Senin, 11 Agustus 2014

Saat Keluhan Dianggap Lemah

Suatu hari saya sedang menggulung-gulung tombol scroll tetikus saya saat twitteran, saya kemudian berhenti saat melihat kicauan Ridwan Kamil (walikota Bandung saat postingan ini ditulis), yang berkata "semakin perlunya pendidikan karakter di sekolah" sambil meretweet twit salah seorang pelajar Bandung yang mengeluhkan tentang sekolah jaman sekarang, keluhan itu dalam bentuk gambar, sebenarnya pelajar itu hanya mengiyakan gambar tersebut. Berikut gambarnya:

Embedded image permalink

Saat itu juga, para penyayang walikota, kemudian mem-bully pelajar tersebut dengan twit sumpah serapah, kutukan, cercaan, dan lain-lain. Salah satunya adalah "kalah sebelum berperang".

Jadi begini, gambar tersebut adalah suara hati pelajar. Dia mengeluh, karena memang sekolah jaman sekarang itu sangat tidak manusiawi. Lalu saat para pelajar mengeluh dengan keadaan yang tidak adil tersebut, apa lantas pelajar tersebut kalah sebelum berperang? Mereka bahkan mendapat serangan saat bangun tidur, dan menjelang tidur malam. Serangan yang bertubi-tubi berupa PR, tugas, ujian yang bertubi-tubi. Belum lagi di akhir tahun akan datang lagi ujian nasional, yang saking beratnya, membuat seorang siswi SMP bunuh diri setelah UN tahun ini.

Efek lebih dalamnya? Stress, frustrasi. Saya dengar JK pasangannya Jokowi itu pernah berkata "jangan permisif, kalau tidak dipaksa tidak akan belajar, lebih baik seribu anak stres daripada sejuta anak bodoh." Memangnya kalau stres berarti pintar?

Lalu yang bilang "kalah sebelum berperang" itu bagaimana dulu waktu masih sekolah? Entah, mungkin dia mencontek, mungkin pakai kunci jawaban, dan tidak merasa berdosa, toh berbuat curang juga salah satu hasil dari pendidikan Indonesia ini kok, dan sudah dimaklumi. Pengawas hanya diam-diam saja lihat ada kecurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar