Kamis, 04 Desember 2014

Para Orang Dewasa dan Anak Masa Kini

Hampir setiap hari saya berinternet, ya karena pekerjaan, ya karena ada modem juga di rumah. Kiriman-kiriman yang sering saya lihat adalah kurang lebih seperti ini: "anak jaman sekarang hanya sibuk main gadget". 

Memang itu benar adanya. Tapi dari redaksi kalimat tersebut, seolah-olah anak baru lahir langsung minta gadget, padahal siapa yang memberi gadget sebenarnya? Bagi saya, orang-orang dewasa di sekitarnya.

Anak tidak salah, mereka lahir di era teknologi mobile dan nirkabel berkembang dengan pesat. Mereka terlahir sebagai digital native. Tidak ada yang salah, Hanya sajat para orang dewasa agar berhati-hati dalam memberi contoh pada anak-anak kecil.

Senin, 03 November 2014

Urusan Menikahi Seorang Gadis

Di kiriman terakhir aku menjelaskan tentang urusan meminang seorang gadis. Pada 13 September aku melamar seorang gadis, dan baru dijawab pada 15 Oktober. Perasaan senang, bahagia, cemas, dan bersemangat datang.

Aku tak percaya aku sampai Insya Allah akan sampai pada fase kehidupan yang baru, yaitu menikah, menjadi seorang suami. Desember ini Insya Allah saya akan melangsungkan acara lamaran, yang didahului silaturahim dua keluarga hari minggu tanggal 9 November.

Urusan menikahi seorang gadis memang penuh dengan ujian dan cobaan. Seperti bagaimana menyatukan dua pikiran, dan menjaga kekompakan, juga saling memahami jika kondisi-kondisi tertentu tidak dapat dipenuhi.

Manusia terus belajar selama hidupnya, salah satunya dalam fase ini, fase jalan menuju pernikahan. Jalan yang bisa panjang dan bisa pendek, bisa berkelok dan banyak rintangan, bisa juga lurus dan tak banyak rintangan walau kecil kemungkinannya.

Dear semuanya, semoga aku jadi menikah dengan gadis yang sudah kulamar. :)
Aamin.

Kamis, 11 September 2014

Urusan Meminang Seorang Gadis

Urusan meminang atau melamar seorang gadis memang membuat seorang pria bingung, cara apa yang harus dilakukan, dan yang hasilnya sesuai harapan. Hal yang saya rasakan saat ini adalah pada intinya dia harus berani melakukannya apapun hasilnya, pada akhirnya, pasti, akan melamar, entah diterima atau ditolak. Entah akan terlihat konyol, romantis, bodoh, atau ceroboh, urusan hati dimensi subjektivitas. Tidak bisa begitu saja mencontek seperti film atau buku. Beda orang, beda cara.

Rasakan saja kemana "angin" dari Tuhan akan menggerakkan pikiran, tangan, dan kakimu. Untuk niat yang baik, berdoalah yang terbaik, sehingga diberikan yang terbaik, lakukan yang terbaik.

-Bandung-

Rabu, 03 September 2014

Tiga Bulan!

Well, sudah menginjak bulan ke tiga sejak saya pertama kali bekerja di Akhdani Reka Solusi, tempat kerja saya yang pertama. Hari ke-90 sebenarnya sekitar tanggal 11 bulan september ini.

Banyak ilmu yang saya dapatkan di sini. Terima kasih banyak untuk kru Akhdani Reka Solusi mau menerima newbie seperti saya ini, apalagi untuk web yang saya belum pernah menyentuhnya untuk pembangunan perangkat lunak.

Semoga dari sini menjadi titik awal karir saya yang cemerlang dan menanjak teruuuss.. :)

Terima Kasih Allah, orang tua, teman-teman, Akhdani. :)

Salam.

Senin, 11 Agustus 2014

Saat Keluhan Dianggap Lemah

Suatu hari saya sedang menggulung-gulung tombol scroll tetikus saya saat twitteran, saya kemudian berhenti saat melihat kicauan Ridwan Kamil (walikota Bandung saat postingan ini ditulis), yang berkata "semakin perlunya pendidikan karakter di sekolah" sambil meretweet twit salah seorang pelajar Bandung yang mengeluhkan tentang sekolah jaman sekarang, keluhan itu dalam bentuk gambar, sebenarnya pelajar itu hanya mengiyakan gambar tersebut. Berikut gambarnya:

Embedded image permalink

Saat itu juga, para penyayang walikota, kemudian mem-bully pelajar tersebut dengan twit sumpah serapah, kutukan, cercaan, dan lain-lain. Salah satunya adalah "kalah sebelum berperang".

Jadi begini, gambar tersebut adalah suara hati pelajar. Dia mengeluh, karena memang sekolah jaman sekarang itu sangat tidak manusiawi. Lalu saat para pelajar mengeluh dengan keadaan yang tidak adil tersebut, apa lantas pelajar tersebut kalah sebelum berperang? Mereka bahkan mendapat serangan saat bangun tidur, dan menjelang tidur malam. Serangan yang bertubi-tubi berupa PR, tugas, ujian yang bertubi-tubi. Belum lagi di akhir tahun akan datang lagi ujian nasional, yang saking beratnya, membuat seorang siswi SMP bunuh diri setelah UN tahun ini.

Efek lebih dalamnya? Stress, frustrasi. Saya dengar JK pasangannya Jokowi itu pernah berkata "jangan permisif, kalau tidak dipaksa tidak akan belajar, lebih baik seribu anak stres daripada sejuta anak bodoh." Memangnya kalau stres berarti pintar?

Lalu yang bilang "kalah sebelum berperang" itu bagaimana dulu waktu masih sekolah? Entah, mungkin dia mencontek, mungkin pakai kunci jawaban, dan tidak merasa berdosa, toh berbuat curang juga salah satu hasil dari pendidikan Indonesia ini kok, dan sudah dimaklumi. Pengawas hanya diam-diam saja lihat ada kecurangan.

Minggu, 06 Juli 2014

Rumah Belajar Sahaja: Satu Tahun Lalu

Sejak Juli 2013, saya menjabat sebagai kepala sekolah di Rumah Belajar Sahaja Ciroyom. Dan tadi malam, amanah yang menantang namun penuh harta karun itu akhirnya berpindah tangan. :)

Banyak harta karun yang kudapat, tapi banyak juga para penyamun yang menghadang ditambah jebakan-jebakannya, juga kebimbangan saat mengambil keputusan, dan itu salah satu bagian dari harta karunnya.

Terima kasih Rubel Sahaja, terima kasih semuanya yang ada di dalam situ, terima kasih rekan-rekan relawan, terima kasih adik-adik, orang-orang masjid Ar-Rosada. Kalian akan selalu kuingat.

Btw, postingan ini bukan perpisahan, karena setelah turun jabatan dari kepsek, saya tidak akan kemana-mana. Sejauh ini, hatiku masih tertaut di Rubel Sahaja ini, dengan seluruh semak berduri dan misteriusnya. Yang bisa menyimpan harta karun yang sangat berharga, namun tetap berhati-hati pada jebakan.

Kamis, 03 Juli 2014

Game Review: Papers, Please

Salah satu kebiasaan saya dalam urusan game adalah memilih yang tidak terlihat, atau idiom bahasa Inggrisnya hidden gem. Jadi lusa kemarin saya memainkan game yang super duper unik, gameplaynya menarik, dan lebih tepat disebut puzzle.

Diceritakan negara Artstotzka pada tahun 1982 akhirnya membuka pintu perbatasannya untuk para warganya yang mau pulang setelah perang selama 6 tahun selesai. Dan terbuka juga bagi warga negara tetangga yang ingin berkunjung.

Tugas Anda mudah, memberi cap boleh masuk negara itu, atau menolaknya. Lalu apa tantangnnya? Anda harus memeriksa dokumen-dokumen para pengunjung, seperti masa berlaku paspor, kemiripan foto, dokumen lain seperti izin masuk, keterangan kesehatan, atau apakah dia salah satu buronan. Dan akan terus bertambah.

Menurut review lain, game ini terdiri dari 30 level, satu level adalah satu hari. Jadi Anda harus melewati satu bulan dengan selamat. Setiap level akan ada catatan keuangan, dan kondisi keluarga, istri, anak, mertua. Kondisinya sejauh ini 'OK'. Apa maksudnya? Saya juga belum faham, tapi sepertinya, jika pekerjaan kita baik, maka keluarga kita akan baik-baik saja. Tapi jika tidak, keluarga kita terancam bahaya.

Bagi Anda yang lebih senang bermain game fast-paced dan action seperti FPS, sepertinya ini tidak akan cocok. Tapi bagi Anda yang selalu tertantang pada teka-teki, ketelitian, ini sangat cocok untuk Anda.

Ukuran filenya? 32MB. Bukan GB! :)

Tampilannya akan sangat retro, pixelated. Tapi itu menjadi cita rasa klasik pada game ini. Satu best review di GOG.com oleh pengguna bernama Overity yang memberikan nilai 5 dari 5 berkata:

Innovative and addictive

Posted on 2013-08-08 08:50:57 byOverity's avatarOverity:
Papers, Please is a real refreshment on today's game market. It has a realistic concept which puts the player in the role of an immigration officer on a border between two countries that just ended their six years’ war. The year is 1982 and everything in-game gives you that retro feeling of life in a communist, Russia-like country of Arstotzka. Your primary goal can be described as stamping "Denied" or "Approved" on peoples' passports. And you will do that all the time.
But why is this a good thing? Because this game is so much more than a border control simulation. In order to finish the game, you will have to survive for one month, one level being one day. Surviving means earning enough money to support yourself and your family. You earn money by processing people. Various decisions which can affect your daily paycheck will arise from time to time. I was simply astonished when I had to choose between getting a penalty for letting someone with a good, believable story in the country and ruthlessly denying them for valid reasons.
Many games offer a main choice of good guy - bad guy but in Papers, Please that choice has a strong point, it has a meaning. You can finish the game playing as a robot, doing the thing you are supposed to do. However, you will find yourself doing a good, humanly thing rather than the emotionless, but legal one. Five stars, no doubt.

Penasaran? Kunjungi situsnya http://papersplea.se/

Selasa, 01 Juli 2014

Mencari Nilai Keyakinan Iman Islam Dalam Diri Orang-Orang Islam di Indonesia

Yak, post berikutnya. Format judulnya mirip-mirip dengan postingan sebelum ini. Tapi ingat, baik post tersebut dan post ini, tidak membahas islam, tapi membahas orang-orangnya.

Di bulan Ramadhan, tempat makan harus tutup! Saya beberapa kali mendengar hal itu, atau membaca berita seperti itu. Saya sering bertanya-tanya, kenapa? Karena takut tergoda! Betul. Lalu, yang tidak puasa dan tidak masak di rumah harus makan apa!? Batu? Pasir? Atau garuk-garuk batang pohon!?

Maksud saya. Apakah mereka yang menuntun untuk tempat makan agar tutup itu yakin atau tidak pada kekuatan iman mereka sendiri menahan lapar dan haus? Apakah karena mereka tidak yakin? Lantas membuat orang yang tidak berpuasa tidak nyaman? Terganggu? Mereka sepertinya semakin membuat Islam semakin jelek. Islam terlihat seperti sombong, angkuh, atau mungkin hanya karena mereka mayoritas di Indonesia!? Padahal yang muslim di negara yang mayoritas non-muslim, tidak tergoda dan tetap berpuasa dengan lancar.

Ini negara bukan negara Islam. Mereka harus sadar. :)

Islam itu toleran. Kita juga harus toleran! Jangan sombong! Jangan angkuh! Janganlah kalian jadi seperti FPI. Merusak sana-sini, menghajar sana-sini.

Minggu, 22 Juni 2014

Kecanduan (Beli) Buku

Salah satu godaan saat memegang uang dan melewati lapak/toko/kios buku adalah, tiba-tiba mata terpaut pada buku yang terpajang di etalase, rak, atau di terpal di bawah. Buku itu seperti penari yang menarikan tariannya dengan indah, memaut mata hingga sulit terlepas. Rangsangan dari mata lalu masuk ke dua tempat. Yang pertama adalah otak, beli atau tidak, butuh atau tidak, lalu uangnya bagaimana, sedang ada kebutuhan atau tidak. Tempat kedua, hati, ini bagus, ingin punya, tapi sedang ada tabungan, tapi sedang ini, tapi itu. dan lain sebagainya.

Apalagi kalau buku itu yang dicari-cari selama ini, langka setidaknya bagi diri kita sendiri.

Akhirnya, keputusan harus diambil. Misal, dibelilah dua buku. Lalu pulang ke rumah. Ditumpuklah buku itu, di atas meja.
Di atas tumpukan buku-buku yang juga belum terbaca. Beberapa waktu kemudian, kejadian seperti ini bisa terulang lagi.

Kemampuan membeli lebih besar dari kemampuan membaca. :D

Selasa, 10 Juni 2014

First Job

Bismillah,

Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan, semoga dengan pekerjaan ini aku bisa mendapatkan ilmu-ilmu baru, dan bisa meraih semua atau setidaknya sebagian cita-citaku.

Ngedosen, buka kios buku, lalu bisa menjadi toko buku kecil, syukur-syukur bisa sebesar Togamas, atau mungkin Gramedia? Jadi game developer, kuliah lagi, kuliah lagi, kuliah lagi, jadi penerjemah, daaaann seabreg lainnya.

Orang tua gimana? Itu sih sudah tidak perlu dibahas lagi.

Rasanya baru kemarin saya di sunat, eh, maksudnya rasanya belum lama saya mulai kuliah, ternyata sekarang sudah bekerja.

Ternyata, mesin waktu itu ada di masing-masing pikiran anak manusia.

Kamis, 05 Juni 2014

Definisi Budaya Asli Indonesia

Sebenarnya pertanyaan ini sudah saya pikirkan berulang kali.

Sebenarnya yang disebut "budaya asli Indonesia" itu bagaimana? Pertanyaan ini mulai muncul setelah saya sering membaca/mendengar kalimat-kalimat sejenis "anak muda jaman sekarang kurang mencintai budaya asli Indonesia, mereka lebih suka budaya asing".

Sebagai praktisi Aikido, saya pun sering membaca hal yang sejenis tentang pencak silat vs beladiri asing. Sebenarnya bukan mencari pembelaan, silahkan saja saya disebut "lebih cinta beladiri asing dibanding pencak silat", memang faktanya seperti itu.

Jadi begini, sepak bola, bulutangkis, olahraga yang populer di Indonesia itu, asalnya dari mana? Sepak bola itu dari luar negeri, Cina, Jepang, Yunani; dan badminton itu dari Inggris saat pendudukan di India, juga ada yang mirip di Jepang, walaupun memang tidak didaftarkan sebagai warisan negara mereka. Saat dewasa ini anak-anak dimasukkan ke sekolah sepak bola atau sekolah bulutangkis, kenapa tidak ada yang bilang mereka (atau orang tua mereka) lebih mencintai budaya asing?

Minggu, 01 Juni 2014

Bahasa Asing

Oke, kali ini saya sedang belajar bahasa Jerman. Tidak ada alasan khusus, saya hanya ingin menambah kemampuan bahasa asing saya, mungkin saja jika takdir berkata baik, bisa menjadi tambahan modal untuk profesi penerjemah yang ingin saya geluti.

Sejauh ini saya belajar bahasa Jerman secara otodidak di website Duolingo, website yang pernah saya review. Karena bahasa Jerman ini masih satu rumpun dengan bahasa Inggris dan bahasa Belanda, kemampuan berbahasa Inggris saya sangat membantu dalam mempermudah mengingat beberapa perbendaharaan kata bahasa Jerman saya. Seperti der Hund mirip dengan hound, die Maus mirip dengan mouse, atau das Insekt mirip dengan insect. Walaupun satu rumpun, bahasa Inggris tidak lagi menggunakan sistem gender di kata bendanya. Sehingga tidak ada klasifikasi apakah mouse itu feminin, maskulin, ataupun netral.

Untuk rencana ke depannya, jauuuhh ke depan, saya masih belum memikirkan apakah akan menambah lagi bahasa asing, walaupun saya tertarik bahasa Belanda, Prancis, dan Jepang. Well, wish me luck!

Gute Nacht!

Kamis, 29 Mei 2014

Pertanyaan Tentang Politik

Hiruk pikuk pemilihan umum di Indonesia kembali merajai berita-berita di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Sekitar belasan partai yang kini lolos, berusaha mencari perhatian rakyat untuk memilih mereka, yang kemungkinan besar akan dilupakan setelah terpilih.

Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa peluang pihak independen itu sedikti sekali?
Kenapa semua yang ingin melanggeng ke kursi dpr dan presiden harus melewati kelompok yang disebut partai. Kelompok yang lebih terlihat orang-orang ambisius, mungkin orang baiknya tenggelam di paling dalam, perjuangannya perlu sangat besar untuk mencapai atas.

Jadi begini, misal ada orang yang benar-benar hebat, anggaplah dia terlahir dengan jiwa kepemimpinan yang hebat, tidak akan korupsi, dilindungi oleh teman-teman dan keluarga hebat, yang mengajarkan dari kecil bahwa kejujuran adalah yang utama. Bagaimana jika, dia ingin menjadi presiden, dengan niat yang benar-benar mulia, anggaplah jika dia memimpin, Indonesia menjadi negara super power dengan kesejahteraan yang sangat merata di seluruh pelosok Indonesia.

Lalu, karena dia ingin menjadi presiden, dia harus masuk partai. Pikirannya yang berwarna-warni, mengutamakan semua golongan, karena masuk partai yang hanya satu warna, menjadi terstandarisasi, mirip UN, terstandarisasi, seperti batu bata, yang dibanting langsung hancur. Partai, yang isinya satu warna, namun berjuta kepala dan tangan, menjadi hiruk pikuk, mereka semua saling sikut-sikutan, berdusta, bersiasat, dengan cara yang buruk, untuk menjadi presiden. Akhirnya, orang yang kita bicarakan ini menang, tapi dia mengerti bahwa curang itu perlu, akhirnya, kejujuran yang ada di hatinya, luntur.

Partai, yang bilang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, kenapa harus satu warna?
Kenapa, ada pihak pemerintah, dan ada pihak oposisi? Kenapa hanya oposisi yang berfungsi sebagai counter bagi kebijakan-kebijakan pemerintah? Itu kan artinya, yang sepihak pemerintah, mau pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bijak dan tidak bijak bahkan kejam tak adil sekalipun, harus didukung.
Bukankah seharusnya, meskipun satu pihak atau lain pihak, jika kebijakan tidak bijak, maka harus diperbaiki?

Jika ada mesin yang menstandarisasi seperti UN, maka politik pun mungkin akan sama. Terstandarisasi, seperti membangun apa-apa hanyaaaa di Jakarta. Orang-orang DPR yang merasa pintar tentang orang-orang di area terluar Indonesia, merasa paling tahu, nyatanya tidak tahu apa-apa. Pengetahuan mereka sedikit. Mereka tidak suka membaca, mereka hanya suka kursi! Ambil kursi dari rumahmu sana!

Saya hanya benci partai. Kita memilih presiden! Presiden! Yang memimpin Indonesia lima tahun ke depan, memimpin rakyat. Tapi kenapa pilihannya hanya terbatas HANYA pada PARTAI YANG MENANG, PARTAI YANG LOLOS ELECTORAL THRESHOLD!

Website Review: Duolingo

Duolingo adalah website yang menyediakan pembelajaran bahasa asing, hebatnya website ini gratis, benar-benar gratis. Tidak ada istilah gratis untuk trial, gratis untuk fasilitas terbatas. Nope. Nothing. It's completely free!


Saya sudah mencobanya, untuk belajar bahasa Jerman bagi penutur bahasa Inggris. Dan ini cocok untuk saya yang belajar pelan-pelan dan benar-benar dari tata bahasa. Menurut reviewer lain web ini cocok untuk pembelajaran jangka panjang, tapi tidak cocok untuk calon pelancong ke negeri Jerman yang membutuhkan kalimat-kalimat yang umum diucapkan.

Konten kursus di web ini beberapa ditambahkan oleh kontributor yang terpilih, untuk menjadi kontributor pasangan bahasa yang kita kuasai, kita bisa mengajukan lamaran, jika diterima kita bisa membantu mengolah konten pasangan bahasa tersebut. Untuk penutur bahasa Indonesia, baru ada kursus bahasa Inggris, itupun masih dalam versi beta dan masih belum stabil.

Cara belajar di web ini adalah dengan menerjemahkan antara bahasa, memilih di antara beberapa pilihan, mendengar suara, dan belajar berbicara menggunakan mikrofon. Jika merasa sudah mahir, kita bisa masuk ke bagian Immersion di mana kita bisa menerjemahkan dokumen yang pengguna lain unggah ke Duolingo. Setiap terjemahan per kalimat kita yang dinilai benar oleh sesama pengguna, akan mendapatkan nilai positif. Dari nilai-nilai positif itu bisa dilihat sejauh mana kemampuan kita berbahasa asing, setidaknya dalam hal tertulis.

Jadi, bila gratis, bagaimana mereka mendapatkan uang untuk menjalankan webnya? Mereka memberikan jasa penerjemahan dokumen berbayar, berbeda dengan yang gratis di atas. Sehingga

Sejauh ini bagi saya web ini sangat aditif, memanfaatkan hal yang bernama gamification (memasukkan unsur game ke non-game), seperti nyawa yang berkurang saat salah menjawab pertanyaan, mata uang khusus untuk membeli pengisi nyawa, kelas kursus tambahan, kelas latihan tambahan, dan beberapa hal lain.

Terdapat juga leaderboard di antara kita dan teman-teman kita untuk melihat siapakah yang memiliki nilai tertinggi selama satu minggu terakhir, satu bulan terakhir, atau sejak bergabung Duolingo.

Cobalah sekarang, langsung belajar bahasa asing yang Anda inginkan. Ada bahasa Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, tentu saja Inggris, dan beberapa bahasa asing lain yang masih dalam proses perkembangan seperti Gaelic, Rumania, Turki, dan akan terus bertambah seiring minat yang masuk ke Duolingo.

Jika tertarik, bisa mencoba Duolingo di tautan berikut: duolingo.com

Rabu, 28 Mei 2014

Catatan Komp@k HPI

Tanggal 24 Mei kemarin saya menghadiri pertemuan Komp@k HPI, yaitu pertemuan para penerjemah yang diselenggarakan oleh HPI Komda Jabar, bentuk acaranya sendiri adalah temu wicara (talk show). Berlokasi di STBA YAPARI ABA.

Narasumbernya adalah Anton Kurnia, penerjemah dan redaksi Serambi; Fahmy Yamani penerjemah buku, saudara kembar Femmy Syahrani dan dari Sofia Mansoor yang juga seorang penerjemah; dan pembicara terakhir adalah Eva Y. Nukman, penerjemah Jerman dan juga penyunting.

Di sini saya akan menulis semua yang ada di catatan saya, yang semuanya berupa inti-inti atau kalimat yang para narasumber ucapkan yang menurut saya penting.

Menerjemahkan harus menyenangkan.
Sebelum melamar ke penerbit, kuasai dulu bahasa Indonesia, tata bahasanya, EYD, pelajari juga buku-buku tentang penerjemahan.
Jangan patah semangat kalau lamaran tidak direspon.
-Fahmy-

Menyunting tidak hanya mengubah, tapi juga meningkatkan keakuratan dan keterbacaan.
Bagi saya menerjemahkan itu menjadi dipaksa membaca. Dibayar pula.
Penerjemahan itu tidak bisa hanya "sekadar (menerjemahkan -Aria)". Bukan hanya alih bahasa, karena ada usaha menjembatani dua budaya yang berbeda (alih budaya).
Bagaimana menyampaikan tulisan penulis.
-Eva-

Untuk menerjemahkan di penerbit ada berbagai cara:
1. Rekomendasi, 2. lamaran, 3. perlu ada spesialisasi.
Untuk rekomendasi bentuknya bisa mengajukan proposal buku yang sebaiknya diterjemahkan. Penerbit memiliki dua cara memilih penerjemah, yaitu penunjukan langsung atau tender.
Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta akan menghasilkan hasil yang lebih baik.
Biasanya yang mejadi masalah adalah sisi bahasa Indonesianya, padahal kemampuan bahasa asingnya baik.
Seperti kata mas Fahmy, jangan takut untuk melamar, juga lampirkan contoh terjemahan, karena hal itu yang dinilai.
Kriteria penerjemahan: usahakan jangan melanggar tenggat. Menjalin komunikasi, jika ada kesulitan (sakit, kecelakaan, dll sehingga tenggat tertunda oleh faktor luar) jangan ragu untuk berdiskusi.
-Anton-

Penerjemah bisa melakukan negosiasi. Jika terlambat maka harus memberi kabar sebelumnya.
-Fahmy-

Tips saat menjadi penerjemah:
- Pelajari naskah sebelum "ya". Pelajari naskah bicara tentang apa.
- Jaga komunikasi dengan penyunting dan penerbit.
- Kualitas terjemahan yang utama. Kalau hanya jumlah pengalaman yang diukur, tentu tidak ada kesempatan bagi penerjemah yang baru.
- Penuhi target.
- Tingkatkan kualitas dan pertahankan.

Konsistensi di dalam kata di buku bagi saya tidak terlalu diperlukan. Contoh: meskipun, walaupun.
CAT Tools bisa? Bisa. Harus? Tidak.
Untuk yang sering melewat kalimat perlu.
-Eva-

Buku jarang sekali kalimat yang berulang. Sehingga CAT Tools tidak diperlukan.
-Fahmy-

Sesi Tanya Jawab:
Penanya 1:

Catatan oleh Anton Kurnia
Beberapa kiat bagi penerjemah agar "disayangi" penerbit:
  • Menguasai dengan baik perangkat menerjemahkan (bahasa asing, bahasa sasaran, program komputer, referensi - termasuk pengetahuan tentang ejaan yang berlaku).
  • Hasil terjemahan dikerjakan sebaik-baiknya, "sudah bersih", tidak perlu terlalu banyak disunting.
  • Menyerahkan hasil terjemahan tidak melebihi tenggat.
  • Bersedia memberi umpan balik, masukan, atau kritik membangun terkait terjemahan.
  • Mau mengikuti gaya selingkung penerbit untuk memudahkan proses penyuntingan.
  • Memiliki pengetahuan tambahan dan referensi yang baik terkait teks yang diterjemahkan.
  • Menjaga komunikasi dengan penerbit (dalam hal ini editor), baik terkait teknis penerjemahan maupun hal-hal nonteknis.
  • Mudah dihubungi.
  • Bersikap terbuka kepada penerbit.
  • Sebaiknya tidak mengerjakan banyak order terjemahan pada saat bersamaan agar bisa fokus dan optimal dalam mengerjakan satu proyek terjemahan.
  • Bersedia ikut mempromosikan buku hasil terjemahan.
  • Jangan terlalu sering menolak tawaran.

Kamis, 08 Mei 2014

Buku dari Akun Twitter

Beberapa hari kemarin, saya meng-unfollow beberapa akun Twitter yang menurut saya tidak menarik, dan, dia hanya berjualan. Berjualan apa? Berjualan buku.

Sudah banyak buku-buku yang terbit setelah satu akun Twitter memiliki follower yang banyak.
Biasanya dia buat akun Twitter, topiknya ada yang ga jelas, cinta-cintaan, dan lain-lain.
Twitnya hanya ngebanyol, jadi orang banyak yang suka, ada juga yang kata-kata motivasi, atau kata-kata baik seperti tema rohani atau moral, kata-kata menyentuh. Lalu setelah orang-orang suka, lalu follower bertambah, setelah followernya banyak, barulah bikin buku.

Tidak salah memang, hanya saja, sekarang membuat buku ternyata semudah itu. Hanya dengan paket internet, browser, lalu aplikasi untuk menulis bukunya, maka jadilah satu buku yang siap dikirim ke penerbit, dengan follower yang banyak, dia bisa meyakinkan penerbit buku ini akan laku.

Terkadang saya jadi berpikiran negatif (Astaghfirullah), sebenarnya dia membuat akun twitter itu untuk apa? Apakah memang dari awal niat membuat buku untuk berjualan? Sayangnya kontennya terkadang tidak terlalu tinggi. Jangan-jangan karena hanya meraup uang, konten yang seharusnya mencerdaskan pembaca, jadi terpinggirkan.

Saya pernah mengikuti pertemuan di Kineruku. Salah seorang di situ berkata "membuat buku sekarang mudah, asal punya follower banyak, bisa bikin buku". Lalu salah seorang lain menjawab (dia membuat buku untuk followernya, walaupun self publishing), "saya membuat buku dengan kata-kata sederhana untuk konten-konten yang serius, seperti A,B,C" (saya lupa temanya), "karena memang dengan kalimat-kalimat sederhana mereka bisa menyerap informasi yang kontennya serius."

Salah seorang temannya menjawab "merendahkan untuk untuk mengangkat (kemampuan menyerap informasi follower)"
Lalu orang yang mengucapkan membuat buku itu mudah berkata "tidak jelas juga mereka naik atau tidak."

Saya setuju dengan pendapatnya.

Well, what do you think?

Jumat, 02 Mei 2014

Fiery on Fairy Tale

Currently my mind is fiery with fairy tales from Europe, e.g. Cinderella, Rapunzel, Red Riding Hood, Beauty and The Beast, Little Match Girl, Sleeping Beauty, Snow Queen.

It is wonderful to read those stories, which is from well-known authors and/or fairy-tale-collectors such as the Brother Grimm with his hundreds fairy tales, Hans Christian Andersen with his two volume fairy tales books, and Charles Perrault. The other lesser known is Giambattista Basile with his Il Pentamore, and Andrew Lang with his a series of Pokemon-game-title-like fairy tales book.

It was a month ago when I watched Disney Frozen, it was very interesting, very good, and very musical. Since it was loosely based from H.C. Andersen's Snow Queen, so I google it and read it. And it was, interesting too. Then I watched Disney Tangled, and it was interesting too. And since that time, I interseted to fairy tales.

Then I read some well-known fairy tales, and found gruesome version of it. Like Cinderella, with a variant where her two stepsister is cutting their heel so that their feet can fit to the little glass slipper.

Or how tragic death of little match girl, which is dies after running out of matches.

And from that stories, I'm interested making a fan fiction version. So that not-so-happy ending fairy tale can be a-little-more-happy ending, at least at my own head and heart.

I'll post more stories, I'll be very happy if you guys read it, and appreciate it with comments. Thanks in advance! :)

Rabu, 30 April 2014

Gadis Penjual Rokok dan Gadis Penjual Korek Api

Jaman dahulu kala, di malam tahun baru yang bersalju di London, seorang gadis kecil berjalan sendirian, mantel tipis dan sandal lusuh, dengan keranjang kecil yang ditutupi kain berwarna biru. Dia berjalan perlahan, mencari tempat ramai di sudut kota, untuk menjual rokok-rokoknya.

Dia mengambil tempat di depan toko yang sudah tutup, berdiri diam menghadap ke jalan memunggungi jendela toko. Dia keluarkan satu bungkus rokok dari keranjangnya, dan dia arahkan pada setiap orang yang lewat. "Rokoknya bu, pak, murah, beli dua dapat dua." Seorang lelaki paruh baya yang berjalan di depannya sambil memasukkan tangan ke dalam saku jaket seketika berhenti, tertarik mendengar tawarannya. "Berapa harga rokoknya nak?" tanyanya.
"Seratus sen satu bungkus pak."
"Satu poundsterling maksudmu?"
"Bukan pak, seratus sen."
"Satu poundsterling itu seratus sen."
"Beda pak, satu poundsterling itu uangnya poundsterling. Seratus sen itu uangnya sen."
"Terserahmulah, saya beli dua."
"Nih pak." Sambil mengambil satu lagi bungkus rokok lalu memberikannya.
"Dua lagi mana?"
"Loh katanya beli dua pak?"
"Katanya tadi beli dua dapat dua?"
"Iya beli dua kan dapetnya dua bungkus."
"Loh harusnya saya dapat empat, kan karena beli dua, dapat dua bungkus lagi. Jadi empat."
"Oh gak pak, kalo gitu saya pasti bilang 'beli dua bonus dua'. Lah saya kan bilang 'beli dua dapat dua'."
"Zzzzzzz. Ya sudah, terserahmu lagi lah" Ucap lelaki itu kesal.
"Oke pak. Uang pas ya pak. Saya ga bawa uang."
"Heuh, niat jualan ga sih."
"Ga niat pak."
Lelaki itu menatap dengan pandangan lebih kesal dari sebelumnya lalu melanjutkan perjalanannya.

Gadis itu kembali mengeluarkan satu bungkus rokok lalu dia jajakan lagi pada orang-orang yang lewat.
"Rokok pak bu, murah, sekarang bayar besok gratis."
Seorang pria muda tetiba saja berhenti melangkah dan berbalik arah ke gadis itu.
"Apa kau mengatakan rokok gratis?"
"Iya pak, tapi besok, sekarang bayar?"
"Maksudmu?"
"Iya gitu, sekarang bayar besok gratis."
"Hmm aku pikir gratis sekarang. Ya sudah saya beli satu. Besok gratis ya. Berapa harganya?"
"Satu poundsterling ."
Gadis itu memberikan rokoknya dan menerima uang satu poundsterling dari pria itu, pria itu kemudian pergi ke arah yang dia tuju sebelum berbalik membeli rokok.

Gadis itu kembali menjajakan rokoknya.
"Rokok pak bu, murah, beli dua dapat satu."
Seorang pria paruh baya yang mendengar itu langsung berhenti di depannya.
"Berapa harga rokokmu?"
"Seratus sen pak."
"Satu poundsterling maksudmu."
"Iya pak terserahmulah."
"Saya beli dua." sambil mengeluarkan dua lembar uang satu poundsterling.
"Ini pak." gadis itu memberikan bungkus rokok yang ada dalam genggamannya.
"Dua lagi mana?" lelaki itu menarik sedikit tangannya sendiri saat akan memberikan uangnya.
"Hah? Bapak beli dua kan?"
"Iya. Katamu kan beli dua dapat satu. Jadi tiga kan."
"Lah, nggak pak. Belinya dua, dapatnya satu bungkus."
"Yeeee, gimana sih. Tidak jadi beli!"
"Yeee bapak, niat beli ga sih!"
"Kamu yang niat jualan ga!?"
"Ga niat pak. Puas!?"
Lelaki itu super kesal lalu pergi menjauh dengan cepat. Mendengus keras seperti sapi dengan wajah kesal.

Gadis itu melanjutkan menjajakan rokoknya.
"Rokok pak bu, murah, satu poundsterling saja."
Dan dia terus melanjutkan menjual rokoknya, hingga sekitar satu jam, rokoknya sudah habis. Malam itu memang dingin, semua orang menggunakan jaket tebal, sarung tangan, sepatu boot yang hangat, dan berbagai macam penutup kepala agar badan mereka hangat. Mereka juga berjalan cepat agar aliran darah mengalir lebih cepat sehingga menghangatkan tubuh mereka dari dalam.

***

Gadis penjual rokok itu akhirnya berjalan pulang, tapi mengambil jalan memutar, agar dia bisa di luar lebih lama. Dia mencari jalan-jalan baru yang belum pernah dilewatinya. Dia memang memiliki jiwa petualang. Kali ini dia berjalan tanpa arah pasti, tiba-tiba di melewati tempat yang terdapat sudut yang tercipta karena dua rumah. Gadis penjual rokok melihat cahaya di sudut itu, cahaya yang kecil. Lalu dia melihat tangan dan wajah, dia mendekat dan melihat seorang gadis yang menggunakan celemek, bertelanjang kaki, menggunakan sehelai kain tipis dengan motif kotak-kotak untuk menghangatkan tubuhnya, tanpa jaket, atau sarung tangan, atau penutup kepala. Dan dia duduk di atas salju, juga tanpa alas.

Gadis penjual rokok mendekatinya, dan dia melihat, gadis penjual korek api. Gadis penjual korek api menyadari seseorang yang mendekat saat dia tampaknya sedang berhalusinasi dengan menatap ke arah dinding rumah yang menciptakan sudut tempat dia duduk. Dia menoleh ke arah gadis penjual rokok.

