Rabu, 30 April 2014

Gadis Penjual Rokok dan Gadis Penjual Korek Api

Jaman dahulu kala, di malam tahun baru yang bersalju di London, seorang gadis kecil berjalan sendirian, mantel tipis dan sandal lusuh, dengan keranjang kecil yang ditutupi kain berwarna biru. Dia berjalan perlahan, mencari tempat ramai di sudut kota, untuk menjual rokok-rokoknya.

Dia mengambil tempat di depan toko yang sudah tutup, berdiri diam menghadap ke jalan memunggungi jendela toko. Dia keluarkan satu bungkus rokok dari keranjangnya, dan dia arahkan pada setiap orang yang lewat. "Rokoknya bu, pak, murah, beli dua dapat dua." Seorang lelaki paruh baya yang berjalan di depannya sambil memasukkan tangan ke dalam saku jaket seketika berhenti, tertarik mendengar tawarannya. "Berapa harga rokoknya nak?" tanyanya.
"Seratus sen satu bungkus pak."
"Satu poundsterling maksudmu?"
"Bukan pak, seratus sen."
"Satu poundsterling itu seratus sen."
"Beda pak, satu poundsterling itu uangnya poundsterling. Seratus sen itu uangnya sen."
"Terserahmulah, saya beli dua."
"Nih pak." Sambil mengambil satu lagi bungkus rokok lalu memberikannya.
"Dua lagi mana?"
"Loh katanya beli dua pak?"
"Katanya tadi beli dua dapat dua?"
"Iya beli dua kan dapetnya dua bungkus."
"Loh harusnya saya dapat empat, kan karena beli dua, dapat dua bungkus lagi. Jadi empat."
"Oh gak pak, kalo gitu saya pasti bilang 'beli dua bonus dua'. Lah saya kan bilang 'beli dua dapat dua'."
"Zzzzzzz. Ya sudah, terserahmu lagi lah" Ucap lelaki itu kesal.
"Oke pak. Uang pas ya pak. Saya ga bawa uang."
"Heuh, niat jualan ga sih."
"Ga niat pak."
Lelaki itu menatap dengan pandangan lebih kesal dari sebelumnya lalu melanjutkan perjalanannya.

Gadis itu kembali mengeluarkan satu bungkus rokok lalu dia jajakan lagi pada orang-orang yang lewat.
"Rokok pak bu, murah, sekarang bayar besok gratis."
Seorang pria muda tetiba saja berhenti melangkah dan berbalik arah ke gadis itu.
"Apa kau mengatakan rokok gratis?"
"Iya pak, tapi besok, sekarang bayar?"
"Maksudmu?"
"Iya gitu, sekarang bayar besok gratis."
"Hmm aku pikir gratis sekarang. Ya sudah saya beli satu. Besok gratis ya. Berapa harganya?"
"Satu poundsterling ."
Gadis itu memberikan rokoknya dan menerima uang satu poundsterling dari pria itu, pria itu kemudian pergi ke arah yang dia tuju sebelum berbalik membeli rokok.

Gadis itu kembali menjajakan rokoknya.
"Rokok pak bu, murah, beli dua dapat satu."
Seorang pria paruh baya yang mendengar itu langsung berhenti di depannya.
"Berapa harga rokokmu?"
"Seratus sen pak."
"Satu poundsterling maksudmu."
"Iya pak terserahmulah."
"Saya beli dua." sambil mengeluarkan dua lembar uang satu poundsterling.
"Ini pak." gadis itu memberikan bungkus rokok yang ada dalam genggamannya.
"Dua lagi mana?" lelaki itu menarik sedikit tangannya sendiri saat akan memberikan uangnya.
"Hah? Bapak beli dua kan?"
"Iya. Katamu kan beli dua dapat satu. Jadi tiga kan."
"Lah, nggak pak. Belinya dua, dapatnya satu bungkus."
"Yeeee, gimana sih. Tidak jadi beli!"
"Yeee bapak, niat beli ga sih!"
"Kamu yang niat jualan ga!?"
"Ga niat pak. Puas!?"
Lelaki itu super kesal lalu pergi menjauh dengan cepat. Mendengus keras seperti sapi dengan wajah kesal.

Gadis itu melanjutkan menjajakan rokoknya.
"Rokok pak bu, murah, satu poundsterling saja."
Dan dia terus melanjutkan menjual rokoknya, hingga sekitar satu jam, rokoknya sudah habis. Malam itu memang dingin, semua orang menggunakan jaket tebal, sarung tangan, sepatu boot yang hangat, dan berbagai macam penutup kepala agar badan mereka hangat. Mereka juga berjalan cepat agar aliran darah mengalir lebih cepat sehingga menghangatkan tubuh mereka dari dalam.

***

Gadis penjual rokok itu akhirnya berjalan pulang, tapi mengambil jalan memutar, agar dia bisa di luar lebih lama. Dia mencari jalan-jalan baru yang belum pernah dilewatinya. Dia memang memiliki jiwa petualang. Kali ini dia berjalan tanpa arah pasti, tiba-tiba di melewati tempat yang terdapat sudut yang tercipta karena dua rumah. Gadis penjual rokok melihat cahaya di sudut itu, cahaya yang kecil. Lalu dia melihat tangan dan wajah, dia mendekat dan melihat seorang gadis yang menggunakan celemek, bertelanjang kaki, menggunakan sehelai kain tipis dengan motif kotak-kotak untuk menghangatkan tubuhnya, tanpa jaket, atau sarung tangan, atau penutup kepala. Dan dia duduk di atas salju, juga tanpa alas.

Gadis penjual rokok mendekatinya, dan dia melihat, gadis penjual korek api. Gadis penjual korek api menyadari seseorang yang mendekat saat dia tampaknya sedang berhalusinasi dengan menatap ke arah dinding rumah yang menciptakan sudut tempat dia duduk. Dia menoleh ke arah gadis penjual rokok.

"Hai," kata gadis penjual rokok.
"Hai," balas gadis penjual korek api.
"Sedang apa kau di sini? Di sini dingin, kau bertelanjang kaki dan duduk di atas salju tanpa alas apapun. Kau bisa mati kedinginan." ucap gadis penjual rokok.
"Aku sedang menjual korek api, tapi tidak ada yang membelinya, dan aku tidak berani pulang, karena jika pulang tanpa membawa uang, aku tidak bisa membeli obat untuk ayahku."
"Kejamnya ayahmu. Ayo ikutlah denganku."
"Ke mana?"
"Aku akan membuatmu nyaman."
Gadis penjual rokok membantunya berdiri, melepaskan sandalnya dan memberikannya pada gadis penjual korek api.
"Pakailah."
"Tapi kakimu akan membeku."
"Ya, tapi baru akan, sedangkan kakimu sudah mulai membeku. Pakailah."
"Terima kasih."
Mereka berjalan berdampingan.
"Kita mau ke mana?" tanya gadis penjual korek api.
"Kita ke rumahku, ibuku akan memberimu sup hangat, dan selimut."
"Terima kasih, kalian baik sekali pada orang asing sepertiku."
"Tidak apa-apa. Kita kan sudah berkenalan, jadi bukan lagi orang asing."
Gadis penjual korek api hanya tersenyum.
"Ayo kita berjalan lebih cepat. Agar tubuh kita bisa lebih hangat."
"Betul sekali."
Mereka berdua mempercepat langkah mereka. Mereka melangkah cukup jauh hingga tiba-tiba gadis penjual rokok berhenti mendadak.
"Tunggu, ayo kita membeli sendal jepit." sambil mendekati toko kecil yang terang dan hangat.
"Ah ya, untukmu. Kau kan bertelanjang kaki."
"Pak, berapa harga sendal jepit?" tanya gadis penjual rokok pada penjaga toko.
"Merk apa?"
"Swallow."
"7 sen."
"Bisa kurang?"
Penjaga toko itu menatap mereka beberapa detik tanpa suara.
"Baiklah karena malam ini dingin, dan kalian terlihat kedinginan, dan kau bertelanjang kaki. Aku akan berikan dengan 5 sen saja.
"Terima kasih pak!", gadis penjual rokok memberikan uang 5 sen dan mengambil sandal jepit swallow yang diberikan penjaga toko.
"Pasti menyenangkan menggunakan sandal baru yang masih empuk." ucap gadis penjual korek api.
"Lepaskan sebelah sendalmu." kata gadis penjual rokok.
"Kenapa?"
"Sudah lepas saja."
Gadis penjual korek api melepaskan sendal di sebelah kirinya lalu gadis penjual rokok memakainya. Dia kemudian menggunakan sandal baru itu sebelah, sebelahnya lagi diberikan pada gadis penjual korek api.
"Pakailah."
"Kenapa sebelah-sebelah?"
"Ini menyenangkan. Kita seperti saudara. Hahaha."
"Kau benar hahaha" balas gadis penjual korek api, sambil menggunakan sebelah sandal baru itu.
"Memang kalian bersaudara?" tanya penjaga toko yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Tidak, kami baru saja kenal sepuluh menit lalu." jawab gadis penjual rokok. "Terima kasih pak, kami pergi" lanjutnya sambil keluar dari toko.

***

Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, sambil berbincang-bincang.
"Kenapa kau menjual rokok?" tanya gadis penjual korek api.
"Rokok itu cepat laku terjual. Di kota ini banyak perokok."
"Apa kau merokok?"
"Tentu saja tidak. Aku anak kecil. Lagipula, merokok itu berbahaya, bisa membunuhmu, dan menghamburkan uang. Aku tidak mengerti kenapa orang dewasa banyak yang merokok padahal mereka tahu itu, entah bodoh atau apa."
"Ayahku seorang perokok berat."
"Lebih baik kau jauhi dia saat merokok, asap yang masuk ke tubuhmu itu tidak baik. Sama seperti merokok"
"Dari mana kau tahu semua ini?"
"Aku membacanya di buku."
"Kau suka membaca buku?"
"Aku suka sekali. Aku sering ke perpustakaan untuk membaca buku. Terkadang meminjam. Kau suka ke perpustakaan?"
"Aku, tidak ada waktu. Aku setiap hari berjualan korek api. Saat pulang, uang hasil penjualan kami gunakan untuk makan dan obat untuk ayahku."
"Kau harus berusaha menabung untuk membaca buku, wawasanmu akan sangat luas, dan tentu saja menjadi pintar. Oh ya ayahmu sakit apa?"
"Aku tidak tahu, kami tidak pernah ke dokter, dia sering batuk-batuk, mungkin karena kebiasaan merokoknya."
"Oh ya mungkin sakit karena merokok itu. Aku sempat membacanya. Suruh ayahmu menghentikan kebiasaan merokoknya. Rokok itu bisa melubangi paru-parumu. Mungkin paru-paru ayahmu bisa menjadi saringan air karena banyaknya lubang."
Gadis penjual rokok kemudian berbelok ke toko roti, sesuai pesanan ibunya. Dan gadis penjual korek api mengikutinya ke dalam.
"Nyonya, saya beli roti tawar lima." Dia merupakan langganan di toko itu.
Ibu penjaga toko menoleh ke arah suara dan melihat mereka.
"Hai, oh beli lima? Banyak sekali. Dan siapa temanmu ini?"
"Ah ya kami baru bertemu dua puluh menit lalu."
"Hai nyonya." sapa gadis penjual korek api, setelah menyapa lalu melihat-lihat berbagai macam roti di etalase toko.
"Hai nak." balas penjaga toko sambil tersenyum, lalu sesaat kemudian mengambil lima buah roti tawar yang biasa dibeli oleh gadis penjual rokok.
"Ha. Roti itu lucu. Bentuknya seperti buaya." celetuk gadis penjual korek api.
"Ah, itu namanya roti buaya." balas penjaga toko.
"Kenapa roti itu berbentuk buaya?"
"Itu diperuntukkan untuk para lelaki."
"Kenapa hanya untuk lelaki."
"Karena lelaki itu buaya."
"Apa maksudnya? Apakah mereka siluman buaya?"
"Hahaha.. tidak, tidak. Hanya bercanda. Yang kudenger roti itu berasal dari Indonesia, dari suku Betawi, mereka membuat roti itu saat acara pernikahan, roti itu sebagai simbol agar pengantin akan setia satu sama lain layaknya buaya yang hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya."
Gadis penjual korek api hanya tersenyum sambil melihat roti-roti lain yang terlihat lezat.
"Berapa semuanya?" tanya gadis penjual rokok.
"Dua poundsterling." sambil memberikan bungkusan berisi lima buah roti.
"Terima kasih. Kami pergi ya!" ucapnya setelah mengambil roti dan memberikan uang. Lalu mereka pergi ke luar toko.
"Ayo, sedikit lagi kita sampai di rumahku."
"Iya." jawab gadis penjual korek api.

***

Tidak lama kemudian, sekitar lima menit kemudian, mereka sampai di rumah gadis penjual rokok.
"Ibu, aku pulang!"
"Ah selamat datang. Oh kau membawa teman."
"Ya, aku membeli satu roti untuknya."
"Ya tidak apa-apa. Hai." sapa ibunya pada gadis penjual korek api sambil menerima roti dari gadis penjual rokok.
"Halo." balasnya.
"Duduklah, supnya sedang dihangatkan." lalu dia kembali ke dapur.
Mereka pun duduk di meja makan. Dan sedikit berbincang sambil menunggu ibunya menyiapkan sup hangat dan roti.
"Apa yang tadi kau lakukan sambil menyalakan korek api saat aku menghampirimu?"
"Aku berusaha menghangatkan diri. Lalu karena lapar dan kedinginan. Aku berhalusinasi. Dinding rumah tempatku berada tadi terlihat tembus pandang saat aku menyalakan korek api. Lalu terlihat makanan yang banyak dan terlihat lezat di meja makan. Juga buah-buahan yang masih segar."
"Kapan terakhir kau makan?"
"Hari ini aku belum makan dari pagi."
"Ah! Kasihan kau, makanlah roti kering ini." Lalu dia bangkit dari kursi dan mendekati lemari di sudut ruangan. "Makanlah." ucapnya sambil memberikan dua buah roti kering.
"Terima kasih. Bolehkah kusimpan untuk di rumah?"
"Hmm.. Baiklah. Tahanlah sebentar laparmu. Sebentar lagi sup hangatnya siap."
"Terima kasih. Kalian sangat baik."
"Ini supnya!" ucap ibu gadis penjual rokok dengan semangat dan senyum lebar.
"Horeee..!!" gadis penjual rokok kegirangan.
Ibu gadis penjual rokok lalu menuangkan sup jagung ke mangkuk mereka satu persatu. Lalu menempatkan satu buah roti di pinggir masing-masing mangkuk.
"Baik, sebelum makan, jangan lupa berdoa. Itupun kalau kalian percaya Tuhan. Tapi jika tidak percaya. Tetaplah bersyukur. Karena kau tidak tahu sesulit apa orang-orang yang tidur di jalan mendapatkan makanan." Ibu gadis penjual rokok menasehati.
"Baik." ucap kedua gadis itu bersamaan. Lalu mereka menunduk dan berdoa.
"Mari makan." ucap mereka bersamaan.
"Jadi, apa pendapatmu tentang rumah kami?" tanya gadis penjual rokok pada teman barunya.
"Hmm.. Yah, kondisinya tidak jauh berbeda dengan rumahku. Tapi dengan kondisi seperti ini, bagaimana kalian terlihat bahagia?" jawab gadis penjual korek api. Rumah itu memang kecil, kayu-kayu banyak yang sudah usang dan berjamur, begitu juga dengan dinding-dinding yang retak, lantainya pun tidak menggunakan keramik. Perabotan dari logam banyak yang sudah penyok, furnitur dari kayu pun tak kalah rapuh dan berjamur. Tapi rumah itu sangat terang, dan selalu diusahakan bersih oleh penghuninya.
"Kami selalu mencari cara untuk bahagia di atas kondisi kami." jawab gadis penjual rokok.
Sedangkan ibunya menambahkan, "Nak, kalau kau hanya bahagia saat kaya raya, rumah bagus, makanan enak setiap hari, pakaian bagus setiap pagi, maka hidupmu hanya akan diisi ambisi untuk menjadi kaya. Siapa yang tidak mau kaya raya? Sedangkan untuk menjadi kaya itu butuh kesabaran. Bersabarlah, maka kau akan bahagia. Nikmati prosesmu dalam hidup untuk mencapai cita-citamu. Apa kau mengerti maksud kata-kataku? Karena aku sendiri tidak. Hahaha..."
