Kamis, 12 Mei 2016

Belajar dari Elon Musk Melalui Tim Urban

Beberapa pekan lalu sebuah surel masuk ke kotak masuk akun saya, berita harian dari rubrik startup Asia, yaitu Tech In Asia. Ada beberapa berita yang dirangkum dalam surel tersebut, satu yang menarik perhatian saya adalah ini.

Di bagian bawah tulisan tersebut, penulis menuliskan kalimat yang cukup merubah pola pikir saya. Dia menulis sebagai berikut.
"Be aware of how your brain sometimes works against you. This blog post uses Elon Musk as an example to show how we can break out of the 50,000 year old survival software baked into our brains. It’s long, but worth the read."
Akhirnya saya membuka tautan tersebut, dan saya diarahkan menuju laman blog milik seseorang yang bernama Tim Urban. Nama blognya Wait But Why. Sebenarnya tulisan itu terdiri dari empat bagian. Bagian pertama membahas Elon Musk. Bagian kedua membahas Tesla. Bagian ketiga membasa SpaceX, bagian ini memiliki beberapa subbagian. Bagian terakhir, bagian yang sangat sangat penting menurut saya, membicarakan bagaimana otak Elon Musk bekerja. Tautan itu sendiri langsung mengarahkan ke bagian keempat.

Salah satu inti bagian keempat (selanjutnya saya sebut tulisan "ini") adalah, bahwa otak kita merupakan perangkat keras (hardware), dan pola pikir kita adalah perangkat lunaknya (software). Kenapa dia mengangkat masalah ini adalah, bahwa otak kita selama ini ternyata sudah di-instal perangkat lunak versi lama yang sangat mungkin tidak cocok lagi dengan keadaan sekarang. Dia menyinggung bagaimana saat anak kecil mulai memahami lingkunagannya, dia akan bertanya ini itu, mengapa begini, mengapa begitu, mengapa tidak boleh begini, mengapa tidak boleh begitu. Orangtuanya yang pusing, menjawabnya "karena aku bilang begitu".

Ada pola pikir yang hancur, berhenti, saat mendengar jawaban "karena aku bilang begitu". Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, saya akan mengutip wawancara Kevin Rose - Elon Musk, siapa tahu dengan kutipan ini, Anda bisa memahaminya.

“I think it is important to reason from first principles rather than by analogy. The normal way we conduct our lives is we reason by analogy. [When reasoning by analogy] we are doing this because it’s like something else that was done or it is like what other people are doing — slight iterations on a theme.
First principles is kind of a physics way of looking at the world. You boil things down to the most fundamental truths and say, “What are we sure is true?” … and then reason up from there.
Somebody could say, “Battery packs are really expensive and that’s just the way they will always be… Historically, it has cost $600 per kilowatt hour. It’s not going to be much better than that in the future.”
With first principles, you say, “What are the material constituents of the batteries? What is the stock market value of the material constituents?”
It’s got cobalt, nickel, aluminum, carbon, some polymers for separation and a seal can. Break that down on a material basis and say, “If we bought that on the London Metal Exchange what would each of those things cost?”
It’s like $80 per kilowatt hour. So clearly you just need to think of clever ways to take those materials and combine them into the shape of a battery cell and you can have batteries that are much, much cheaper than anyone realizes.” 
—Elon Musk
Saat Anda mendapatkan jawaban "karena aku bilang begitu", otak Anda akan berhenti berpikir, anak kecil yang bertanya akan buntu, pola pikirnya tidak berkembang, dan dia mendapat jawaban yang entah dari mana asalnya. Anda akan dipaksa mengikuti pola pikir yang membuat Anda harus mengikuti pakem yang ditentukan oleh orang-orang jaman dahulu, yang mungkin kepintarannya tidak lebih dari Anda, atau tidak lebih tahu dari Anda. Sejak kapan membeli perlengkapan bayi harus menunggu sampai janin berusia tujuh bulan? Entah, namun, masih ada teman-teman saya yang mengikuti aturan ini.

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa membaca tulisan di waitbutwhy.com, carilah Elon Musk blog series.
Sekian dulu untuk sekarang, di lain waktu, mungkin akan saya perbarui.

Update: 13 Mei 2016.
Hari ini, Google Doodle menampilkan hari lahir Daeng Soetigna, pencipta angklung diatonis. Dia mendobrak tradisi. Apakah mungkin angklung diatonis akan ada jika dia saat akan menciptakan angklung ini mendapat pertentangan hanya karena tradisi (terlepas dahulu beliau mendapat pertentangan atau tidak)? Tradisi adalah salah satu hasil perangkat lunak versi lama.

2 komentar:

  1. Selamat Siang,

    Saya sedang blogwalking dan menemukan blog anda.
    Saya Soraya dari http://serumah.com.
    Saat ini trend berbagi ruangan/roomsharing sangat gencar. Kami berinisiatif untuk membuat situs pencari teman sekamar agar orang-orang yang ingin menyewa rumah dapat berbagi tempat tinggal dan mengurangi biaya pengeluaran untuk tempat tinggal. Berawal dari ide tersebut, website serumah.com diluncurkan sejak awal tahun 2016.

    Saat ini saya membutuhkan bantuan anda untuk memberikan review mengenai serumah.com di situs blog anda. Kami sangat menghargai jika Anda bersedia untuk memberikan review terhadap website kami dan menerbitkan di blog anda.

    Mohon hubungi saya jika ada pertanyaan lebih lanjut. Saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

    Soraya F.
    Cataga Ltd.
    soraya.serumah@gmail.com
    http://serumah.com/

    BalasHapus
  2. jody@mail.postmanllc.net

    BalasHapus