Kecanduan (Beli) Buku

Salah satu godaan saat memegang uang dan melewati lapak/toko/kios buku adalah, tiba-tiba mata terpaut pada buku yang terpajang di etalase, rak, atau di terpal di bawah. Buku itu seperti penari yang menarikan tariannya dengan indah, memaut mata hingga sulit terlepas. Rangsangan dari mata lalu masuk ke dua tempat. Yang pertama adalah otak, beli atau tidak, butuh atau tidak, lalu uangnya bagaimana, sedang ada kebutuhan atau tidak. Tempat kedua, hati, ini bagus, ingin punya, tapi sedang ada tabungan, tapi sedang ini, tapi itu. dan lain sebagainya.

Apalagi kalau buku itu yang dicari-cari selama ini, langka setidaknya bagi diri kita sendiri.

Akhirnya, keputusan harus diambil. Misal, dibelilah dua buku. Lalu pulang ke rumah. Ditumpuklah buku itu, di atas meja.
Di atas tumpukan buku-buku yang juga belum terbaca. Beberapa waktu kemudian, kejadian seperti ini bisa terulang lagi.

Kemampuan membeli lebih besar dari kemampuan membaca. :D

Selasa, 10 Juni 2014

First Job

Bismillah,

Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan, semoga dengan pekerjaan ini aku bisa mendapatkan ilmu-ilmu baru, dan bisa meraih semua atau setidaknya sebagian cita-citaku.

Ngedosen, buka kios buku, lalu bisa menjadi toko buku kecil, syukur-syukur bisa sebesar Togamas, atau mungkin Gramedia? Jadi game developer, kuliah lagi, kuliah lagi, kuliah lagi, jadi penerjemah, daaaann seabreg lainnya.

Orang tua gimana? Itu sih sudah tidak perlu dibahas lagi.

Rasanya baru kemarin saya di sunat, eh, maksudnya rasanya belum lama saya mulai kuliah, ternyata sekarang sudah bekerja.

Ternyata, mesin waktu itu ada di masing-masing pikiran anak manusia.

Kamis, 05 Juni 2014

Definisi Budaya Asli Indonesia

Sebenarnya pertanyaan ini sudah saya pikirkan berulang kali.

Sebenarnya yang disebut "budaya asli Indonesia" itu bagaimana? Pertanyaan ini mulai muncul setelah saya sering membaca/mendengar kalimat-kalimat sejenis "anak muda jaman sekarang kurang mencintai budaya asli Indonesia, mereka lebih suka budaya asing".

Sebagai praktisi Aikido, saya pun sering membaca hal yang sejenis tentang pencak silat vs beladiri asing. Sebenarnya bukan mencari pembelaan, silahkan saja saya disebut "lebih cinta beladiri asing dibanding pencak silat", memang faktanya seperti itu.

Jadi begini, sepak bola, bulutangkis, olahraga yang populer di Indonesia itu, asalnya dari mana? Sepak bola itu dari luar negeri, Cina, Jepang, Yunani; dan badminton itu dari Inggris saat pendudukan di India, juga ada yang mirip di Jepang, walaupun memang tidak didaftarkan sebagai warisan negara mereka. Saat dewasa ini anak-anak dimasukkan ke sekolah sepak bola atau sekolah bulutangkis, kenapa tidak ada yang bilang mereka (atau orang tua mereka) lebih mencintai budaya asing?

Minggu, 01 Juni 2014

Bahasa Asing

Oke, kali ini saya sedang belajar bahasa Jerman. Tidak ada alasan khusus, saya hanya ingin menambah kemampuan bahasa asing saya, mungkin saja jika takdir berkata baik, bisa menjadi tambahan modal untuk profesi penerjemah yang ingin saya geluti.

Sejauh ini saya belajar bahasa Jerman secara otodidak di website Duolingo, website yang pernah saya review. Karena bahasa Jerman ini masih satu rumpun dengan bahasa Inggris dan bahasa Belanda, kemampuan berbahasa Inggris saya sangat membantu dalam mempermudah mengingat beberapa perbendaharaan kata bahasa Jerman saya. Seperti der Hund mirip dengan hound, die Maus mirip dengan mouse, atau das Insekt mirip dengan insect. Walaupun satu rumpun, bahasa Inggris tidak lagi menggunakan sistem gender di kata bendanya. Sehingga tidak ada klasifikasi apakah mouse itu feminin, maskulin, ataupun netral.

Untuk rencana ke depannya, jauuuhh ke depan, saya masih belum memikirkan apakah akan menambah lagi bahasa asing, walaupun saya tertarik bahasa Belanda, Prancis, dan Jepang. Well, wish me luck!

Gute Nacht!