"Hai," kata gadis penjual rokok.
"Hai," balas gadis penjual korek api.
"Sedang apa kau di sini? Di sini dingin, kau bertelanjang kaki dan duduk di atas salju tanpa alas apapun. Kau bisa mati kedinginan." ucap gadis penjual rokok.
"Aku sedang menjual korek api, tapi tidak ada yang membelinya, dan aku tidak berani pulang, karena jika pulang tanpa membawa uang, aku tidak bisa membeli obat untuk ayahku."
"Kejamnya ayahmu. Ayo ikutlah denganku."
"Ke mana?"
"Aku akan membuatmu nyaman."
Gadis penjual rokok membantunya berdiri, melepaskan sandalnya dan memberikannya pada gadis penjual korek api.
"Pakailah."
"Tapi kakimu akan membeku."
"Ya, tapi baru akan, sedangkan kakimu sudah mulai membeku. Pakailah."
"Terima kasih."
Mereka berjalan berdampingan.
"Kita mau ke mana?" tanya gadis penjual korek api.
"Kita ke rumahku, ibuku akan memberimu sup hangat, dan selimut."
"Terima kasih, kalian baik sekali pada orang asing sepertiku."
"Tidak apa-apa. Kita kan sudah berkenalan, jadi bukan lagi orang asing."
Gadis penjual korek api hanya tersenyum.
"Ayo kita berjalan lebih cepat. Agar tubuh kita bisa lebih hangat."
"Betul sekali."
Mereka berdua mempercepat langkah mereka. Mereka melangkah cukup jauh hingga tiba-tiba gadis penjual rokok berhenti mendadak.
"Tunggu, ayo kita membeli sendal jepit." sambil mendekati toko kecil yang terang dan hangat.
"Ah ya, untukmu. Kau kan bertelanjang kaki."
"Pak, berapa harga sendal jepit?" tanya gadis penjual rokok pada penjaga toko.
"Merk apa?"
"Swallow."
"7 sen."
"Bisa kurang?"
Penjaga toko itu menatap mereka beberapa detik tanpa suara.
"Baiklah karena malam ini dingin, dan kalian terlihat kedinginan, dan kau bertelanjang kaki. Aku akan berikan dengan 5 sen saja.
"Terima kasih pak!", gadis penjual rokok memberikan uang 5 sen dan mengambil sandal jepit swallow yang diberikan penjaga toko.
"Pasti menyenangkan menggunakan sandal baru yang masih empuk." ucap gadis penjual korek api.
"Lepaskan sebelah sendalmu." kata gadis penjual rokok.
"Kenapa?"
"Sudah lepas saja."
Gadis penjual korek api melepaskan sendal di sebelah kirinya lalu gadis penjual rokok memakainya. Dia kemudian menggunakan sandal baru itu sebelah, sebelahnya lagi diberikan pada gadis penjual korek api.
"Pakailah."
"Kenapa sebelah-sebelah?"
"Ini menyenangkan. Kita seperti saudara. Hahaha."
"Kau benar hahaha" balas gadis penjual korek api, sambil menggunakan sebelah sandal baru itu.
"Memang kalian bersaudara?" tanya penjaga toko yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Tidak, kami baru saja kenal sepuluh menit lalu." jawab gadis penjual rokok. "Terima kasih pak, kami pergi" lanjutnya sambil keluar dari toko.

***

Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, sambil berbincang-bincang.
"Kenapa kau menjual rokok?" tanya gadis penjual korek api.
"Rokok itu cepat laku terjual. Di kota ini banyak perokok."
"Apa kau merokok?"
"Tentu saja tidak. Aku anak kecil. Lagipula, merokok itu berbahaya, bisa membunuhmu, dan menghamburkan uang. Aku tidak mengerti kenapa orang dewasa banyak yang merokok padahal mereka tahu itu, entah bodoh atau apa."
"Ayahku seorang perokok berat."
"Lebih baik kau jauhi dia saat merokok, asap yang masuk ke tubuhmu itu tidak baik. Sama seperti merokok"
"Dari mana kau tahu semua ini?"
"Aku membacanya di buku."
"Kau suka membaca buku?"
"Aku suka sekali. Aku sering ke perpustakaan untuk membaca buku. Terkadang meminjam. Kau suka ke perpustakaan?"
"Aku, tidak ada waktu. Aku setiap hari berjualan korek api. Saat pulang, uang hasil penjualan kami gunakan untuk makan dan obat untuk ayahku."
"Kau harus berusaha menabung untuk membaca buku, wawasanmu akan sangat luas, dan tentu saja menjadi pintar. Oh ya ayahmu sakit apa?"
"Aku tidak tahu, kami tidak pernah ke dokter, dia sering batuk-batuk, mungkin karena kebiasaan merokoknya."
"Oh ya mungkin sakit karena merokok itu. Aku sempat membacanya. Suruh ayahmu menghentikan kebiasaan merokoknya. Rokok itu bisa melubangi paru-parumu. Mungkin paru-paru ayahmu bisa menjadi saringan air karena banyaknya lubang."
Gadis penjual rokok kemudian berbelok ke toko roti, sesuai pesanan ibunya. Dan gadis penjual korek api mengikutinya ke dalam.
"Nyonya, saya beli roti tawar lima." Dia merupakan langganan di toko itu.
Ibu penjaga toko menoleh ke arah suara dan melihat mereka.
"Hai, oh beli lima? Banyak sekali. Dan siapa temanmu ini?"
"Ah ya kami baru bertemu dua puluh menit lalu."
"Hai nyonya." sapa gadis penjual korek api, setelah menyapa lalu melihat-lihat berbagai macam roti di etalase toko.
"Hai nak." balas penjaga toko sambil tersenyum, lalu sesaat kemudian mengambil lima buah roti tawar yang biasa dibeli oleh gadis penjual rokok.
"Ha. Roti itu lucu. Bentuknya seperti buaya." celetuk gadis penjual korek api.
"Ah, itu namanya roti buaya." balas penjaga toko.
"Kenapa roti itu berbentuk buaya?"
"Itu diperuntukkan untuk para lelaki."
"Kenapa hanya untuk lelaki."
"Karena lelaki itu buaya."
"Apa maksudnya? Apakah mereka siluman buaya?"
"Hahaha.. tidak, tidak. Hanya bercanda. Yang kudenger roti itu berasal dari Indonesia, dari suku Betawi, mereka membuat roti itu saat acara pernikahan, roti itu sebagai simbol agar pengantin akan setia satu sama lain layaknya buaya yang hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya."
Gadis penjual korek api hanya tersenyum sambil melihat roti-roti lain yang terlihat lezat.
"Berapa semuanya?" tanya gadis penjual rokok.
"Dua poundsterling." sambil memberikan bungkusan berisi lima buah roti.
"Terima kasih. Kami pergi ya!" ucapnya setelah mengambil roti dan memberikan uang. Lalu mereka pergi ke luar toko.
"Ayo, sedikit lagi kita sampai di rumahku."
"Iya." jawab gadis penjual korek api.