"Hahahahahaha..." mereka bertiga tertawa bersama sekarang, dengan bahagia.
Selanjutnya mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai. Termasuk tentang nenek gadis penjual korek api yang sudah meninggal.
"Salah satu halusinasi yang tadi kulihat saat menghangatkan diri adalah nenekku. Dia sudah meninggal, dia sangat baik padaku dan sering menceritakan dongeng-dongeng yang luar biasa."
"Kau pasti sayang sekali pada nenekmu." ucap gadis penjual rokok.
"Ya, aku sangat menyayanginya."
"Baiklah, makan malam sudah selesai. Dan apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya ibu gadis penjual rokok.
"Sepertinya aku akan pulang."
"Kenapa tidak menginap di sini saja?" tanya gadis penjual rokok.
"Tidak, ayahku kan sakit, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian."
"Oh ya baiklah. Rawatlah ayahmu. Kapan-kapan kami akan berkunjung ke sana."
"Terima kasih rotinya ya." ucap gadis penjual korek api, "dan terima kasih makan malam, kehangatan, dan bincang-bincangnya."
"Sama-sama. Oh ya, dan sini, aku beli semua korek apimu.", kata ibu gadis penjual rokok.
"Sungguh? Terima kasih lagi..!!" Gadis penjual korek api girang, sambil mengeluarkan semua koreknya.
"Ya, kami bisa menggunakan ini untuk banyak hal."
"Mulai besok, berjualanlah rokok juga. Jangan hanya korek apinya. Tapi jauh-jauh dari tempatku berjualan, nanti jualanku tidak laku." kata gadis penjual rokok.
"Hahaha, kau benar. Terima kasih sarannya. Besok aku akan menjual rokok dan korek apinya juga."
"Dan pergilah ke perpustakaan."
"Ah ya kau benar. Baiklah, terima kasih atas semuanya. Aku pulang ya!" dia tersenyum lebar dan melangkah ke pintu depan.
"Oh ya, pakailah sandal baru itu."
"Baik! Terima kasih lagi..! Aku berhutang banyak pada kalian."
"Hahaha.. Pergilah. Hati-hati di jalan! Dadah!"
"Hati-hati nak." ucap ibu gadis penjual rokok.
"Dadah!", sambil berlari pergi di malam hari yang dingin, dia sekarang bersemangat, tak lagi kedinginan dan kelaparan hingga mati beku. Dan menatap besok pagi dengan keceriaan dan harapan akan kesembuhan ayahnya.

Minggu, 06 April 2014

Tragedi Nol Buku

Tragedi Nol Buku adalah sejenis istilah yang digunakan, karena pemerintah Indonesia tidak mewajibkan putra-putrinya di tingkat sekolah untuk membaca buku-buku, biasanya buku sastra. Detailnya bisa googling dengan keyword yang sama.

Kalau saya baca dari sini: http://satriadharma.com/2014/01/28/tragedi-nol-buku-tragedi-di-dunia-pendidikan-indonesia/

Dipikir-pikir sedih juga, apa pemerintah menganggap membaca itu tidak penting atau bagaimana? Yang diusahakan hanya UN, ujian, dll, sampai-sampai ada iklan di televisi layaknya jualan produk, bahkan kurikulum 2013 juga ada iklannya.