***

Tidak lama kemudian, sekitar lima menit kemudian, mereka sampai di rumah gadis penjual rokok.
"Ibu, aku pulang!"
"Ah selamat datang. Oh kau membawa teman."
"Ya, aku membeli satu roti untuknya."
"Ya tidak apa-apa. Hai." sapa ibunya pada gadis penjual korek api sambil menerima roti dari gadis penjual rokok.
"Halo." balasnya.
"Duduklah, supnya sedang dihangatkan." lalu dia kembali ke dapur.
Mereka pun duduk di meja makan. Dan sedikit berbincang sambil menunggu ibunya menyiapkan sup hangat dan roti.
"Apa yang tadi kau lakukan sambil menyalakan korek api saat aku menghampirimu?"
"Aku berusaha menghangatkan diri. Lalu karena lapar dan kedinginan. Aku berhalusinasi. Dinding rumah tempatku berada tadi terlihat tembus pandang saat aku menyalakan korek api. Lalu terlihat makanan yang banyak dan terlihat lezat di meja makan. Juga buah-buahan yang masih segar."
"Kapan terakhir kau makan?"
"Hari ini aku belum makan dari pagi."
"Ah! Kasihan kau, makanlah roti kering ini." Lalu dia bangkit dari kursi dan mendekati lemari di sudut ruangan. "Makanlah." ucapnya sambil memberikan dua buah roti kering.
"Terima kasih. Bolehkah kusimpan untuk di rumah?"
"Hmm.. Baiklah. Tahanlah sebentar laparmu. Sebentar lagi sup hangatnya siap."
"Terima kasih. Kalian sangat baik."
"Ini supnya!" ucap ibu gadis penjual rokok dengan semangat dan senyum lebar.
"Horeee..!!" gadis penjual rokok kegirangan.
Ibu gadis penjual rokok lalu menuangkan sup jagung ke mangkuk mereka satu persatu. Lalu menempatkan satu buah roti di pinggir masing-masing mangkuk.
"Baik, sebelum makan, jangan lupa berdoa. Itupun kalau kalian percaya Tuhan. Tapi jika tidak percaya. Tetaplah bersyukur. Karena kau tidak tahu sesulit apa orang-orang yang tidur di jalan mendapatkan makanan." Ibu gadis penjual rokok menasehati.
"Baik." ucap kedua gadis itu bersamaan. Lalu mereka menunduk dan berdoa.
"Mari makan." ucap mereka bersamaan.
"Jadi, apa pendapatmu tentang rumah kami?" tanya gadis penjual rokok pada teman barunya.
"Hmm.. Yah, kondisinya tidak jauh berbeda dengan rumahku. Tapi dengan kondisi seperti ini, bagaimana kalian terlihat bahagia?" jawab gadis penjual korek api. Rumah itu memang kecil, kayu-kayu banyak yang sudah usang dan berjamur, begitu juga dengan dinding-dinding yang retak, lantainya pun tidak menggunakan keramik. Perabotan dari logam banyak yang sudah penyok, furnitur dari kayu pun tak kalah rapuh dan berjamur. Tapi rumah itu sangat terang, dan selalu diusahakan bersih oleh penghuninya.
"Kami selalu mencari cara untuk bahagia di atas kondisi kami." jawab gadis penjual rokok.
Sedangkan ibunya menambahkan, "Nak, kalau kau hanya bahagia saat kaya raya, rumah bagus, makanan enak setiap hari, pakaian bagus setiap pagi, maka hidupmu hanya akan diisi ambisi untuk menjadi kaya. Siapa yang tidak mau kaya raya? Sedangkan untuk menjadi kaya itu butuh kesabaran. Bersabarlah, maka kau akan bahagia. Nikmati prosesmu dalam hidup untuk mencapai cita-citamu. Apa kau mengerti maksud kata-kataku? Karena aku sendiri tidak. Hahaha..."
"Hahahahahaha..." mereka bertiga tertawa bersama sekarang, dengan bahagia.
Selanjutnya mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai. Termasuk tentang nenek gadis penjual korek api yang sudah meninggal.
"Salah satu halusinasi yang tadi kulihat saat menghangatkan diri adalah nenekku. Dia sudah meninggal, dia sangat baik padaku dan sering menceritakan dongeng-dongeng yang luar biasa."
"Kau pasti sayang sekali pada nenekmu." ucap gadis penjual rokok.
"Ya, aku sangat menyayanginya."
"Baiklah, makan malam sudah selesai. Dan apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya ibu gadis penjual rokok.
"Sepertinya aku akan pulang."
"Kenapa tidak menginap di sini saja?" tanya gadis penjual rokok.
"Tidak, ayahku kan sakit, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian."
"Oh ya baiklah. Rawatlah ayahmu. Kapan-kapan kami akan berkunjung ke sana."
"Terima kasih rotinya ya." ucap gadis penjual korek api, "dan terima kasih makan malam, kehangatan, dan bincang-bincangnya."
"Sama-sama. Oh ya, dan sini, aku beli semua korek apimu.", kata ibu gadis penjual rokok.
"Sungguh? Terima kasih lagi..!!" Gadis penjual korek api girang, sambil mengeluarkan semua koreknya.
"Ya, kami bisa menggunakan ini untuk banyak hal."
"Mulai besok, berjualanlah rokok juga. Jangan hanya korek apinya. Tapi jauh-jauh dari tempatku berjualan, nanti jualanku tidak laku." kata gadis penjual rokok.
"Hahaha, kau benar. Terima kasih sarannya. Besok aku akan menjual rokok dan korek apinya juga."
"Dan pergilah ke perpustakaan."
"Ah ya kau benar. Baiklah, terima kasih atas semuanya. Aku pulang ya!" dia tersenyum lebar dan melangkah ke pintu depan.
"Oh ya, pakailah sandal baru itu."
"Baik! Terima kasih lagi..! Aku berhutang banyak pada kalian."
"Hahaha.. Pergilah. Hati-hati di jalan! Dadah!"
"Hati-hati nak." ucap ibu gadis penjual rokok.
"Dadah!", sambil berlari pergi di malam hari yang dingin, dia sekarang bersemangat, tak lagi kedinginan dan kelaparan hingga mati beku. Dan menatap besok pagi dengan keceriaan dan harapan akan kesembuhan ayahnya.

Minggu, 06 April 2014

Tragedi Nol Buku

Tragedi Nol Buku adalah sejenis istilah yang digunakan, karena pemerintah Indonesia tidak mewajibkan putra-putrinya di tingkat sekolah untuk membaca buku-buku, biasanya buku sastra. Detailnya bisa googling dengan keyword yang sama.

Kalau saya baca dari sini: http://satriadharma.com/2014/01/28/tragedi-nol-buku-tragedi-di-dunia-pendidikan-indonesia/

Dipikir-pikir sedih juga, apa pemerintah menganggap membaca itu tidak penting atau bagaimana? Yang diusahakan hanya UN, ujian, dll, sampai-sampai ada iklan di televisi layaknya jualan produk, bahkan kurikulum 2013 juga ada iklannya.

Padahal membaca buku kan penting, membuka wawasan, menambah ilmu, dan segudang manfaat lain yang sering kita dengar. Menurut post di atas mewajibkan membaca buku sastra bukan menciptakan sastrawan, tapi sebagai media untuk cinta membaca. Lalu disebutkan seseorang yang gemar membaca sastra, lalu dari situ berpindah jalur ke bidang ekonomi, namanya Hatta (Mohammad Hatta, BUKAN Hatta Rajasa). Lalu juga seorang yang lain, gemar membaca, lalu berpindah ke sosial politik, namanya Soekarno.

Rabu, 02 April 2014

Frozen

Saya itu suka sekali nonton film, tapi ya memang, tidak pernah nonton on-time saat filmnya sedang tayang atau sedang ramai diperbincangkan, telat nonton, :D
Tapi ini ada film yang cukup baru yang cukup beruntung saya bisa menontonnya beberapa bulan sejak rilisnya (Nov 2013), Frozen.

Film ini diinspirasi dari fairy tale The Snow Queen karangan Hans Christian Andersen. Berarti film ini berdasarkan budaya sekitar Skandinavia.

Film animasi ini sekarang menyalip Toy Story 3 untuk menjadi film animasi dengan penjualan tertinggi of all time! Banyak sekali yang menyukainya, dan saat saya saksikan, wah emang keren sih...

Film ini adalah film yang paling enganging daripada yang lain yang pernah saya tonton, untuk para pecinta film, film ini mungkin bisa mengikat mata kita ke layar, suliiit untuk melepaskannya, mungkin saat emergency. 

Bagi pecinta komedi, film ini sangat lucu, bodor haha, melihat bagaimana kelakuan mereka, lalu Olaf si Manusia Salju, lalu para Troll yang batu-batu bulat, dan yang lainnya.

Bagi pecinta drama, film ini menampilkan drama yang bagus, drama hubungan antara Elsa dan Anna adalah yang menjadi fokus film ini. Tapi ada sedikit drama juga antara Elsa dan Hans, lalu Elsa dan Kristoff.

Bagi pecinta musik, musiknya luar biasa, dan banyak, total durasi untuk musiknya hingga 24 menit. Sepertinya film ini termasuk film musikal. Tapi musik yang paling banyak disukai adalah Let It Go yang dinyanyikan ratu Elsa saat pelariannya, hingga memenangi Academy Award sebagai best original song. Apalagi saat diiringi penampilan Elsa dan sihirnya. Saya yakin, banyak orang yang mengulang-ulang menyaksikan bagian ini. Dan selain lagu ini, yang cukup disukai adalah In Summer yang dinyanyikan Olaf, ditambah aksi Olaf yang kocak. :D. Lagu-lagu di film sepertinya yang memiliki andil besar sehingga film ini bisa menjadi film animasi dengan penjualan terbanyak sekarang.

Film ini akan dibuat lokalisasinya, diterjemahkan ke 41 bahasa (Lion King hanya 15). Hebatnya, tantangan terbesarnya, mencari penyanyi soprano yang mampu menyamai suara hangat Idina Menzel dan rentang suara tiga oktaf dalam bahasa mereka masing-masing! Gebleeeg! Disney ini emang keren!
Btw, ini lagu Let It Go. :)


Dan ini In Summer nya Olaf.




Bagi pecinta animasi, animasinya keren banget!! Dikatakan film ini menggunakan metode gabungan antara Computer Generated Image (CGI) dan gambar hasil tangan. Kalian tau karakter terpenting di film ini? Bukan Elsa, Anna, Kristoff, Olaf, ataupun Troll, tapi salju dan es. Yes it is.

Salju dan es di film ini tidak dibuat dengan main-main. Dikerjakan dengan luar biasa.
Para animator menggunakan aplikasi bernama Matterhorn untuk mensimulasikan lingkungan bersalju hingga
menjadi sangat nyata. Aplikasi ini bisa membuat salju benar-benar seperti salju yang akan hancur bila dilempar ke dinding atau dijatuhkan, atau saat dua bola salju bertabrakan, dan lainnya. Lalu aplikasi Spaces digunakan untuk membuat bagian tubuh Olaf dapat dilepas-lepas dan disusun kembali. Tonic digunakan untuk membuat dan menganimasikan rambut para karakter, rambut Elsa terdiri dari 420.000 helai, padahal helai rambut manusia normal hanya 100.000. Flourish digunakan untuk menganimasikan pergerakan daun dan batang-batang pohon. Snow Batcher digunakan untuk melihat hasil akhir salju seperti saat berjalan di tumpukan salju yang tebal, sehingga bisa menjadikan para karakter berakting natural dengan salju-salju itu.

Untuk video penelitian salju bisa dilihat di bawah ini:



Jumlah character rig film ini adalah 312, dan cloth rig mencapai 245. Dikatakan kalau itu melebihi film Disney sebelumnya. Lima puluh (50!) orang tenaga animator efek dan lighting bekerja sama membuat "one single shot" saat Elsa membuat istana es nya. Membutuhkan waktu 30 jam untuk merender setiap frame nya, dengan 4000 komputer untuk merender setiap satu framenya. Pantas saja film ini luar biasa!