Padahal membaca buku kan penting, membuka wawasan, menambah ilmu, dan segudang manfaat lain yang sering kita dengar. Menurut post di atas mewajibkan membaca buku sastra bukan menciptakan sastrawan, tapi sebagai media untuk cinta membaca. Lalu disebutkan seseorang yang gemar membaca sastra, lalu dari situ berpindah jalur ke bidang ekonomi, namanya Hatta (Mohammad Hatta, BUKAN Hatta Rajasa). Lalu juga seorang yang lain, gemar membaca, lalu berpindah ke sosial politik, namanya Soekarno.

Rabu, 02 April 2014

Frozen

Saya itu suka sekali nonton film, tapi ya memang, tidak pernah nonton on-time saat filmnya sedang tayang atau sedang ramai diperbincangkan, telat nonton, :D
Tapi ini ada film yang cukup baru yang cukup beruntung saya bisa menontonnya beberapa bulan sejak rilisnya (Nov 2013), Frozen.

Film ini diinspirasi dari fairy tale The Snow Queen karangan Hans Christian Andersen. Berarti film ini berdasarkan budaya sekitar Skandinavia.

Film animasi ini sekarang menyalip Toy Story 3 untuk menjadi film animasi dengan penjualan tertinggi of all time! Banyak sekali yang menyukainya, dan saat saya saksikan, wah emang keren sih...

Film ini adalah film yang paling enganging daripada yang lain yang pernah saya tonton, untuk para pecinta film, film ini mungkin bisa mengikat mata kita ke layar, suliiit untuk melepaskannya, mungkin saat emergency. 

Bagi pecinta komedi, film ini sangat lucu, bodor haha, melihat bagaimana kelakuan mereka, lalu Olaf si Manusia Salju, lalu para Troll yang batu-batu bulat, dan yang lainnya.

Bagi pecinta drama, film ini menampilkan drama yang bagus, drama hubungan antara Elsa dan Anna adalah yang menjadi fokus film ini. Tapi ada sedikit drama juga antara Elsa dan Hans, lalu Elsa dan Kristoff.

Bagi pecinta musik, musiknya luar biasa, dan banyak, total durasi untuk musiknya hingga 24 menit. Sepertinya film ini termasuk film musikal. Tapi musik yang paling banyak disukai adalah Let It Go yang dinyanyikan ratu Elsa saat pelariannya, hingga memenangi Academy Award sebagai best original song. Apalagi saat diiringi penampilan Elsa dan sihirnya. Saya yakin, banyak orang yang mengulang-ulang menyaksikan bagian ini. Dan selain lagu ini, yang cukup disukai adalah In Summer yang dinyanyikan Olaf, ditambah aksi Olaf yang kocak. :D. Lagu-lagu di film sepertinya yang memiliki andil besar sehingga film ini bisa menjadi film animasi dengan penjualan terbanyak sekarang.

Film ini akan dibuat lokalisasinya, diterjemahkan ke 41 bahasa (Lion King hanya 15). Hebatnya, tantangan terbesarnya, mencari penyanyi soprano yang mampu menyamai suara hangat Idina Menzel dan rentang suara tiga oktaf dalam bahasa mereka masing-masing! Gebleeeg! Disney ini emang keren!
Btw, ini lagu Let It Go. :)


Dan ini In Summer nya Olaf.




Bagi pecinta animasi, animasinya keren banget!! Dikatakan film ini menggunakan metode gabungan antara Computer Generated Image (CGI) dan gambar hasil tangan. Kalian tau karakter terpenting di film ini? Bukan Elsa, Anna, Kristoff, Olaf, ataupun Troll, tapi salju dan es. Yes it is.