Selain itu, film ini menggunakan teknologi 2D seperti air mancur yang membeku dan motif di lantai.

Total penghargaan yang diterima film ini adalah 60. Semuanya bisa dilihat di sini.

Saat film ini selesai, saya merasa terpisah dengan para karakter itu. Sepertinya film ini sangat hebat sehingga karakter di dalamnya terasa sangat hidup, lalu kami bertemu, lalu berpisah, terutama Elsa. Sama seperti saat saya selesai membaca buku The Diary of Anne Frank. Rasanya ingin masuk ke dalam film.

Tidak akan ada pangeran tampan yang menyelamatkan sang putri (dan ratu) di film ini, tapi hubungan antara dua saudari, Elsa dan Anna. Bosen juga sih ya kalo putri diselamatkan pangeran lagi, dan lagi.

Elsa menjadi tokoh favorit saya di film ini, dia yang paling menarik, yang rasanya membutuhkan pertolongan (terutama saat Elsa duduk di dalam kamarnya yang membeku dengan butiran salju yang melayang tak bergerak), yang rasanya dia wanita yang kuat walaupun dia membuat keputusan yang salah karena ketakutannya. Tapi dia terlihat dewasa dibanding karakter lain yang kira-kira sepantaran dengannya, juga dengan Disney Princess lain (padahal belum nonton semua), of course, she's a queen! Dan juga, dia terasa misterius.

Tapi awalnya saya merasa ada kelemahan di film ini, yaitu di bagian story. Kurang hadirnya antagonis yang benar-benar berpengaruh, Hans dan Duke of Weselton dan kedua anak buahnya pun tidak terlalu terasa. Hanya seperti bumbu cabe di dalam mi instan, kurang. Tapi, ternyata, memang begitu, karena yang saya sadari adalah film ini lebih tentang gejolak batin Elsa, yang terlihat sudah dimulai dari awal film. Awal film ini dibuat, Elsa akan dijadikan tokoh jahat dengan sifat negatif, lalu Anna akan mengalahkannya dengan cinta. Tapi diganti dengan Elsa dikendalikan oleh ketakutan, dan tetap Anna mengalahkannya dengan cinta.

Disebutkan film ini akan disaksikan oleh banyak generasi, pernyataan itu menurut saya akan terwujud. Yes, film ini bagus banget, menjadikan postingan review film ini paling panjang daripada postingan review film yang pernah saya buat. Hahaha...

Bagi yang belum nonton, cepetan nonton! Pasti kalian langsung download mp3 Let It Go! Terus nonton lagi! :D

Salam..

Sabtu, 29 Maret 2014

Movie Review: Argo

Halo. Sudah lama gak review film lagi.. Beberapa hari kemarin sempet nonton film thriller buatan tahun 2012. Judulnya adalah Argo.

Pemain utamanya adalah Ben Affleck, yang main Daredevil.

Film ini bercerita tentang seorang agen CIA yang berusaha menyelamatkan staf kedutaan Amerika keluar dari Iran yang saat itu sedang bergejolak revolusi. Puluhan staf dijadikan sandera karena revolusi itu, karena ketidaksukaan warga pada AS, tetapi enam orang berhasil menyelamatkan diri ke kedutaan Kanada.

Dia memiliki ide untuk membuat film mirip Star Wars, dengan gurun-gurunnya, alien, robot dan lain sebagainya, juga setting dengan arsitektur Timur Tengah. Tetapi, film itu hanya trik agar dia bisa masuk ke Iran, mendapat akses ke beberapa tempat, dan menyelamatkan keenam orang staf kedutaan itu. Mereka (termasuk Ben Affleck) menyamar sebagai orang Kanada. Karena Kanada tidak dibenci oleh warga Iran.

Film ini adalah film thriller, yang membuat jantung berdebar, membuat kita tegang. Seperti saat para kru palsu itu berpura-pura melihat-lihat pasar tradisional untuk setting film, saat satu orang 'kru' memotret satu toko dengan polaroid, tiba-tiba pemilik toko marah dan meminta foto karena dia tidak mengizinkannya. Tiba-tiba saja keadaan menjadi ricuh, semua orang menganggap mereka orang AS karena wajah mereka, semua orang mau menangkap, memegangi, tapi akhirnya mereka berhasil lolos.

Film ini mungkin termasuk tema pelarian, mirip dengan film yang melarikan diri dari penjara. Filmnya bagus, dan memang menarik untuk terus diikuti.

Kamis, 27 Maret 2014

Koleksi Ebook dan Referensi Aikido

Download ebook itu sebenarnya bajakan yah? Tapi da kumaha awis, mungkin kalo udah kerja saya harus bisa beli dengan legal.. :D
Tapi ada juga yang memang disebar secara gratis oleh penulis/penerbit/distributornya.

Sejauh ini, buku tentang Aikido kalo dari Goodreads ada sekitar 147, tapi belum dikurangi yang judulnya tidak langsung tentang Aikido. Sedangkan ebook yang saya miliki adalah sebagai berikut (ditambah buku-buku yang suka dipakai di lingkungan sendiri saja):

  1. Aiki News Encyclopedia of Aikido (Stanley Pranin)
  2. Aiki News Magazine Issue 32, 33, 34, 60, 62, 71, 82, 88, 100, 102
  3. Akido - The Coordination of Mind and Body (Koichi Tohei)
  4. Aikido and the Dynamic Sphere (Adelle Westbrook dan Oscar Ratti)
  5. Aikido Densho (Kanemoto Sunadomari)
  6. Aikido O Sensei Memoirs
  7. Aikido of Columbus Beginners Handbook 
  8. Aikido Parent's Guide
  9. Aikido Sketch Diary (Gaku Homma)
  10. Aikido With Ki (Koichi Tohei)
  11. Children and The Martial Arts, Aikido point of view
  12. Ki Aikido Handbook
  13. Ki in Aikido (C. M. Shifflet)
  14. Ki in Daily Life (Koichi Tohei)
  15. Kiatsu (Koichi Tohei)
  16. Sunset Cliffs Aikido Handbook
  17. The Art of Aikido (Kisshomaru Ueshiba)
  18. The Hidden Roots of Aikido (Shiro Omiya)
  19. The Spirit of Aikido (Kisshomaru Ueshiba)
  20. Total Aikido: The Master Course (Gozo Shioda dan Yasuhisa Shioda))
  21. Zen and Aikido (Shigeo Kamata dan Kenji Shimizu)
Dan selain buku adalah:
  1. The Principal Disciples of Morihei Ueshiba (Aikidojournal)

Selasa, 25 Maret 2014

Aikido: Kyu 2

Kyu 2 di Aikido ini membawa efek yang cukup hebat.

Suatu hari Pandu, kohai saya, melobi panitia acara Sashimi (festival budaya pop Jepang tahunan di Univ. Widyatama) untuk memasukkan demo Aikido di acara itu. Akhirnya, dengan nekat, demo tanpa yudansha pun dilakukan, beruntung setidaknya Alvian membawa sabuk hitam karate nya, aku minta dia pakai. Demo berjalan lancar, rencana tidak terlaksanan, urutan yang direncanakan tertukar, yang tadinya tidak ada menjadi ada, dan tanpa matras. Haha..

Hingga akhirnya rencana mendirikan dojo di Widyatama menyeruak, hingga sekarang saya masih menindak lanjuti prosesnya. Akan mulai latihan setelah UTS, yang akan disusul dengan tempel poster.

Pelatih saya, Mas Njong (seharusnya dipanggil sebutan Sensei, tapi maklum, orang Indonesia sering begitu, sudah terbiasa dengan Mas Njong) bilang, kalau melatih itu pasti ada belajarnya. Memang benar, saya juga sering merasakan sebelumnya, tapi di Aikido, saya sempat ragu. Dia meneruskan karena harus mengajar, maka detil-detil teknik akan diperhatikan. Itu pula yang menjadikan saya harus berlatih lebih, tidak hanya untuk diri sendiri, juga untuk kohai-kohai saya nanti di Widyatama.

Tidak ada asap jika tidak ada api. Dan api dojo Widyatama akan membawa dorongan bagi saya. Untuk teruuusss berlatih, lebih rajin, lebih fokus, lebih menyempurnakan diri sendiri. Setidaknya hingga Tom Cruise berkata pada saya "I never see such discipline" seperti dalam film yang dia mainkan, The Last Samurai. Maksudnya, dimulai dari mendisiplinkan diri, semoga bisa menularkan pada orang lain. Begitu pula dengan efek dari disiplin itu. Terus menular, mewabah, wabah disiplin. (Tiba-tiba ngetik beginian)

Trio senpai saya di Al-Islam, pak Ikhwan, bu Wiwin, dan mba Ae, sudah diberikan kesempatan untuk ujian ke Kyu 1. Tapi karena mereka memang sudah bekerja, kesibukan sering menyita waktu mereka. Untuk saya sih masih lama, nikmati proses, proses, proses, tenang saja.

Ngomong-ngomong, apa saya harus menambah bela diri yah? :D

Senin, 17 Maret 2014

Aikido, Tiga Setengah Tahun Kemudian

Sudah tiga setengah tahun, Aikido ini rasa-rasanya tidak terasa (naon ah) sejak pertama kali bergabung. Banyak ilmu yang didapat, hikmah yang bisa diambil, bertemu orang-orang hebat yang tekun dan berdedikasi pada apa yang dikerjakannya.