Salju dan es di film ini tidak dibuat dengan main-main. Dikerjakan dengan luar biasa.
Para animator menggunakan aplikasi bernama Matterhorn untuk mensimulasikan lingkungan bersalju hingga
menjadi sangat nyata. Aplikasi ini bisa membuat salju benar-benar seperti salju yang akan hancur bila dilempar ke dinding atau dijatuhkan, atau saat dua bola salju bertabrakan, dan lainnya. Lalu aplikasi Spaces digunakan untuk membuat bagian tubuh Olaf dapat dilepas-lepas dan disusun kembali. Tonic digunakan untuk membuat dan menganimasikan rambut para karakter, rambut Elsa terdiri dari 420.000 helai, padahal helai rambut manusia normal hanya 100.000. Flourish digunakan untuk menganimasikan pergerakan daun dan batang-batang pohon. Snow Batcher digunakan untuk melihat hasil akhir salju seperti saat berjalan di tumpukan salju yang tebal, sehingga bisa menjadikan para karakter berakting natural dengan salju-salju itu.

Untuk video penelitian salju bisa dilihat di bawah ini:



Jumlah character rig film ini adalah 312, dan cloth rig mencapai 245. Dikatakan kalau itu melebihi film Disney sebelumnya. Lima puluh (50!) orang tenaga animator efek dan lighting bekerja sama membuat "one single shot" saat Elsa membuat istana es nya. Membutuhkan waktu 30 jam untuk merender setiap frame nya, dengan 4000 komputer untuk merender setiap satu framenya. Pantas saja film ini luar biasa!

Selain itu, film ini menggunakan teknologi 2D seperti air mancur yang membeku dan motif di lantai.

Total penghargaan yang diterima film ini adalah 60. Semuanya bisa dilihat di sini.

Saat film ini selesai, saya merasa terpisah dengan para karakter itu. Sepertinya film ini sangat hebat sehingga karakter di dalamnya terasa sangat hidup, lalu kami bertemu, lalu berpisah, terutama Elsa. Sama seperti saat saya selesai membaca buku The Diary of Anne Frank. Rasanya ingin masuk ke dalam film.

Tidak akan ada pangeran tampan yang menyelamatkan sang putri (dan ratu) di film ini, tapi hubungan antara dua saudari, Elsa dan Anna. Bosen juga sih ya kalo putri diselamatkan pangeran lagi, dan lagi.

Elsa menjadi tokoh favorit saya di film ini, dia yang paling menarik, yang rasanya membutuhkan pertolongan (terutama saat Elsa duduk di dalam kamarnya yang membeku dengan butiran salju yang melayang tak bergerak), yang rasanya dia wanita yang kuat walaupun dia membuat keputusan yang salah karena ketakutannya. Tapi dia terlihat dewasa dibanding karakter lain yang kira-kira sepantaran dengannya, juga dengan Disney Princess lain (padahal belum nonton semua), of course, she's a queen! Dan juga, dia terasa misterius.

Tapi awalnya saya merasa ada kelemahan di film ini, yaitu di bagian story. Kurang hadirnya antagonis yang benar-benar berpengaruh, Hans dan Duke of Weselton dan kedua anak buahnya pun tidak terlalu terasa. Hanya seperti bumbu cabe di dalam mi instan, kurang. Tapi, ternyata, memang begitu, karena yang saya sadari adalah film ini lebih tentang gejolak batin Elsa, yang terlihat sudah dimulai dari awal film. Awal film ini dibuat, Elsa akan dijadikan tokoh jahat dengan sifat negatif, lalu Anna akan mengalahkannya dengan cinta. Tapi diganti dengan Elsa dikendalikan oleh ketakutan, dan tetap Anna mengalahkannya dengan cinta.

Disebutkan film ini akan disaksikan oleh banyak generasi, pernyataan itu menurut saya akan terwujud. Yes, film ini bagus banget, menjadikan postingan review film ini paling panjang daripada postingan review film yang pernah saya buat. Hahaha...

Bagi yang belum nonton, cepetan nonton! Pasti kalian langsung download mp3 Let It Go! Terus nonton lagi! :D

Salam..