Agus Sensei mendedikasikan diri mendidik kami dari mengajari kami sikap perilaku yang baik dan teknik yang detil hingga sekarang sudah menjadi Godan (Dan 5).

Ketut Sensei yang bersemangat berlatih setiap hari, mengajar di banyak dojo, hingga mendirikan dojo di Rajawali Barat, Bandung.

Alvian yang mendedikasikan dirinya pada beladiri Jepang, Karate, Aikido, Jujutsu, Judo, dan pengetahuannya akan beladiri yang di atas rata-rata praktisi yang lain.

Teguh Sensei yang menjalani profesi lain sebagai praktisi panahan hingga mengikuti pelatihan di Korea.

Dari Kyu 6 hingga Kyu 2. Dari tidak bisa apa-apa, belajar mengikat sabuk melalui YouTube, hingga sebentar lagi mendirikan dojo di Universitas Widyatama.

Waahhh, hidup ini hebat, semua naik turun kehidupannya harus dinikmati, niscaya tidak akan menyesali hidup ini. Berusaha yang terbaik, lakukan yang terbaik, berdoa yang terbaik. :D

Fase Baru Kehidupan?

Sejak 1 Maret 2014, resmi saya menyandang gelar sarjana. Kali ini perjalanan hidup saya berubah haluan, dari mengejar gelar, menjadi mengejar kehidupan. Pertanyaannya kehidupan seperti apa yang akan saya alami? Apalagi dengan umur yang menjadi 24 tahun sejak 7 Maret kemarin.

Saya dipertemukan dengan banyak orang hebat selama hidup hingga umur 24 tahun ini, di Rubel Sahaja, di Ciroyom, di kampus, sahabat-sahabat SMA, dan lain-lainnya.

Intinya ini satu langkah lagi yang saya alami, dari dulu sekolah, SD-SMP-SMA-Kuliah, diselingi Rubel Sahaja, diselingi Aikido, lalu akhirnya lulus kuliah, bekerja, menikah, atau kuliah lagi, lagi-lagi kuliah, dan seterusnya. <-- paragraf ngalor ngidul. :D

Dear pembaca, doakan semoga saya sukses mencapai cita-cita. Mendoakan saya berarti mendoakan diri kalian sendiri. Dan saya mendoakan kalian juga mencapai cita-cita kalian, dari cita-cita yang saaaaanggaaatt kecil, hingga yang saaangggaaatt besar.

Saya lihat kehidupan ini terus berputar, nasib seseorang naik turun, terkadang bertahan cukup lama di satu posisi, tapi pasti mendapat hikmah dan hidayahnya.

Kamis, 20 Februari 2014

Lulus!

Sekian lama kuliah, masuk oktober 2008, akhirnya saya lulus per 30 januari 2014. Enam tahun ya? Wah lama juga. Tapi ya sudahlah itu sudah jadi usaha saya yang terbaik. Hehehe..

Setelah berkutat dengan tugas, nilai D dan E, mengulang, semester pendek, kerja praktek, skripsi, hingga sidang, akhirnya saya bisa daftar wisuda. Akhirnya.. terima kasih ibu dan bapak. Terima kasih Ya Allah.

Satu lagi bagian kecil perjalanan hidup selesai. Dan memulai petualangan baru. Semoga lancar terus. Cita-cita tercapai. Baik untuk saya, pembaca, dan semua orang. Aamiin..

Rabu, 05 Februari 2014

Penerjemah

Belakangan ini ada minat baru yang muncul, menjadi penerjemah.

Berawal dari banyaknya permintaan teman untuk menerjemahkan abstrak mereka ke dalam bahasa Inggris. Saya tidak tahu mengapa mereka meminta saya, mungkin karena nilai tes EPC di kampus saya 530, jadi saya terkesan pintar bahasa Inggris, aamiin. :D

Akhirnya saya coba menerjemahkan,  tidak buruk juga, menyenangkan, bahkan saat menerjemahkan itulah saat-saat belajar. Setiap beberapa bulan, saat masa-masa sidang KP dan skripsi, makin banyak yang minta diterjemahkan. Saya bantu lagi, yah mungkin saya menjadi populer di jurusan saya sebagai penerjemah abstrak.

Belakangan, saya mencoba menerjemahkan novel yang selalu membuat saya penasaran. Yaitu Lord of The Flies, penulisnya William Golding, novel itu menerima nobel. Saya belum sempat membacanya, tapi dikisahkan sekolompok anak sekolah yang terdampar, menjadi sekelompok anak yang beringas untuk bertahan hidup. Saya mencoba menerjemahkan semuanya, ternyata bahasa Inggris di novel itu tidak umum seperti yang saya temui dalam teks-teks lain.

Lalu, saya beralih ke cerita lain, yaitu History of Warcraft. Maklum, karena hanya iseng, jadi mudah berpindah-pindah. History of Warcraft ini ada lima bagian, dari bagian pertama hingga kelima, masing-masing ada beberapa subbagian. Sejauh ini saya sudah masuk bagian tiga, subbagian pertama.

Ternyata menyenangkan, setiap subbagian yang selesai saya terjemahkan, saya upload di note di facebook. Setidaknya, semoga ada seseorang yang hebat yang membaca dan memberi tips. Sejauh ini sih tidak ada, hehehe...

Kini, minat saya itu mulai serius, saya mendalami bahasa Inggris, mencoba mendaftar ke milis bahtera, mencari-cari informasi tentang menjadi penerjemah, hingga ada minat ingin kuliah sastra Inggris.

Well, semoga harapan saya terwujud, setidaknya bisa menjadi freelancer, dan bisa mendapatkan proyek pertama saya, terutama penerjemahan cerita fiksi.

Aamiin...

Dan, untuk latihan, mungkin saya akan menerbitkan terjemahan pribadi saya ke blog ini. Melanggar hak cipta tidak ya? Yang memahami soal itu, mohon komentar ya!? Sangat diharapkan. :)

Rabu, 22 Januari 2014

Daftar Sidang

Alhamdulillah, akhirnya bisa daftar sidang. Semoga saja, dengan sidang ini bisa membuka pintu-pintu pengalaman kehidupan yang baru, dunia kerja, atau S2, menikah, dan lain-lain.

Walaupun belum sidangnya juga, baru juga masukin ke akademik dua jam yang lalu, yang penting udah daftar! :D

Selasa, 07 Januari 2014

Kuliah (lagi)

Tahun 2013 kemarin sangat menarik, di mana membuat saya ingin banyak belajar hal. Termasuk kuliah, saya ingin kuliah lagi, dan kalau di list, sepertinya cukup banyak pilihannya.

Magister Teknik Informatika, udah wajar, saya S1 kan Informatika. Saya ingin menjadi dosen, ya, saya suka mengajar. Karena ada pelajaran dari sana.

Bahasa Inggris, rasanya bahasa Inggris itu sangat menyenangkan untuk dipelajari. Sejauh ini bahasa Inggris sangat-sangat-sangat bermanfaat untuk gerbang ke hal yang lebih banyak. Meskipun banyak orang bilang bahasa Mandarin sebaiknya dipelajari, tapi menurut saya itu karena orang-orang yang berbahasa Mandarin sangat banyak jumlahnya, populasi di RRC saja urutan nomor pertama di dunia. Itu belum termasuk orang-orang Cina yang tinggal di luar Cina, bukan kewarganegaraan Cina. Amerika, Inggris, Indonesia, Malaysia, sepertinya di setiap benua ada orang Cina.

Film, suatu saat saya sedang menonton televisi, rasanya acara televisi sekarang tidak menyenangkan, dan value hiburannya saya rasa sudah jauh berkurang. Acara yang cocok untuk saya sekarang adalah dokumenter. Saya rasa menyenangkan bisa membuat film sendiri, salah satu cara komunikasi yang menyenangkan. Film, atau dokumenter, pasti akan luar biasa. Apalagi melihat film-film pendek di youtube, karya para calon sineas hebat dari para sineas muda. Semoga idealisme mereka masih bisa terjaga, tidak lagi menjadi komersil yang mengabaikan nilai-nilai positifnya. Jurusannya, di Bandung saya baru tau Fotografi dan Film Unpas, dan Film dan Televisi STSI.

Fisioterapi, salah satu cita-cita saya dulu menjadi dokter, tapi tidak kesampaian, karena biaya orang tua. Bahkan dulu saya hampir tidak kuliah. Kalau tidak bisa jadi dokter, setidaknya bisa kuliah di jurusan kesehatan. Suatu hari kakak saya yang dokter bebicara tentang fisioterapi, lalu menyarankan saya untuk kuliah fisioterapi, lagipula tenaganya masih dibutuhkan di rumah sakit karena jumlah tenaga yang kurang. Menarik, sayangnya di Jawa Barat baru ada di Cimahi, Akfis RS Dustira, dan saat pendaftaran umur maksimal 24 tahun! Oh, sekarang saya sudah 23 tahun, Maret nanti saya 24.

Tata Boga, yah saya sempat sih, tapi... rasanya itu terlalu muluk. Belajar masak di rumah aja, yang penting jadi suami siaga, rajin, tidak canggung di dapur. Rasanya jurusan ini nanti saja.